Mengerangkai Kepemimpinan ProfetikMemahami konsep kepemimpinan profetik dapat kita lakukan dengan  mengelaborasi unsur-unsur yang menyusun kepemimpinan profetik. Jika kita melihat dan meneropong pada keteladanan  kepemimpinan Rasulullah Muhammad, kita akan menemukan beberapa unsur kepemimpinan yang dibawa oleh beliau.

Allah menunjukkan, bahwa masyarakat hendaknya memilih pemimpin yang berkarakter Khalifah sebagaimana dalam Surat Al-Baqarah ayat 30 dan Surat Shad ayat 26. Kata Khalifah dalam bentuk Mufrod (tunggal), menurut Quraish Shihab dalam buku “Membumikan Al-Quran” terbitan Mizan, disebut sebanyak dua kali. Sedangkan dalam bentuk jamak (plural), Al-Quran menggunakan dua bentuk. Pertama kata khalaif yang terulang sebanyak empat kali. Dan kata khulafa’ yang ditulis sebanyak tiga kali. Semua kata kata tersebut berakar dari kata khulafa’ yang pada awalnya berarti “Di belakang”.

Bagaimanakah dengan kecerdasan intelektual, apakah ikut berperan dalam menentukan idealitas seorang pemimpin? Dalam surat yang sama, Surat Al-Baqoroh dan Surat Shaad, Allah berfirman:
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama nama (benda benda) seluruhnya…”(QS Al-Baqarah 2: 31).
“Dan kami kuatkan kerajaannya dan kami berikan kepada-nya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan.” (QS Shaad 38: 20).

Dua ayat di atas yang masih berbicara tentang kepribadian nabi Adam dan Nabi Dawud sebagai Khalifah jelas sekali menegaskan akan kemampuan intelektualnnya. Dengan kata lain, pemimpin ideal menurut ayat-ayat ini, disamping memiliki kemampuan emosional dan sikap mental yang baik, juga harus memiliki kecerdasan intelektual yang mumpuni.

Seorang pemimpin profetik haruslah berilmu tinggi, khususnya ilmu pengetahuan dan hikmah. Dua hal tersebut yang menjadikan dirinya mampu memutuskan kebijakan yang tepat, serta sejalan dengan akal sehat dan syari’at Islam. Seorang yang lemah akalnya, pasti tidak akan mampu menyelesaikan urusan-urusan rakyatnya. Lebih dari itu, ia akan kesulitan untuk memutuskan perkara-perkara pelik yang membutuhkan tindakan cepat. Pemimpin yang memiliki kekuatan akal akan mampu menciptakan kebijakan-kebijakan cerdas dan bijaksana, yang melindungi dan mensejahterakan rakyatnya. Dan yang paling penting, Ilmu yang dalam akan mencegah seorang pemimpin dari tindakan tergesa-gesa, sikap emosional, dan tidak sabar.

Kekuatan memang diperlukan ketika seorang pemimpin profetik memegang amanah kepemimpinan. Jangan sampai amanah besar diserahkan kepada orang-orang yang lemah. Dalam sebuah riwayat dituturkan, bahwa Rasulullah Saw. pernah menolak permintaan dari Abu Dzar al-Ghifariy yang menginginkan sebuah kekuasaan.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwa Abu Dzar berkata, “Aku berkata kepada Rasulullah Saw, “Ya Rasulullah tidakkah engkau mengangkatku sebagai penguasa (amil)?” Rasulullah Saw menjawab, “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau orang yang lemah. Padahal, kekuasaan itu adalah amanah yang kelak di hari akhir hanya akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali orang yang mengambilnya dengan hak, dan diserahkan kepada orang yang mampu memikulnya.”

Dalam al-Quran istilah pemimpin identik dengan kata Imam yang berasal dari kata amma ya’ummu yang berarti menuju, menumpu dan meneladani. Kata tersebut se akar dengan kata umat. Pemimpin masyarakat sering disebut sebagai imam sedangkan masyarakatnya adalah umat.

Pemimpin menjadi imam karena kepadanya mata dan harapan masyarakat tertuju, sedangkan masyarakat disebut umat karena aktivitas dan upaya-upaya imam harus tertuju demi kemaslahatan umat.

Kesamaan akar kata tersebut menunjukkan bahwa antara imam dan umat memiliki keterkaitan erat baik secara sosiologis maupun normatifnya. Maka, dapat dipahami bahwa pemimpin itu menggerakkan, mengarahkan, dan menginspirasi orang lain yang dipimpinnya untuk melakukan sesuatu menurut yang dia bayangkan dan kehendaki. Karena memimpin adalah menggerakkan, akan semakin efektif jika seorang pemimpin memahami psikologi anak buah atau masyarakat, insentif apa yang membuat mereka semangat untuk bergerak mengikuti ajakan atau perintah pimpinannya. Maka, idealisme pemimpin dalam Islam akan senantiasa terwujud bilamana nilai-nilai keIslaman senantiasa terinte-grasi selaras dengan kepentingan dan kebutuhan masyarakat pada umumnya tanpa memihak pada suku, agama, ras, dan antar golongan di tengah-tengah modernisasi bangsa dan kemajemukan dalam berbagai lini terlebih dalam konteks masyarakat kosmopolitan. Inilah yang disebut sebagai kepemimpinan yang amanah. Kepemimpinan yang ketika ia berjanji hendak memenuhi kebutuhan masyarakatnya, maka ia pun bersungguh-sungguh merealisasikannya dalam berbagai kerja nyata.

Dalam Ma’alim fit Thariq (Petunjuk Jalan) Asy-Syahid fi Sabilillah, Sayid Quthub mengajak seluruh orang, terutama para juru dakwah supaya merenungkan masa lahirnya banyak sahabat-sahabat luar biasa yang dinamakannya “Generasi Qur’ani Yang Unik”. Ia mengungkapkan, “Dakwah Islamiyah sudah pernah menghasilkan suatu generasi manusia, yaitu Generasi Sahabat, semoga Allah meridhai mereka, suatu gene-rasi yang mempunyai citra tersendiri dalam seluruh sejarah Islam, bahkan seluruh sejarah umat manusia. Dan tidaklah pernah dakwah melahirkan generasi yang sebaik itu pada kali yang lain. Memang banyak diperoleh orang-orang besar sepanjang perjalanan sejarah, tetapi belumlah terjadi dalam suatu masa dan pada suatu tempat berkumpul manusia-ma-nusia baik yang demikian banyak jumlahnya, seperti halnya terjadi pada generasi yang pertama dari kehidupan dakwah Islamiyah ini.”

Artinya Nabi Muhammad di luar kesuksesannya memegang amanah, menjadi pemimpin yang kuat dan berilmu, ia juga sukses membangun kepemimpinan yang regeneratif yang terbukti dalam lahirnya banyak sahabat-sahabat yang luar biasa meneruskan perjuangan peradaban Islam hingga mampu tersebar hingga seluruh penjuru dunia.

Sejarah telah membuktikan bahwa kisah-kisah pemimpin berhasil seperti yang Allah SWT ceritakan dalam Al Qur’an, misalnya: Nabi Daud as, Nabi Sulaiman as, dan Dzul Qarnain, itu adalah karena kesungguhan mereka menegakkan ajaran Allah dalam kepemimpinannya. Begitu juga kepemim-pinan Rasulullah saw, yang dilanjutkan oleh Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Abdul Aziz. Mereka adalah contoh-contoh yang tidak bisa kita nafikkan sebagai puncak pemimpin yang paling berhasil dan sukses.

Dan bila kita teliti kunci utama keberhasailan mereka adalah karena mereka memimpin dengan ketaqwaan. Sebab bila seorang pemimpin bertaqwa ia pasti jujur dan amanah.

Bila seorang pemimpin jujur dan amanah ia pasti akan memberikan yang terbaik kepada rakyat yang dipimpinnya. Sebaliknya bila seorang pemimpin tidak bertaqwa, ia pasti akan selalu membawa bencana dengan kedzaliman yang ia bangga-banggakan. Kezaliman adalah sumber kesengsaraan. Karena itu Allah SWT menyebutkan bahwa orang yang paling dzalim adalah orang yang setelah mendapatkan tuntunan dari Allah malah ia berpaling darinya. Mengapa dikatakan dzalim, karena dengan kedzalimannya tidak saja ia menjadikan dirinya sebagai bahan neraka, melain juga dengan kedzalimannya ia membawa acaman bagi orang lain yang dipimpinnya.

Bersambung ke Kepemimpinan Profetik Al-Quran

Save

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *