Peran Sebagai Pembebas Peradaban – Dalam melakukan rekonstruksi makna kepe-mimpinan sebagai pembebas peradaban kita mengkaji salah satu sosok paling sukses dalam merealisasikannya yakni pada diri Rasulullah Saw. Kita juga bisa melihat peran Nabi-Nabi sebelum Rasul, apa yang mereka lakukan dan syiarkan kepada masyarakatnya dalam rangka pembebasan peradaban.

Dalam menegakkan peradaban manusia, sejauh yang kita kenal, para nabi dan rasul bertugas sebagai pembawa risalah Ilahi–menjadi titik sentral dari per-gerakan yang begitu penting demi (menuju) kebaikan dan kemaslahatan manusia. Gerakannya bertujuan membebaskan masyarakat dari penindasan, kekejaman, diskriminasi, dan tindakan yang melampaui batas, mengganggu dan merusak tatanan masyarakat.

Rasulullah Saw. datang ke tengah umat manusia dengan mengumandangkan kalimat “Lâ ilâha illa Allâh” (tiada tuhan selain Allah); sebagai pernyataan utama dari pesan kenabian (kerasulan), yang merupakan lan-dasan paling penting bagi pembebasan dan kemerdeka-an manusia. Karena itu makna kepemimpinan profetik adalah kepemimpinan yang membebaskan pengham-baan kepada manusia menuju penghambaan hanya kepada Allah semata.

Kehidupan masyarakat Arab secara sosiopolitis mencerminkan kehidupan yang rendah. Perbudakan, mabuk, perzinahan, eksploitasi ekonomi dan perang antar suku menjadi karakter perilaku mereka. Dari aspek kepercayaan atau agama, orang-orang Arab Mekkah adalah penyembah berhala. Keberhasilan rasul dalam memenangkan kepercayaan bangsa Arab pada waktu yang relatif singkat, kemampuannya dalam memodifikasi jalan hidup orang-orang Arab, meng-adopsi sebagian dari nilai dan budaya orang pra-Islam, untuk tatanan moral Islam menunjukkan keberhasilan kepemimpinan rasul dalam membebaskan peradaban bangsa Arab saat itu.

Gagasan dan cita-cita membebaskan masyarakat dari penindasan, kekejaman, diskriminasi, dan tindakan yang melampaui batas dapat disebut sebagai beberapa bentuk perwujudan “tauhid”. Nabi Muhammad Saw, sambil mengarahkan para pendengarnya pada tauhid, senantiasa mengungkap pesan-pesan yang mereka jadikan slogan itu, dengan mengejawantahkan tauhid dalam kenyataan (yakni, dalam perilaku sehari-hari). Dalam garis perjuangan Nabi Muhammad Saw., setiap ajakan harus bisa dipraktikkan dan sang penyeru harus mewujudkannya (lebih dahulu) dalam tingkah laku.

Bentuk yang terkandung dalam setiap seruan agama Allah ialah perlawanan terhadap sifat dan sikap mereka yang melampaui batas, juga terhadap kekuatan atau kekayaan yang diperoleh secara curang, selain perlawanan secara mendasar terhadap segala bentuk diskriminasi sosial. Dengan menggunakan ketauhidan dalam menimbang permasalahan, berarti kita berhadap-an dengan simbol-simbol kebesaran dan kemuliaan yang ditempatkan secara keliru dalam masyarakat.

Simbol-simbol itu digunakan oleh sebagian orang untuk memanipulasi, membodohi, dan menindas anggota masyarakat yang lain. Jadi, konteks tauhid sesungguhnya bukanlah sekadar urusan pemikiran, atau teori, atau sebagai filsafat, atau suatu ungkapan dan syair indah semata –sebagaimana hal ini telah menjadi sebuah kekeliruan (kesalahkaprahan) yang merata dalam pemahaman masyarakat (umumnya). Tetapi, tauhid adalah asas terpenting bagi manusia untuk melihat keberadaan alam semesta, menyadari posisi diri dan memperbaiki akhlak, di samping keberadaannya sebagai doktrin sosial, ekonomi, dan politik.

Sekarang, jika melalui kepemimpinan beliau yang begitu luar biasa, masyarakat Arab yang saat itu berada pada kondisi kejahiliyahan mampu bertransfor-masi menuju bangsa yang beradab sealigus bangsa yang kemudian menguasai peradaban dunia, apalagi bangsa Indonesia yang saat ini masih punya banyak orang baik, pahlawan-pahlawan lokal dan para mahasiswa yang begitu bersemangat membangun bangsanya, maka dengan kemampuan membangun kepemimpinan profetik ala Nabi dalam diri kita masing-masing, maka kemajuan peradaban bangsa ini bisa jadi tinggal menunggu waktu saja.

Next Article Pembebasan Pola Pikir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *