“Jatuh bangunnya segala sesuatu, bergantung pada pemimpin”. Demikianlah pernyataan John C. Maxwell, seorang pakar kepemimpinan dunia. Pernyataan ini mengandung arti bahwa sebuah organisasi dalam berbagai skala dan bentuk–mulai dari keluarga, sekolah, komunitas tertentu, hingga bangsa dan negara– sangat bergantung pada pemimpin. Jika pemimpinnya baik, maka dapat dipastikan bahwa organisasi yang dipimpinnya akan berjalan dengan baik. Sebaliknya, jika pemimpinnya buruk, maka organisasi yang dipimpin-nya akan mengalami kemunduran; dan bukan tidak mungkin akan mengalami kejatuhan. Jelaslah, bahwa jatuh bangunnya segala sesuatu, bergantung pada pemimpin.

Rekonstruksi makna pemimpin merupakan suatu langkah going back to basic; dimana kita mem-benahi hal-hal yang paling mendasar dalam konsep kepemimpinan, yaitu “Apa itu Pemimpin?”. Rekons-truksi makna pemimpin perlu mendapat perhatian serius karena merupakan tahap awal dalam upaya membenahi kondisi pemimpin bangsa yang sedemikian ruwet.

Rekonstruksi Kepemimpinan Profetik

Jika pemahaman dan penghayatan seseorang terhadap makna pemimpin sudah benar, maka niscaya wujud kepemimpinannya pun akan benar. Bukankah apa yang ada “di dalam diri” seseorang akan terwujud dalam tampak luarnya? Sederhana saja; apa yang dipikirkan dan dirasakan seseorang, akan terwujud dalam perkataan dan perbuatannya. Kepemimpinan profetik dapat disebut sebagai konsep kepemimpinan terbaik. Di samping karena menggunakan landasan tauhid, kepemimpinan profetik memiliki cakupan dan instrumen yang lebih luas dan komprehensif dibanding konsep-konsep kepemimpinan lainnya. Membahas tentang kepemimpinan profetik, hendaknya kita harus mengetahui secara seksama mengenai istilah profetik di sisi Allah. Al-Quran memberikan pandangan tersendiri melalui QS Ali-Imran 3: 110 sebagai berikut:

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”

Menurut Kuntowijoyo, terdapat empat hal yang tersirat dalam ayat tersebut, yaitu konsep umat terbaik, aktivisme sejarah, pentingnya kesadaran dan etika profetik. Pertama, umat manusia akan menjadi umat terbaik, tatkala mampu melaksanakan “pengabdian kemanusiaan” bagi umat manusia (civil society); Kedua, mengemban misi kemanusiaan, berarti berbuat untuk manusia dalam bentuk aktivisme sosial dan membentuk sejarah; Ketiga, kesadaran ilahiah yakni suatu bentuk “keterpanggilan etis” untuk kemanusiaan yang dilandasi oleh spirit teologis; Keempat, etika profetik ini berlaku umum, yaitu menyeru kebaikan, mencegah kemungkaran dan beriman kepada Allah (transendensi)

Bersambung ke Mengerangkai Kepemimpinan Profetik

Save

Save

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *