Kepemimpinan Yang Kuat

Kekuatan memang diperlukan ketika seorang pemimpin profetik memegang amanah kepemimpinan. Jangan sampai amanah besar diserahkan kepada orang-orang yang lemah. Dalam sebuah riwayat dituturkan, bahwa Rasulullah Saw. pernah menolak permintaan dari Abu Dzar al-Ghifariy yang menginginkan sebuah kekuasaan.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwa Abu Dzar berkata, “Aku berkata kepada Rasulullah Saw, “Ya Rasulullah tidakkah engkau mengangkatku sebagai penguasa (amil)?” Rasulullah Saw menjawab, “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau orang yang lemah. Padahal, kekuasaan itu adalah amanah yang kelak di hari akhir hanya akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali orang yang mengambilnya dengan hak, dan diserahkan kepada orang yang mampu memikulnya.”

Oleh karenanya, Muslim yang kuat lebih utama diban-dingkan dengan Muslim yang lemah. Begitu juga dengan konteks mencari seorang pemimpin. Pemimpin yang kuat, memiliki kebugaran fisik sangat membantu kinerjanya dalam memimpin suatu kelompok atau kaum.

Akan tetapi kekuatan disini janganlah sampai disalah-artikan sebagai kekuatan tanpa batas atau menjurus pada dictatorship. Jika pemimpin menyalahartikan kekuatan yang dimilikinya hanya sebagai alat untuk memuaskan kepenting-an pribadinya saja, maka akan memunculkan kepemimpinan tangan besi yang begitu merugikan banyak pihak.

Kepemimpinan Yang Amanah

Dalam al-Quran istilah pemimpin identik dengan kata Imam yang berasal dari kata amma ya’ummu yang berarti menuju, menumpu dan meneladani. Kata tersebut se-akar dengan kata umat. Pemimpin masyarakat sering disebut sebagai imam sedangkan masyarakatnya adalah umat. Pemimpin menjadi imam karena kepadanya mata dan harapan masyarakat tertuju, sedangkan masyarakat disebut umat karena aktivitas dan upaya-upaya imam harus tertuju demi kemaslahatan umat.

Kesamaan akar kata tersebut menunjukkan bahwa antara imam dan umat memiliki keterkaitan erat baik secara sosiologis maupun normatifnya. Maka, dapat dipahami bahwa pemimpin itu menggerakkan, mengarahkan, dan menginspirasi orang lain yang dipimpinnya untuk melakukan sesuatu menurut yang dia bayangkan dan kehendaki. Karena memimpin adalah menggerakkan, akan semakin efektif jika seorang pemimpin memahami psikologi anak buah atau masyarakat, insentif apa yang membuat mereka semangat untuk bergerak mengikuti ajakan atau perintah pimpinannya. Maka, idealisme pemimpin dalam Islam akan senantiasa terwujud bilamana nilai-nilai keIslaman senantiasa terinte-grasi selaras dengan kepentingan dan kebutuhan masyarakat pada umumnya tanpa memihak pada suku, agama, ras, dan antar golongan di tengah-tengah modernisasi bangsa dan kemajemukan dalam berbagai lini terlebih dalam konteks masyarakat kosmopolitan. Inilah yang disebut sebagai kepe-mimpinan yang amanah. Kepemimpinan yang ketika ia berjanji hendak memenuhi kebutuhan masyarakatnya, maka ia pun bersungguh-sungguh merealisasikannya dalam ber-bagai kerja nyata.

Seorang pemimpin profetik yang amanah sebagaimana dicontohkan Rasul-rasul terdahulu ialah orang yang memiliki kredibilitas dan integritas yang tinggi, yang dapat dipercaya oleh masyarakatnya. Orang yang amanah tidak akan mudah goyah oleh godaan harta, tahta, dan wanita. Betapa banyak kita saksikan dalam sejarah kepemimpinan manusia, pemimpin-pemimpin yang akhirnya tidak amanah, hanya karena terbius oleh kehidupan yang mewah berlebihan, manisnya kekuasaan, dan akhirnya melakukan korupsi kolusi yang menyengsarakan bangsa dan negaranya.

Prinsip Amanah: Amanah yang pertama berasal dari Allah SWT dan Rasul-Nya. Yaitu kewajiban untuk menjalan-kan segala perintah Allah SWT dan Rasul-Nya, serta menjauhi segala larangan-Nya dan larangan Rasul-Nya. Menjalankan perintah dan menjauhi larangan itu, meliputi segala bidang, baik yang bersifat pribadi, maupun umum. Baik yang berhubungan langsung dengan Allah SWT (hablum minallah) yang mengandung aspek ritual, maupun yang berhubungan dengan sesama manusia (hablum minannas) yang mengandung aspek sosial. Amanah yang kedua adalah yang berasal dari manusia. Pemimpin mendapatkan amanah untuk mengurus, mengatur, memelihara dan melaksanakan kewajiban itu secara baik dan benar.

Kepemimpinan yang kuat dan amanah

Next Article Kepemimpinan Yang Regeneratif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *