Prinsip dan Arah Gerak Perubahan – Perubahan-perubahan yang ada dan melingkupi setiap yang berwujud memiliki prinsip dalam keber-adaannya. Prinsip yang tidak bisa tidak berlaku pada setiap perubahan atas kehendak dan izin dari-Nya.

prinsip dan arah perubahanPada setiap perubahan, sesungguhnya yang ber-ubah dan terus berkembang adalah gejala atau feno-mena dari perubahan itu sendiri. Gejala atau fenomena tersebut, terjadi sebagai dampak dari proses interaksi dan kreasi antar manusia yang melibatkan aspek material, teknis dan organisatoris.

Aspek material dalam konteks interaksi yang menyebabkan berkembangnya gejala perubahan, berarti segala sesuatu yang berhubungan dengan aspek fisik dalam diri manusia. Aspek-aspek fisik ini yang mendukung terjadinya interaksi.

Aspek teknis dalam konteks interaksi yang menyebabkan berkembangnya gejala perubahan, berarti segala sesuatu yang berhubungan dengan aspek ruang dan waktu. Interaksi terjadi pasti dalam koridor ruang dan waktu. Tidaklah mungkin interaksi terjadi di ruang hampa.

Sedangkan aspek organisatoris dalam konteks interaksi yang menyebabkan berkembangnya gejala perubahan, berarti segala sesuatu yang berhubungan dengan konstruksi kejadian dan peristiwa. Disana terdapat sebab akibat serta aksi dan reaksi dari manusia sebagai subjek yang berubah.

Tiap-tiap perubahan akan memiliki tanda-tanda atau gejala yang mengawalinya. Seperti pada penjelasan sebelumnya, bahwa yang berkembang pada setiap perubahan adalah gejala dari perubahan tersebut.

Menurut bahasa, fenomena berasal dari bahasa Yunani phainomenon, yang dalam bahasa Indonesia bisa berarti “apa yang terlihat”, “hal-hal yang dapat disaksikan dengan pancaindera dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilimiah. Dengan demikian fenomena adalah hasil akhir dari beberapa gejala-gejala yang telah terjadi.

Fenomena adalah bentuk akhir dari sekian gejala-gejala yang berlangsung. Misalnya ada teman kita yang meng-alami perubahan perilaku menjadi lebih religius, dari yang tidak pernah shalat berjamaah akhirnya setiap hari ia tekun datang ke masjid untuk shalat berjama’ah.

Perubahan perilaku berupa tekun shalat berjama’ah ini adalah sebuah fenomena perubahan. Dan fenomena ini dapat dilihat dari gejala-gejala berupa intensitas yang berulang, dari awalnya tidak pernah, menjadi pernah, kemudian menjadi berulang, dan menjadi terus setiap hari datang ke masjid. Ketika gejala-gejala kita potret dengan lengkap, baru saat itu kita bisa menjelaskan fenomena sesungguhnya yang terjadi. Artinya dalam melihat, menilai dan menjelaskan sebuah fenomena, kita perlu memotret gejala-gejala secara utuh dan integral hingga menghasilkan kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan nantinya.

Dinamika perubahan itu pada hakikatnya adalah suatu hal yang tetap, ia adalah refleksi dari akal dan jiwa manusia. Perubahan atau dinamika pada manusia akan mencermikan kondisi akal dan jiwa daripada manusia itu sendiri.

Perubahan atau dinamika dapat juga dimaknai sebagai perwujudan dari hukum kausalitas atau sebab akibat. Hukum kausalitas yang terwujud dalam perubahan dapat kita pandang dalam dua perspektif. Perspektif yang dimaksud yakni perspektif material dan transendental.

Perspektif material maksudnya adalah bahwa setiap perubahan dukung oleh hukum kausalitas mate-rial atau keduniawian. Ada sebab ada akibat yang melingkupi sebuah perubahan. Perubahan tidak akan terjadi tanpa adanya sebab.

Sedangkan perspektif transendental maknanya adalah setiap perubahan yang terjadi terdapat faktor ilahiah yang turut serta mempengaruhi terjadinya suatu perubahan. Perubahan yang terjadi di dunia ini tidak semata-mata dipengaruhi oleh hukum kausalitas yang terjadi, melainkan izin Allah lah yang menentukan perubahan tersebut terjadi atau tidak. Karena mudah saja bagi Allah untuk menggagalkan suatu hasil ketika prosesnya sudah sedemikian rupa sempurna, begitu juga sebaliknya. Perubahan sesuatu dari satu bentuk ke bentuk lainnya seperti yang telah dibahas pada bagian sebelum-nya, pastilah memiliki arah. Entah arah menuju kebaik-an maupun sebaliknya.

Sebagaimana Allah dalam Qur’an Surat Asy-Syams ayat 7-10:

“Dan demi jiwa dan yang Menyem-purnakannya, lalu Tuhan memperkenalkan kepada setiap jiwa, keburukan dan kebaikannya. Sungguh beruntunglah orang yang dapat mensucikan jiwa itu, dan merugilah orang yang mengotorkannya.”

Hikmah yang dapat kita ambil dari ayat tersebut adalah bahwa Allah telah menyediakan dua jalan bagi manusia, jalan ke-fujur-an dan jalan ke-taqwa-an. Pada titik ini, manusia yang selanjutnya memilih satu diantara jalan tersebut. Sudah barang tentu, setiap jalan memiliki arah yang dituju. Jika memilih jalan ke-fujur-an maka akan mengarah pada kemalangan akhirat, dan jika yang kita pilih adalah jalan ke-taqwa-an maka ia akan mengarah pada kebahagiaan abadi, yakni surga-Nya yang kekal.

Slogan “change or die” menurut perspektif Islam dapat memiliki nilai kebenaran ketika seorang mukmin memaknai perubahan sebagai salah satu cara untuk keluar dari status quo. Islam sendiri mengajarkan untuk berhijrah. Hijrah dalam arti fisik dan dalam arti non fisik.

Status quo merupakan ancaman dari perubahan itu sendiri, bahayanya ketika terus berada pada safe zone orang akan semakin malas untuk berubah, karena perubahan itu membuat dirinya menghadapi berbagai ketidakmungkinan dan resiko. Secara fitrahwi manusia berusaha mencari rasa aman, dan keluar dari safe zone di satu sisi membuat manusia kehilangan rasa aman tersebut.

Keluar dari safe zone juga menghadapkan diri kita pada sebuah ketidakpastian. Keberanian atau kerelaan menghadapi ketidakpastian ini berbeda. Sebab itu gagasan perubahan seringkali mendapat perlawanan baik itu ketakutan yang muncul dari dalam diri kita atau dari orang-orang sekitar.

Menghadapi status quo berupa safe zone ini kita harus mengandalkan kejelasan visi. Yang dimkasud dengan visi disini adalah gambaran tentang masa depan yang lebih baik, lebih berhasil, aktraktif, namun realistik. Visi akan menunjukkan arah ke mana kita mesti melaju. Visi yang baik akan menumbuhkan inspirasi, menguatkan motivasi, menggugah dan menciptakan makna dan ketentraman bagi diri dan lingkungan.

Bersambung ke Titik Tolak Perubahan

Save

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *