Studi Literatur Tantangan Peradaban Islam, Menurut kamus besar bahasa Indonesia, Peradaban diartikan sebagai (1) kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) lahir batin: bangsa-bangsa di dunia ini tidak sama tingkatnya; (2) hal yang me-nyangkut sopan santun, budi bahasa, dan kebudayaan suatu bangsa.

Teori    benturan    peradaban (Clash     of Civilization) yang diusung oleh Samuel P. Huntington hingga kini masih sebagai diskursus yang menarik untuk diperbincangkan. Bahkan teori ini menjadi rujukan atas kebijakan yang diambil oleh negara-negara Adikuasa seperti Amerika Serikat. Benturan peradaban yang digagas oleh Huntington diakibatkan oleh perbedaan identitas budaya dan agama pasca terjadinya Perang dingin. Huntington mengemukakan budaya dan agama-lah yang kerapkali menyebabkan terjadinya konflik.

Dalam teorinya, Huntington membagi peradaban hari ini menjadi beberapa pembagian. Pembagian yang dilakukan oleh Huntington dilandasi oleh klasifikasi budaya dan agama di dunia hari ini. Setidaknya ada sepuluh klasifikasi peradaban yang diidentifikasi oleh Huntington. Pembagian yang dilakukan oleh Huntington diantaranya adalah Peradaban Barat, Peradaban Islam, Peradaban Orthodoks, Peradaban Hindu, Peradaban Buddha, Peradaban Sino, Peradaban Jepang, Peradaban Afrika, Peradaban Amerika Latin, dan Peradaban Independen.

Tantangan Peradaban Islam

Islam yang didefinisikan sebagai sebuah peradaban oleh Huntington kerapkali menjadi objek yang dipertentangkan, atau bahkan dipersalahkan. Sampai munculnya fenomena Islamophobia yang menyeruak di benua Eropa dan Amerika, menjadi salah satu indikator dampak negatif dari teori yang dikemukakan oleh Huntington. Islamophobia pun dihadirkan sebagai bentuk rasa sakit hati peradaban barat terhadap fakta pahit perang salib dan keruntuhan Konstantinopel saat itu oleh Sultan Muhammad ke-II (al-Fatih).

Ketika berbicara tentang peradaban Islam, lantas apa sesungguhnya misi yang dibawa oleh peradaban Islam? Allah telah menggariskan di dalam Al-Qur’an Ayat ke-30 pada Surat Al-Baqarah bahwa, tujuan diturunkannya manusia di muka bumi adalah untuk menjadi khalifah. Hal ini berimplikasi pada tujuan atau misi dari peradaban Islam itu sendiri yang memiliki misi khalifatu fil ardhl pula, yakni menjaga bumi ini dari kerusakan. Adalah misi peradaban Islam pada akhirnya untuk membawa keteraturan bagi bumi dan seisinya.

Kemudian muncul pertanyaan selanjutnya. Dengan cara apa peradaban Islam mampu untuk membuat keteraturan di muka bumi? Allah menjawab pada ayat ke 157 pada surat Al-A’raf bahwa metodologi yang digunakan untuk menjaga keteraturan di muka bumi adalah dengan mengajak manusia untuk berbuat ma’ruf dan meninggalkan kemungkaran serta menghalalkan yang baik dan mengharamkan yang buruk. Dengan begitu, Allah telah memberikan panduan bagi umat Islam di dalam naungan peradaban Islam untuk memikul amanah yang begitu luar biasa.

Berkaca pada seperti apa idealnya peradaban Islam dibangun dan berpengaruh di dalam percaturan peradaban-peradaban di dunia, maka kita dapat memetakan beberapa fase dalam perkembangan peradaban Islam. Sederhananya kita dapat membagi fase Peradaban Islam dalam tiga tahapan. Tahapan tersebut diantaranya adalah:

  1. Tahapan pertama adalah masa sebelum kehadiran Rasulullah hingga Rasulullah hijrah ke Madinah.
  2. Tahapan yang kedua adalah saat Rasulullah hijrah ke Madinah hingga masa khalifah rasyidah.
  3. Tahapan yang ketiga, yakni sepeninggal Khalifah Rasyidah hingga kini.

Sungguh mulia memang jika peradaban Islam yang begitu Ideal dapat kembali tegak berdiri. Namun, kita tidak bisa menutup sebelah mata, bahwa kita hidup di hari ini. Hari ini adalah hari dimana jauh jarak dan waktu dari sumber kebenaran dan telah banyak distorsi-distorsi di tengah-tengah kehidupan ummat. Ummat Islam kini telah banyak teralihkan kepada penghambaan duniawi yang faktanya membuat ummat semakin berada dalam keterpurukan.

Jatuhnya khilafah Ustmaniyah pada tahun 1924 M menjadi peristiwa pelecut semangat bagi ummat Islam yang saat itu tergabung di dalam kelompok-kelompok gerakan Islam. Semenjak saat itu, barulah seakan kesadaran untuk membangun tata kelola yang berlandaskan dustur-dustur Ilahiah kembali bangkit.

Jika ditelisik, apakah yang sebenarnya menjadi titik kritis atau urgensi peradaban Islam bagi ummat Islam itu sendiri. Perlukah suatu peradaban Islam itu ada dalam kehidupan seorang Muslim? Ini merupakan pertanyaan yang sesungguhnya tidak perlu ditanyakan kembali. Akan tetapi perlu penjelasan terkait seberapa penting hadirnya bangunan peradaban dalam kehidupan seorang Muslim. Jika meninjau ilmu tentang maqashid syariah, maka jelaslah hadirnya atau adanya syariat Islam di dunia ini ada untuk lima hal. Hal-hal tersebut adalah untuk menjaga agama itu sendiri, menjaga diri, menjaga akal, menjaga harta, dan menjaga keturunan. Dari sana semakin tergambar bahwa kebutuhan syariat Islam yang berujung pada terbangunnya peradaban Islam menjadi keperluan dalam setiap pribadi Muslim.

Hari ini peradaban Islam terwakili oleh negara-negara berhaluan Islam. Negara-negara ini tersebar di kawasan Asia, bagian utara Afrika dan sebagian benua Eropa. Pengaruh terbesar dalam dinamika percaturan peradaban-peradaban besar hari ini diantaranya adalah pada latar belakang politik dan ekonomi.

Di antara dua latar belakang tersebut, ada keterkaitan diantaranya. Ada perbedaan pendapat dalam penentuan mana yang lebih dahulu mempengaruhi yang lain. Beberapa ahli menyebutkan politik digunakan untuk kepentingan ekonomi. Para ahli yang lain menyebutkan ekonomi digunakan untuk kepentingan politik. Perbedaan pendapat yang terjadi menan-dakan keterkaitan antara politik dan ekonomi adalah relatif.

Menjadi suatu kepastian, setiap peradaban pasti bergerak menuju masa depan. Bergeraknya peradaban-peradaban di dunia menuju masa depan mengikuti singgungan dan gesekan antara peradaban satu dengan yang lain. Peradaban yang kuat maka ia akan mampu mengarahkan gerak peradaban yang lain, bisa dengan resultan yang sama sehingga antar peradaban saling bergerak harmonis ataupun berlainan sehingga menghambat berkembangnya suatu peradaban.

Sebagai umat Islam, kita wajib meyakini bahwa pada akhirnya nanti (mendekati hari akhir) Islam dengan risalahnya yang mulia akan kembali berjaya diantara peradaban-peradaban lain di dunia. Hanya saja yang masih menjadi misteri adalah kapan masa kejayaan itu kembali hadir. Namun, di balik itu semua tetap sejak hari ini pun ikhtiar harus tetap ditegakkan. Usaha-usaha untuk membangun kembali kejayaan peradaban Islam harus sudah digencarkan.

Bersambung ke Keniscayaan Perubahan

Save

Save

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *