Kepemimpinan yang Regeneratif – Daya regeneratif sangatlah diperlukan dalam segala bidang kepemimpinan. Bila kita gagal mewariskan kepemim-pinan profetik kepada generasi penerus maka kita gagal mewariskan kondisi yang lebih baik. Jangan sampai anak cucu kita hanya menjadi anak cucu biologis saja. Tetapi jadikan anak-anak kita itu juga pewaris ideologis yang harus diperjuangkan.

Pemimpin profetik hanya puas ketika mereka dapat melahirkan generasi penerus yang lebih baik dibandingkan dengan era mereka. Oleh karenanya, mereka sangat serius dan memperhatikan pembinaan generasi penerus. Karena mereka sadar, pemimpin itu digembleng dan dibentuk, bukan ada dengan sendirinya. Bahasa kerennya pemimpin profetik itu dilakukan “by design not by accident”, terencana rapi, terstruk-tur, dan menjadi bagian dari rencana besar pembentukan peradaban.

Dalam Ma’alim fit Tharieq (Petunjuk Jalan) Asy-Syahid fi Sabilillah, Sayid Quthub mengajak seluruh orang, terutama para juru dakwah supaya merenungkan masa lahirnya banyak sahabat-sahabat luar biasa yang dinamakannya “Generasi Qur’ani Yang Unik”. Ia mengungkapkan, “Dakwah Islamiyah sudah pernah menghasilkan suatu generasi manusia, yaitu Generasi Sahabat, semoga Allah meridhai mereka, suatu gene-rasi yang mempunyai citra tersendiri dalam seluruh sejarah Islam, bahkan seluruh sejarah umat manusia. Dan tidaklah pernah dakwah melahirkan generasi yang sebaik itu pada kali yang lain. Memang banyak diperoleh orang-orang besar sepanjang perjalanan sejarah, tetapi belumlah terjadi dalam suatu masa dan pada suatu tempat berkumpul manusia-ma-nusia baik yang demikian banyak jumlahnya, seperti halnya terjadi pada generasi yang pertama dari kehidupan dakwah Islamiyah ini.”

Artinya Nabi Muhammad diluar kesuksesannya me-megang amanah, menjadi pemimpin yang kuat dan berilmu, ia juga sukses membangun kepemimpinan yang regeneratif yang terbukti dalam lahirnya banyak sahabat-sahabat yang luar biasa meneruskan perjuangan peradaban Islam hingga mampu tersebar hingga seluruh penjuru dunia.

Hikmahnya, kita belajar bahwa Rasulullah tidak hanya meneladankan ilmu, meneladankan kepemimpinan, menela-dankan keberanian dan keadilan, tapi juga meneladankan kehidupan. Umat manusia dalam perputaran nasib; suka dan duka, senang dan susah, kaya dan miskin, seyogyanya  meneladani kehidupan beliau yang sungguh agung dan luar biasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *