Untuk mengatasi buruknya kondisi pemimpin kita saat ini–dimana pemahaman dan penghayatan yang utuh akan makna pemimpin mulai pudar– maka rekonstruksi terhadap makna pemimpin, menjadi penting dan mendesak. Sebab jika tidak, krisis kepe-mimpinan akan semakin menjadi-jadi, yang pada akhir-nya, akan berdampak pula pada kondisi bangsa dan negara. Oleh karena itu, solusi yang dirasa tepat dalam membenahi buruknya kondisi pemimpin saat ini adalah dengan melakukan rekonstruksi (membangun kembali) terhadap makna pemimpin. Ringkasnya, “Apakah pemimpin itu?”

Rekonstruksi makna pemimpin merupakan suatu langkah going back to basic; dimana kita mem-benahi hal-hal yang paling mendasar dalam konsep kepemimpinan, yaitu “Apa itu Pemimpin?”. Rekons-truksi makna pemimpin perlu mendapat perhatian serius karena merupakan tahap awal dalam upaya membenahi kondisi pemimpin bangsa yang sedemikian ruwet.

Jika pemahaman dan penghayatan seseorang terhadap makna pemimpin sudah benar, maka niscaya wujud kepemimpinannya pun akan benar. Bukankah apa yang ada “di dalam diri” seseorang akan terwujud dalam tampak luarnya? Sederhana saja; apa yang dipikirkan dan dirasakan seseorang, akan terwujud dalam perkataan dan perbuatannya. Jadi, jika pema-haman dan penghayatan seorang pemimpin terhadap makna pemimpin sudah beres (dalam arti: benar), maka tampak luarnya pun akan beres. Misalnya, jika seorang pemimpin menyadari dengan sungguh-sungguh akan perannya sebagai abdi rakyat, maka ia akan melayani rakyat dan mengusahakan yang terbaik bagi rakyat. Hal ini berbeda dengan seorang pemimpin yang tidak menyadari dengan sungguh-sungguh akan perannya sebagai abdi rakyat; bukannya melayani rakyat, ia malah melayani diri sendiri dengan sibuk memperkaya diri sendiri.

Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa manusia di-ciptakan Tuhan untuk mengatur, mengelola atau memimpin, yaitu menjadi khalifatu fi al-ardh. Membahas tentang kepemimpinan berarti kita harus mengurai-kannya dalam konteks kekinian, tentang idealisme kepemimpinan menurut Islam. Pemimpin dalam pers-pektif Islam adalah ia yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai ajaran Islam dalam memimpin suatu institusi, kaum, bangsa, atau negara.

Dalam konteks kekinian pemimpin dapat dinis-bahkan kepada seseorang yang mempunyai kapabilitas internal dalam hal emosional dan spiritual, dan ekster-nal dalam hal kepekaan sosial, budaya, dan pemahaman akan pluralitas suatu bangsa dan negara. Kepemim-pinan dapat diartikan secara umum mulai dari memim-pin diri sendiri sampai, keluarga, kelompok warga, jamaah, maupun wilayah suatu negara. Kemudian kepemimpinan secara sempit dapat diartikan secara spesifik memiliki arti khusus yang terkait dengan jenis maupun karakteristik implementasinya.

Next Article Bagaimana Cara Merekonstruksi Makna Pemimpin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *