Membangun Kembali ManusiaInti dari sebuah perubahan adalah bagaimana membangun manusia, dimana setiap manusia menjadi unsur dari perubahan itu sendiri. Sehingga titik tolak perubahan dilandasi dengan bagaimana manusia kembali dibangun. Membangun kembali manusia dimulai dengan mengubah paradigma dan pola pikir, begitu pula seperti apa yang dilakukan oleh Rasulullah. Bagaimana ketika itu Allah melalui Rasul-Nya tidak serta merta menurunkan semua wahyu secara bersama-an dalam suatu waktu, namun bertahap, berangsur-angsur selama hampir 23 tahun. Salah satu tujuannya agar perintah dan ajaran agama ini mengubah manusia sedikit demi sedikit sehingga manusia bisa menerima ajaran ini, dan memahaminya pelan-pelan.

Membangun manusia memang memerlukan pengorbanan yang panjang, sehingga harus dilakukan dengan penuh kesabaran dan pengorbanan. Apalagi melihat kondisi pergolakan global hari ini, menjadi tantangan yang tidak mudah bagaimana mentrans-formasi manusia sekarang ini.

Gerakan Islam selama ini masih memiliki misi yang pendek, pragmatis dan transaksional. Padahal yang kita butuhkan adalah pemimpin yang trans-formasional. Oleh karena itu seorang mukmin harus mengubah paragidma ini dengan menjadi pemimpin bangsa yang membawa perubahan. Saat ini pun para seorang mukmin yang juga seorang da’i tidak memulai semua itu dari nol, namun melanjutkan estafet-estafet yang telah lebih dahulu dibawa. Terdapat tiga hal yang harus dipenuhi secara stimulan untuk membawa perubahan, yakni amal (charity), pemberdayaan (empo-werment), dan kebijakan (policy). Apabila ketiga aspek ini dapat terakomodir dengan baik maka perubahan itu semakin dekat.

Ketiga hal tersebut tidak dapat dipisahkan, ketiganya saling berkaitan dan berjalan simultan, karena merubah manusia berarti berubah tatanan sosial yang ada beserta setiap nilainya apabila terdapat yang menyimpang. Maka seorang pemimpin juga merupakan aspek yang sangat penting dalam menentukan arah pembangunan manusia.

Salah satu sosok Pemimpin yang familiar adalah Muhammad Al-Fatih, seorang pemimpin pasukan pena-kluk Konstantinopel atau yang sekarang bernama Turki. Namun kebanyakan hanya mengetahui sebatas itu saja, tidak secara mendalam, karena banyak orang yang ingin menghapus sejarah turki utsmani ini. Padahal sangat banyak yang dapat digali dari kisah Muhammad Al-Fatih ini.

Muhammad Al-Fatih bernama asli Sultan Meh-met. Ia adalah seorang pemuda tangguh yang memang didesain oleh ayahnya sebagai seorang pemimpin. Pada usianya yang ke 14 tahun Ia diamanahkan menjadi walikota di Amasyiah, banyak orang yang meragukan kepemimpinannya, apalagi ketika beliau menjabat men-jadi sultan diusianya yang ke 19 tahun. Namun pemuda keturunan Asia ini berhasil membuktikan kepemim-pinannya dengan penaklukkan Konstantinopel yang selama itu ditunggu-tunggu.

Dahulu ketika Perang Khandak turun sebuah hadits yang intinya mengatakan bahwa akan ditakluk-kan kota Konstantinopel oleh sebuah pasukan, sebaik-baiknya pemimpin adalah yang memimpin pasukan tersebut, dan sebaik-baiknya pasukan adalah pasukan tersebut. Masyarakat disana sangat percaya dengan hadits ini, sampai-sampai melakukan dua ekspedisi untuk merealisasikan hadits ini, namun tak kunjung berhasil. Ketika Al-Fatih memimpin tepatnya berawal pada tahun 1094, banyak sekali yang tak percaya padanya, bukan karena ia tidak tangguh atau tidak kuat, tapi karena umurnya yang sangat belia. Namun Al-Fatih masih tetap percaya dan teguh terhadap kepemimpin-annya. Pada masa awal Ia menjabat, Al-Fatih mendiri-kan sekolah dan masjid sebagai sarana internalisasi, mendirikan pasar sebagai poros ekonomi serta membuat pengajian sebagai pengisi rohani.

Proses penaklukkan Konstantinopel tidaklah mudah, butuh perjuangan yang tak mengenal henti, tak mengenal lelah. Al-Fatih telah merancang strategi penaklukkannya dengan sangat luar biasa, tanpa ada masalah berarti. Al-Fatih telah merancang semuanya hingga ke teknis terkecil sekalipun, Ia telah memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi, dan telah mem-persiapkan pasukan-pasukan terbaiknya. Tak hanya strategi dan pasukan yang sangat hebat, yang mem-buatnya menang, tetapi juga karena hubungannya dengan Allah yang selalu baik, dalam kondisi apapun Ia selalu menjaga hubungannya dengan Allah, tercatat setelah takluknya Konstantinopel seluruh pasukan perang Al-Fatih sholat berjama’ah disana. Penaklukkan Konstantinopel ini tak lepas dari para pendahulu Al-Fatih yang sebelumnya membawa tongkat estafet perjuangan hingga akhirnya sampai ke tangan Al-Fatih. Beginilah Islam seharusnya perlahan membangun manusia, dari hal yang paling dasar, yakni setiap individunya, sabar melalui berbagai hal yang panjang dan melelahkan. Hingga akhirnya bisa menjadi pemim-pin dan pasukan terbaik.

Artikel selanjutnya Kesadaran Diri 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *