Realitas yang DihadapiFenomena yang terjadi sekarang ini umat Islam tak lagi memegang teguh ajaran agamanya, cahaya Islam justru tertutupi oleh perilaku umat Islam itu sendiri. Banyak yang tak menyadari pentingnya Islam sebagai agama, bahkan tak hanya itu, Islam harus dijadikan manhaj yang menjadi landasan setiap tindak perilaku umat Islam. Islam yang syumul (menyeluruh)  adalah sebenar-benarnya manhaj, dimana segala aspek berada didalamnya.

Bangsa Barat berpendapat bahwa bukanlah komunis yang menjadi ancaman mereka, tapi ancaman sesungguhnya adalah Islam. Umat Islam mempunyai kepribadian dan karakter yang kuat. Maka dari itu mereka berupaya untuk menghancurkan kepribadian tersebut seperti apa yang dilakukannya sekarang.

Dunia kita sekarang dipilari oleh negara-negara Eropa. Bangsa Barat itu layaknya raja dunia, mereka melakukan berbagai rekayasa untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Jerman dan beberapa negara lainnya bahkan bertujuan untuk bisa mengubah struktur politik dunia. Sejarah ini dimulai dari perang dunia pertama dan kedua. Dimana Amerika dan Uni Soviet mengubah struktur politik internasional menjadi pemerintahan bipolar (blok barat dan blok timur). Sebuah perang atau penjajahan merupakan kebalikan dari peradaban yang maju. Oleh karena itu sebuah negara yang masih berkembang lebih baik memikirkan bagaimana memaksimalkan potensi dalam negeri ini, meski jangan pula melupakan aspek ketahanan.

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS Ar-Ra’d 13: 11)

Inilah realitas yang harus dihadapi hari ini, jika kita tidak mengubah keadaan ini maka akan selamanya seperti ini atau bahkan jauh lebih buruk dari apa yang sudah terjadi hingga sekarang. Oleh karena itu seharus-nya ada kesadaran diri yang tumbuh dalam diri setiap manusia, kesadaran diri untuk bertransformasi dan menggerakkan perubahan. Meski sebuah perubahan bermula dari diri sendiri, namun tidak akan bisa dilakukan dengan seorang diri. Oleh karena itu sebuah perubahan yang berorientasi kepada Rabbaniyah akan senantiasa mengajak, menyadarkan dan membangun manusia, yang dilakukan secara kolektif. Pembangunan individu sebagai titik tolak perubahan merupakan konsekuensi hari ini untuk menghadapi realitas yang ada.

Pemahaman akan nilai penting perubahan menuju pribadi yang lebih baik setiap hari telah sama-sama kita pahami. Tapi tak cukup berhenti menjawab pertanyaan mengapa kita harus berubah, tetapi juga bagaimana caranya agar perubahan itu bisa diwujudkan secara konsisten setiap harinya. Sebaik apapun tujuan perubahan yang ingin kita raih, jika tidak didukung oleh metode yang tepat, tujuan tersebut sangat sulit untuk dapat tercapai dengan baik. Sebuah metode akan mempengaruhi sampai sejauh mana akhlak baik yang dibangun.

Penyakit akhlak yang saat ini sedang banyak bermunculan ialah :

  • Mengabaikan waktu
  • membatalkan janji
  • Mengabaikan hal-hal terkecil
  • Terjebak dengan kata “biasanya kita begini”
  • Semangat ala kadarnya
  • Mempertentangkan prestasi, kesholehan pribadi, aktivitas sosial
    dan relasi personal

Kesalahpahaman kita terhadap waktu karena pe-mahaman kita tentang profesionalisme masih dangkal. Karena sesungguhnya Profesionalisme itu adalah di-mana kita disiplin waktu dan komitmen untuk men-capai itu apapun dan dengan cara apapun itu. Itulah yang sebenarnya menjadi penyemangat orang-orang yang tetap istiqomah dijalan Allah SWT. Fenomena lain di negeri khatulistiwa yang menderita ini adalah adanya perilaku kegalauan dimana ketika orang-orang gagal dalam mencapai target ia kemudian menangis dan menceritakan kegagalan mereka kepada orang lain yang justru tidak bermanfaat. Padahal untuk menjadi orang sukses itu tidak berlama-lama menikmati kegagalan.

Kebanyakan dari kita mengabaikan kedisiplinan yang merupakan kunci sukses untuk menjadi generasi yang produktif. Ditambah lagi dengan perencanaan yang matang pemanfatan waktu yang efisien dan efektif. Dan salah satu yang bisa dijadikan sebagai acuan adalah finansial. Sungguh kasihan negeri ini yang begitu berpenyakitan sementara kesejahteraan masih belum terlihat sementara anak cucu kita terus mem-butuhkan hasil kerja dimana zaman kita hidup.

Setiap dari kita memiliki kewajiban untuk senan-tiasa mengerahkan usaha teroptimalnya untuk men-dayagunakan setiap potensi diri menuju perubahan yang lebih baik setiap harinya. Titik-tolak (mabda’) perubahan harus dimulai dari pembangunan kembali diri manusia (self-reconstruction) yang dilandasi kesadar-an diri (self-awareness) dan ditopang oleh kemampuan diri (self-capability) yang memadai. Ini menuntut rekons-truksi nilai, sikap, pengetahuan, dan orientasi atas realitas yang dihadapi.

Lantas, apa landasan yang harus kita gunakan dalam menentukan perubahan, atau dengan kata lain pada hal apa atau pada siapa yang layak kita jadikan pijakan atas setiap perubahan yang kita lakukan. Landasan atau pijakan ini berkonsekuensi bahwa setiap perubahan yang kita rancang dan lakukan harus sesuai, searah dan tidak bertentangan dengan pijakan tadi. Misalnya, Negara Indonesia yang menggunakan UUD 1945 sebagai konstitusi dasar dalam kehidupan ber-bangsa dan bernegara, maka setiap perubahan kebijakan pemerintah, perumusan aturan baru bagi masyarakat harus sesuai dengan nilai-nilai UUD 1945 dan tidak boleh bertentangan dengannya.

Kali ini kita kembali lagi pada kata-kata “Innallaha” QS Ar-Ra’d 13: 11. Kata tersebut menun-jukkan kaidah bahwa Allah SWT senantiasa terlibat dalam setiap proses perubahan, bahkan sebagai faktor penentu (determinan). Kehancuran bangsa-bangsa di bidang ekonomi dan politik tak lepas dari faktor kehen-dak Allah dengan segala hubungan kausalitasnya.

Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu), telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir dibawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain” (QS Al-An’am 6: 6).
Dalam ayat lain: “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa” (QS Al-An’am 6: 44). 

Begitupun sebaliknya, bangunnya sebuah bangsa dari kehancuran tidak lepas dari keterlibatan dan pertolongan Allah SWT.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS Al-A’raf 7: 96).

Konsekuensinya, setiap peristiwa sejarah dan proses perubahan harus dilihat dari dua perspektif secara bersamaan, yaitu perspektif kausalitas material dan perspektif kausalitas transedental. Kausalitas material adalah kompleksitas interaksi antar unsur-unsur basyariah (kemanusiaan) berupa indera, anggota tubuh, akal dan hati dalam kepentingan kolektif ummat manusia secara material, teknis dan organisasi. Kausa-litas transedental adalah kompleksitas interaksi antar unsur-unsur basyariah dengan unsur-unsur Ilahiyah, dimana nilai “kebenaran hakiki” dan “jalan hidup yang benar” diletakkan bagi manusia.

Manusia yang hanya percaya pada kausalitas material akan mudah terjebak dalam pusaran perubah-an yang absurd dan mudah mengalami frustrasi, manakala unsur-unsur basyariahnya tidak mampu lagi berhadapan dengan realitas. Sebaliknya, daya tahan peradaban akan terus eksis, ketika terjadi perpaduan serasi antara unsur basyariah dengan unsur Ilahiyah. “Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa, ‘sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul’. Musa menjawab, “Sekali-kali tidak akan tersusul, sesungguhnya Tuhan-ku besertaku, kelak Dia akan memberikan petunjuk kepadaku.” (QS Asy-Syuara 26: 61-62). Sederhananya, kita sebagai manusia dalam melaku- kan perubahan dalam hal apapun haruslah berpijak pada kaidah-kaidah yang telah dibuat oleh Allah SWT.

Nabi Muhammad Saw dalam rangka mem-bangun kembali masyarakat Muslim baru di kota Madi-nah mendasarkan kekuatannya pada 4 hal yakni :

Ini menunjukkan bahwa Rasul menjunjung prinsip perubahan dari dalam. Ketika mulai memba-ngun peradaban Islam dalam sekup kecil, Rasul memu-lainya dengan menetapkan tujuan dan mendistribusikan tujuan itu kepada semua umat Islam saat itu sehingga semua orang merasa memiliki visi tersebut. Kesatuan pandangan akan arah tujuan inipun ditunjang oleh solidaritas Muslim yang begitu erat. Kapasitas umat Muslim pun menjadi kunci utama bagi Rasul, barang-kali ini berdasarkan pemahaman bahwa perubahan menuju peradaban Islam yang mulia tidak mungkin dilakukan oleh orang-orang yang kapasitasnya lemah, ibaratnya bagaimana ia mau berpikir tentang perjuang-an dan perubahan, jika urusan perut saja masih ber-masalah.

Maka dari itu kemandirian ekonomi juga men-jadi kekuatan utama Rasul dalam membangun kekuatan Islam saat itu. Selanjutnya, kebebasan untuk melakukan perubahan juga diupayakan Rasul, karena bagaimana-pun jika saja umat Muslim di Madinah masih tertindas dan terintimidasi, tentu pembangunan masyarakat tidak mungkin dilakukan. Umat Muslim harus fokus dulu menangani intimidasi dan tekanan seperti saat di Mekkah. Tetapi, untungnya dengan kecerdasan Rasul menghasilkan perjanjian Madinah sehingga umat Islam saat itu dapat berdaulat penuh menjalankan akidahnya.

Terakhir, yang tidak kalah penting untuk me-mastikan keberhasilan sebuah perubahan ialah bagai-mana cara kita untuk memastikan setiap perubahan yang kita rancang dan kita lakukan adalah perubahan yang mengarah pada kebaikan. Loh, bukannya itu sudah asumsi ya? Belum tentu sebenarnya. Kenapa belum tentu? Karena secara fitrahwi setiap manusia itu dinamis pikiran dan hatinya. Ada banyak faktor eksternal yang dapat tiba-tiba menahan kita melakukan perubahan atau bahkan sebaliknya membuat kita menyerah melakukan perubahan.

Dalam Al-Qur’an, Allah telah menyebutkan “sungguh telah kami uji orang-orang sebelum mereka, agar Allah mengetahui orang yang jujur dan mengetahui orang yang dusta” (QS. Al Ankabut 29: 3), yang artinya Allah SWT menguji kita (para hamba-Nya) dengan berbagai jenis cobaan, agar nampak hakikat dari keimanan kita sebenarnya, sehingga setelah itu akan diberikan ganjar-an dari amalan tesebut sesuai kadarnya. Dalam melaku-kan perubahan setiap hari kita akan dihadapkan dengan berbagai ujian, karenanya penting bagi kita untuk senantiasa mengoreksi diri, memastikan apakah peri-laku kita hari ini masih dalam proses perubahan menuju kebaikan ataukah ada dosa kecil yang telah kita lakukan namun kita abaikan.

Next Article Bab Rekonstruksi Kepemimpinan Profetik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *