titik tolak perubahanInti dari sebuah perubahan adalah bagaimana membangun manusia, dimana setiap manusia menjadi unsur dari perubahan itu sendiri. Sehingga titik tolak perubahan dilandasi dengan bagaimana manusia kembali dibangun. Membangun kembali manusia dimulai dengan mengubah paradigma dan pola pikir, begitu pula seperti apa yang dilakukan oleh Rasulullah.

Bagaimana ketika itu Allah melalui Rasul-Nya tidak serta merta menurunkan semua wahyu secara bersamaan dalam suatu waktu, namun bertahap, berangsur-angsur selama hampir 23 tahun. Salah satu tujuannya agar perintah dan ajaran agama ini mengubah manusia sedikit demi sedikit sehingga manusia bisa menerima ajaran ini, dan memahaminya pelan-pelan.

Gerakan Islam selama ini masih memiliki misi yang pendek, pragmatis dan transaksional. Padahal yang kita butuhkan adalah pemimpin yang trans-formasional. Oleh karena itu seorang mukmin harus mengubah paragidma ini dengan menjadi pemimpin bangsa yang membawa perubahan. Saat ini pun para seorang mukmin yang juga seorang da’i tidak memulai semua itu dari nol, namun melanjutkan estafet-estafet yang telah lebih dahulu dibawa. Terdapat tiga hal yang harus dipenuhi secara stimulan untuk membawa perubahan, yakni amal (charity), pemberdayaan (empo-werment), dan kebijakan (policy). Apabila ketiga aspek ini dapat terakomodir dengan baik maka perubahan itu semakin dekat.

Kesadaran diri merupakan elemen utama dalam membangun manusia. Bagaimana setiap individu menentukan arah perubahan itu sendiri. Elemen yang harus dibangun dari kesadaran diri ini adalah tanggung jawab. Tanggung jawab terhadap hakikat penciptaan manusia itu sendiri, bahwa adanya manusia di muka bumi ini pasti mempunyai tujuan besar dan mulia. Bagaimana manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah dan sebagai khalifah dimuka bumi ini.

Ketika kesadaran diri sudah terbangun maka berikutnya kita harus mempunyai kapasitas dan ke-mampuan diri. Kapasitas dan kemampuan diri inilah yang akan menjadi energi pendorong perubahan, dengan keduanya perubahan akan semakin cepat terakselerasi. Seorang yang ingin melakukan perubahan baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain harus mempunyai kapasitas dan kemampuan diri yang memadai, apalagi dengan adanya tantangan sekaligus tuntutan di dunia sekarang ini.

Rasulullah memulai perubahan masyarakat Arab ketika itu dari dirinya sendiri, Muhammad muda ketika itu dikenal dengan gelar Al-Amin-nya dan segala yang baik dalam dirinya. Dengan nilai mendasar yang dimi-likinya Ia mulai merekonstruksi nilai yang ada pada masyarakat Mekkah ketika itu. Secara perlahan nilai-nilai luhur Islam mulai menyebar ke seantero Mekkah, bahkan hingga Madinah dan beberapa wilayah Arab lainnya. Perubahan yang memerlukan pengorbanan besar dan waktu yang tidak sebentar untuk merekons-truksi nilai, sikap dan orientasi bangsa Arab kala itu.

Rekonstruksi nilai, sikap, pengetahuan dan ori-entasi juga demi mendapat ridha dan keberkahan dari Allah, dan agar terindar dari azabnya.

Setiap dari kita memiliki kewajiban untuk senan-tiasa mengerahkan usaha teroptimalnya untuk men-dayagunakan setiap potensi diri menuju perubahan yang lebih baik setiap harinya. Titik-tolak (mabda’) perubahan harus dimulai dari pembangunan kembali diri manusia (self-reconstruction) yang dilandasi kesadaran diri (self-awareness) dan ditopang oleh kemampuan diri (self-capability) yang memadai. Ini menuntut rekonstruksi nilai, sikap, pengetahuan, dan orientasi atas realitas yang dihadapi.

Bersambung ke Rekonstruksi Kepemimpinan Profetik

Save

Save

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *