Pembebasan Pola Pikir – Pada mulanya semua agama merupakan gerakan dan kekuatan pembebas. Rasul-rasul Allah yang menjadi pembawa dan penyebar ajaran Ilahi selalu membela mereka yang bodoh dan tertindas oleh penguasa. Maka dari itu mereka selalu dibenci penguasa tiran. Nabi Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad, semua-nya dikejar-kejar oleh penguasa penindas rakyat. Mereka hendak dibunuh karena dianggap sebagai tokoh subversif yang mengancam kekuasaan waktu itu. Ketika para nabi itu menaklukkan suatu wilayah, istilah yang tepat bukan penaklukan, melainkan pembebasan (al-fath).

Ashgar Ali Engineer membuat catatan yang mengesankan berkaitan dengan misi liberasi ini (2004: 90). Misi pembebasan dalam paradigma kepemimpinan profetik perlu memperhatikan dinamika zaman. Agama sebagai semangat kepemimpinan profetik tidak lepas dari khazanah berpikir para penganutnya. Karenanya, kebebasan berpikir menjadi bagian yang perlu dijaga independensinya. Karena seburuk apa pun cara berpikir terhadap pemahaman agama, tidak layak dihakimi dengan diberangus kebebasannya. Melainkan, perlu dikomparasikan dengan cara-cara berpikir yang lebih relevan.

Kebebasan berpikir sebagaimana disebut ter-akhir, sebangun dengan hifdz al-‘aql dalam tujuan syariat. Sekali agama, melalui kepemimpinan para pembesarnya menafikkan hal ini, maka pada saat yang sama para pemuka agama sedang menjerumuskan agama pada level terendah bernama penindasan ber-pikir. Jika sudah demikian adanya, membangun tata nilai kehidupan bermasyarakat, yang disebut modal sosial (social capital) oleh Fukuyama (2002: 31), tidak akan tercapai. Karena salah satu indikator berdirinya modal sosial adalah hubungan timbal balik antar pihak dalam masyarakat.

Hikmahnya bagi kita semua adalah kini saatnya belajar dari sejarah yang telah jelas membuktikan bahwa sedari awal kehidupan ini berlangsung, agama memiliki sumber dan kekuatan laten yang amat besar dalam membangun peradaban dan mempromosikan perda-maian. Agenda inilah yang mesti kita ambil untuk menyuarakan pesan perdamaian serta melakukan aksi nyata menjadikan agama sebagai sumber kemajuan dan peradaban.

Sebagai negara dengan penduduk mayoritas Muslim, sungguh tidak pantas jika emosi dan simbol-simbol agama hanya dijadikan instrumen perebutan kekuasaan dan ritual dengan niat penebusan dosa sosial. Indonesia dan kita sebagai generasi muda mesti memberikan kontribusi dan sumber inspirasi pada dunia bahwa agama itu menjadi liberating force seperti awal mula diwahyukan. Jangan biarkan kekuatan luar dan mazhab pemikiran keagamaan yang ashobiyah merusak tatanan peradaban Islam yang sejatinya membawa rahmat bagi seluruh alam.

Next Article Peran Sebagai Pembangun Peradaban

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *