Kepemimpinan Thalut di Masa Kegoncangan Politik – Kehadiran seorang pemimpin sangat diharapkan untuk mewujudkan stabilitas sosial-politik. Sebaliknya, kekosongan kursi kepemimpinan (vacuum of leadership) akan memancing suasana kegoncangan, bahkan pertikaian politik. Hal itu terjadi di masa lalu dan masa sekarang dengan fenomena yang beragam.

Ironisnya, di tengah situasi ketidakpastian itu seringkali tampil segelintir elite yang memiliki ambisi tersendiri untuk mencapai puncak kekuasaan. Manuver elite tidak bermaksud menyelesaikan masalah, namun hanya menimbulkan komplikasi baru.

Bangsa Indonesia saat ini dihadapkan pada masalah serupa dengan maraknya skandal dana talangan (bail out) Bank Century. Kita tahu penyimpangan itu terjadi menjelang momen besar Pemilihan Umum tahun 2009. Sebelumnya di tahun 2004, juga terjadi kasus serupa dengan pembobolan bank BNI 1946, lalu pada tahun 1998 terjadi skandal lain menimpa Bank Bali. Tampaknya, terjadi pola kejahatan yang berulang karena untuk memenangkan kompetisi politik (pemilu atau pemilihan presiden) diperlukan dana kampanye yang besar, meskipun dalam pemeriksaan Pansus DPR belum ditemukan bukti kongkrit itu.

Nah, di sela gonjang-ganjing politik dan proses hukum yang terus bergulir tak tentu arah itu muncul desakan pergantian terhadap tokoh-tokoh publik yang dipandang bertanggung-jawab atas dugaan penyimpangan. Ini memang ciri khas para elite politik dan pemilik modal, mereka mendorong perubahan agar memperoleh akses politik dan ekonomi yang lebih besar. Sementara itu, problem yang dihadapi masyarakat banyak tak kunjung tuntas.

Fenomena serupa pernah terjadi di kalangan Bani Israel sepeninggal Nabi Musa. Saat itu telah diutus Nabi pengganti, yaitu Samuel. Tapi, setelah terbebas dari cengkeraman kezaliman Firaun, kondisi Bani Israel kembali ditindas bangsa lain di tanah Kanaan. Penindasan yang dialami berkepanjangan itu menimbulkan rasa frustasi di kalangan masyarakat, terutama kelompok elite. Hal itu diungkapkan dalam Al Qur’an, surat Al Baqarah ayat 246: “Tidakkah kamu perhatikan pada pemuka (al mala: elite) Bani Israel setelah Musa wafat, ketika mereka berkata kepada seorang Nabi, ‘Angkatlah seorang pemimpin untuk kami, niscaya kami berperang di jalan Allah’. Nabi mereka menjawab: ‘Jangan-jangan jika diwajibkan atasmu berperang, kamu tidak akan berperang juga? Mereka menjawab, ‘Mengapa kami tidak akan berperang di jalan Allah, sedangkan kami telah diusir dari kampung halaman kami dan (dipisahkan dari) anak-anak kami? …”

Nabi Samuel rupanya sudah mengetahui perilaku buruk para elite Bani Israel, mereka menuntut suksesi dengan alasan ingin berjuang mengubah nasib rakyat, padahal sesungguhnya mereka tak punya nyali untuk berjuang. Sebagaimana ditegaskan dalam lanjutan firman suci itu, “Tetapi, ketika perang itu diwajibkan atas mereka, maka mereka berpaling, kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim.”

Teriakan takbir dan pekik merdeka diiringi dengan kepalan tangan ternyata hanyalah semangat perjuangan yang palsu, karena para elite itu menyimpan ambisi kekuasaan tersembuyi di balik amarah rakyat. Mereka benar-benar pandai memainkan emosi masyarakat yang labil, tapi kelak akan terbuka kedok itu. Sejatinya, jika mereka benar-benar ingin berjuang, maka tuntutan mereka kepada Nabi Samuel adalah “Bersediakan engkau memimpin kami untuk melawan penindasan terhadap umat ini?”.

Sebab, seorang Nabi diutus Allah Azza wa Jalla bukan hanya menjadi pemimpin spiritual,tapi juga pembebas dari segala belenggu kezaliman, termasuk memimpin perang. Para elite dan kebanyakan umat Israel terjebak mitos atas sosok Nabi Musa. Mereka menyangka bahwa pemimpin besar harus memiliki segala-galanya untuk mengalahkan tiran besar. Mereka lupa bahwa Musa pada awalnya hanyalah anak angkat Firaun dan berasal dari keluarga budak Bani Israel yang miskin. Setelah melalui pelatihan kepemimpinan yang panjang di bawah Nabi Syuaib dan Khaidir, akhirnya Musa lahir sebagai pembebas umat tertindas. Musa juga tidak berjuang sendirian, karena ia didampingi mitra yang setia dan kompatibel, yakni Nabi Harun yang luwes berdiplomasi dan fasih berorasi. Seorang pemimpin besar tidak lahir tibatiba dari ruang kosong sejarah, dan tidak berjuang sebagai lone ranger.

Nabi Samuel akhirnya menetapkan Thalut, seorang pemuda kampung, sebagai pemimpin Bani Israel yang baru, dengan tugas khusus memimpin perang melawan penjajah. Itu semua tentu atas petunjuk dari Allah Yang Maha Kuasa, bukan hanya pertimbangan pribadi, apalagi favoritisme. Tetapi, bagaimana reaksi para elite Bani Israel? Mereka menolak mentah-mentah kepemimpinan Thalut. “Bagaimana Thalut memperoleh kekuasaan atas kami, sedangkan kami lebih berhak atas kerajaan itu daripadanya, dan dia tidak diberi harta yang banyak?” (Al Baqarah: 247).

Tampak jelas ambisi para elite untuk merengkuh kekuasaan di tangannya sendiri dengan memanfaatkan sentiment rakyat. Dalih utamanya adalah kekuasaan sebagai warisan feodal dan dapat dibeli/dirawat dengan harta melimpah. Namun, Nabi Samuel menandaskan kriteria kepemimpinan yang sejati (true leadership): “Allah telah memilihnya (menjadi pemimpin) kamu dan memberikan kelebihan ilmu dan jasmani. Allah memberikan kerajaan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki dan Allah Maha Luas (pengetahuan dan kekuasaan) serta Maha Mengetahui”.

Provokasi elite harus direspon dengan argumentasi logis, bahwa posisi kepemimpinan hanya diberikan kepada mereka yang memiliki integritas (aqidah) dan moralitas tidak tercela, serta memiliki kapasitas intelektual dan kesamaptaan jasmani. Kelebihan fisik juga bermakna penguasaan terhadap strategi militer dan mobilisasi kekuatan. Semua kategori itu telah dimiliki oleh Thalut, meskipun dia  berasal dari keluarga miskin dan tak terkenal. Karena itu, Thalut pantas memimpin perjuangan baru melawan penindasan.

Nabi Samuel tak hanya mengumumkan pengangkatan Thalut, tetapi juga mengabarkan isyarat akan ditemukannya Tabut (kotak sejarah) sebagai legitimasi historik kepemimpinan Thalut (Al Baqarah: 248). Tabut adalah kotak sejarah peninggalan keluarga Musa dan Harun yang sempat hilang, sehingga Bani Israel mengalami disorientasi dalam perjalanan hidupnya.

Apakah warisan utama Musa dan Harun dari konteks kepemimpinan? Musa mewakili sosok pemimpin yang berani (bold and courageous) menghadapi tantangan dan resiko sebesar apapun, penuh semangat (zealous and enthusiastic) di tengah berbagai cobaan, dan pantang menyerah (consistent) dalam melakukan perubahan. Sementara itu, Harun adalah sosok pemimpin yang sabar dan tabah (patient and steadfast) dalam menghadapi dinamika kemanusiaan, pandai berdiplomasi dan berorasi (diplomatic and oratory capabilities) yang menggugah emosi rakyat maupun para raja. Gabungan kedua nilai dan tradisi kepemimpinan itu menyatu dalam pribadi Thalut, sehingga dia mencuat di kalangan pemuda Israel.

Meskipun demikian, mandat profetik dan legitimasi historik tak cukup bagi seorang pemimpin yang berjuang melawan penindasan, apalagi di tengah gejolak sosialpolitik. Untuk itu, Thalut menguji para prajurit yang dipimpinnya. Ujian yang sangat sederhana, yakni menempuh perjalanan jauh untuk menghadang musuh (kaum Jabbarin) dan tidak boleh terpesona oleh aliran sungai yang akan mereka lalui. “Allah akan menguji kamu dengan sebuah sungai. Maka, barangsiapa meminum (airnya), dia bukanlah pengikutku. Dan barangsiapa tidak meminumnya, kecuali seciduk tangan, maka dia adalah pengikutku…”, ujar Thalut ketika memeriksa barisan prajuritnya (Al Baqarah: 249).

Sebagian prajurit Thalut memandang remeh ujian itu, sebab mereka telah melalui proses pelatihan yang berlapis dan berat. Sebagian manusia, terutama calon pemimpin dan para pejuang acap terjerembab karena kerikil kecil. Inilah inti dari ujian kepemimpinan dan keprajuritan (leadership and followership test), yaitu untuk membuktikan karakter asli masing-masing di tengah medan pertempuran. Ternyata benar, sesuai prediksi Thalut, kebanyakan pengikutnya tak lolos ujian: mereka mandi basah di sungai itu, berpuas hati meminum air sebanyak-banyaknya, sehingga tak ada lagi kekuatan untuk melawan musuh di hadapan.

Ujian kesenangan memang lebih berat daripada ujian kesulitan dan kesusahan hidup. Kita sering melihat kader dai dan aktivis pergerakan yang penuh semangat, tatkala situasi sangat sulit. Medan seberat apapun akan ditempuh untuk mencapai tujuan perjuangan. Namun, setelah menempati posisi kekuasaan di lembaga publik, semisal legislatif maupun eksekutif, semangat dakwah dan aktivismenya menurun drastik.

Para prajurit yang lolos dari ujian kesenangan itu memiliki jawaban yang berbeda, ketika mereka dibenturkan dengan tantangan berat, karena mereka yakin akan bertemu dengan Allah dalam posisi sebagai pemenang, walaupun di dunia mereka serba berkekurangan. “Betapa banyak kelompok kecil (fiah qalilah) mampu mengalahkan kelompok besar (fiah katsirah) dengan izin Allah”, begitulah argumentasi mereka yang kemudian menjadi dalil sejarah pergiliran peradaban. Sejarawan Inggris, Arnold J. Toynbee yang menulis buku “A Study of History” telah menjelaskan peranan kelompok kecil-kreatif (creative minority) dalam mengubah sejarah peradaban dunia. Dari zaman ke zaman terbukti hanya sedikit orang yang membawa perubahan dengan mempengaruhi/ mengalahkan mayoritas warga lainnya.

Pasukan minoritas-kreatif pengubah sejarah itu menyenandungkan doa yang khas: “Wahai Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, kukuhkanlah langkah kami, dan tolonglah kami menghadapi orang-orang yang ingkar” (Al Baqarah: 250). Kesabaran (menjalani seluruh proses perubahan), keteguhan (dalam memegang prinsip dan idealisme), serta kepekaan spiritual-transendental merupakan modal kemenangan melawan penindasan yang menahun.

Itulah puncak dari persiapan seorang pemimpin untuk tampil memenangkan perang di kancah publik. Pertempuran antara pasukan Thalut melawan Jalut, pada gilirannya, mencuatkan pemimpin lain dengan karakter yang lebih agung, yaitu Daud. Sejarah mencatat pertarungan antara David (Daud) versus Goliath (Jalut) merupakan klimaks perjuangan Bani Israel.

Dalam teori perang atau kajian strategi dikenal prinsip centre of gravity (pusat kekuatan). Jalut adalah sumber kekuatan bagi kaum penindas. Bila komandan bengis itu berhasil dilumpuhkan, maka pasukan musuh akan tercerai-berai. Thalut memahami hal itu, dan untuk melumpuhkan Jalut, ia memilih orang yang tepat. Seorang pemimpin yang cerdas tak akan menyelesaikan seluruh skenario pertempuran sendirian. Dia akan menugaskan prajurit yang tepat demi menjalankan misi yang menentukan, sekaligus mengkader, bila sang prajurit suatu waktu kelak akan menjadi pemimpin penggantinya.

Daud menjalankan misi berbahaya itu dengan sukses. Dengan kecerdasannya, Jalut berhasil dikalahkan. Pada momen yang tepat, Daud akhirnya melanjutkan estafeta kepemimpinan Thalut. Daud memiliki seluruh kriteria kepemimpinan yang disandang Thalut. Ditambah lagi, Allah menganugerahi Daud kemampuan untuk mengendalikan kerajaan besar, kebijaksanaan (hikmah), dan ilmu pengetahuan luas (Al Baqarah: 251). Kemampuan manajerial Daud tidak diragukan lagi, karena pada masanya, tidak kurang 13 kerajaan kecil Bani Israel dipersatukan menjadi Federasi Israel Raya.

Inilah pelajaran penting dari Thalut, sosok pemimpin di masa transisi penuh kegoncangan sosial-politik. Seorang pemuda kampung yang menggembleng diri dengan tradisi kepemimpinan Musa dan Harun. Pemimpin transformasional member jalan bagi lahirnya pemimpin-pemimpin besar sesudahnya: Daud dan Sulaiman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *