Kepemimpinan Sulaiman Menghadapi Tantangan Zaman – Di waktu kecil kita sering membaca kisah Nabi yang agung seperti Daud dan Sulaiman. Keduanya dikenal sebagai Nabi yang Meraja (Tsaric Prophet) dan Raja yang berwatak Kenabian (Prophetic King). Dua karakter yang dipandang berlawanan—Kekuasaan (power) dan Kearifan (wisdom)—telah menyatu dalam diri ayah dan anak itu. Namun, imaji kita tentang keduanya banyak yang bengkok dan perlu diluruskan. Perlu metoda ’pembacaan’ yang lebih dewasa tentang kisah para Nabi (prophetic parables) dari sudut pandang pengembangan nilai-nilai kepemimpinan (leadership values).

Citra Nabi Sulaiman dalam berbagai cerita Israliyat terlihat buram. Ia disalahpahami sebagian orang sebagai Raja yang bergelimang kemewahan, bahkan disebutkan memiliki ratusan gundik dan menetapkan pajak yang berat kepada rakyatnya demi mengongkosi kesenangan pribadi (Gustav Le Bon, The Jewish People in Early History of Civilization, 1884). Semua itu jauh dari kenyataan, bila kita gali akar kearifan Sulaiman.

Kearifan dan Ketegasan

Karakter Daud dan Sulaiman dapat dicermati dari dua peristiwa. Kisah pertama bermula, ketika dua orang perempuan datang mengadukan perkaranya kepada Daud. Masing-masing memiliki bayi mungil yang mirip betul bak pinang dibelah dua. Saat istirahat, seekor serigala telah membawa salah satu bayi tanpa sepengetahuan ibunya. Kedua perempuan itu bertengkar, bayi siapa yang telah dilarikan serigala dan bayi siapa pula yang selamat. Karena tak ada yang mengalah, maka mereka mengadu kepada Raja Daud. Setelah mempertimbangkan pengaduan kedua pihak, Daud memenangkan perempuan yang lebih tua dan memberikan bayi yang selamat kepadanya.

Perempuan muda tak puas, ia melaporkan kembali perkaranya kepada Sulaiman, yang berposisi putera mahkota. Atas izin ayahnya, Sulaiman memanggil kedua perempuan itu dan mendengarkan ulang pengaduan mereka. Sambil berpikir keras, Sulaiman meminta diambilkan sebilah pedang tajam dan menyuruh kedua perempuan itu untuk menaruh bayi di altar. Dengan suara yang tegas, Sulaiman berkata: ”Baiklah, karena tidak ada seorang pun yang mau mengalah di antara kalian, maka aku akan potong bayi ini menjadi dua bagian sama rata. Lalu, masing-masing akan mendapat satu bagian yang diinginkan.”

Perempuan yang lebih tua tercenung, tapi tak bereaksi apapun. Perempuan yang lebih muda menangis sedih dan meminta Sulaiman agar menghentikan tindakan itu. Ia rela menyerahkan sang bayi kepada kawannya yang lebih tua, asal bisa tetap hidup. Sulaiman tersenyum dan menetapkan amar putusannya: ”Perempuan muda ini lebih berhak atas bayi itu, karena tak seorang pun ibu rela menyaksikan pembunuhan anaknya sendiri”. Daud kagum dengan kecerdasan Sulaiman, tak terbayangkan sebelumnya bahwa putusan yang tepat dan adil itu sesungguhnya harus melalui tahap pembuktian (testify). Daud hanya mengandalkan kepekaan nurani (instinct) bahwa perempuan tua lebih jujur, tapi ternyata keliru.

Ada lagi kisah yang mengungkapkan kecerdasan Sulaiman yang berujung pada kearifan. Kali ini dua orang pekebun datang mengadu kepada Daud yang didampingi Sulaiman. Pemilik kebun melaporkan bahwa kambing milik kawannya telah memasuki kebun yang siap dipanen buahnya, sehingga menimbulkan kerusakan dan kerugian besar. Pemilik kambing mengakui insiden itu, tapi menyatakan tak ada maksud untuk membiarkan kambing berkeliaran, apalagi kesengajaan untuk merusak panen kawannya. Ia siap menerima hukuman apa saja. Setelah mendengarkan laporan kedua orang itu, Daud memutuskan agar kambing tersebut diserahkan kepada pemilik kebun sebagai ganti rugi panen yang gagal.

Namun, Sulaiman meminta izin ayahnya untuk memberi pandangan lain. Daud mempersilakan, dan inilah saran Sulaiman yang mencapai kearifan di usianya yang masih muda: ”Hendaklah kambing itu diserahkan kepada pemilik kebun selama setahun untuk diambil susu, bulu dan anak-anaknya, jika melahirkan. Sementara si empunya kambing menanam kembali kebun yang dirusak. Sesudah genap satu tahun, maka kambing harus dikembalikan kepada pemiliknya dan kebun yang siap panen pun diserahkan kepada si empunya.” Daud akhirnya menyetujui putusan Sulaiman yang menenteramkan kedua pihak.

Dua kasus itu menunjukkan kecerdasan dan ketegasan – yang berbuah keadilan – pada diri Sulaiman dalam mengambil putusan. Pada kasus pertama, keadilan sejati berbasis pada naluri dasar manusia (fundamental or natural justice), sehingga setiap orang bisa mengukur secara spontan hak siapa yang dilanggar dalam sembarang konflik. Dalam terminologi hukum, keadilan fundamental itu menunjukkan konsensus masyarakat yang amat penting (significant societal consensus) sebagai landasan bagi penerapan sistem hukum agar berlangsung adil dan jujur (Thomas J. Singleton, 1995). Kebanyakan konflik di suatu organisasi atau masyarakat tidak selesai, karena setiap pihak yang berselisih lebih mempertahankan ego dan kepentingan sempit, meskipun hal itu sering membuka aib diri sendiri yang dikuasai keserakahan dan kekeraskepalaan.

Sementara itu, pada kasus kedua, Sulaiman menerapkan keadilan yang terukur (measurable or instrumental justice), sebuah konsep dalam studi ekonomi-sosial yang membuktikan bahwa penerapan etik dan metoda instrumentalis sejalan dengan perumusan cara dan pencapaian tujuan (Steven R. Hickerson, 1986). Orientasi pada tujuan (win-win solution) akan membuka peluang penyelesaian masalah yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Konflik tak berujung (never ending conflicts) akibat setiap pihak yang bertikai mematok tujuan yang sempit (zero sum game), dan tidak menyadari bahwa semua pihak bisa mencapai tujuannya, bila melakukan redefinisi kepentingan yang lebih luas.

Tindakan-tindakan hukum (dari kacamata seorang penguasa) atau putusan-putusan manajerial (dari sudut pandang CEO) yang sesuai dengan rasa keadilan umum (fairness) memperlihatkan kualitas kearifan dan pengetahuan sang pengambil putusan (decision makers). Kebijakan Daud dan Sulaiman telah dipaparkan dalam kitab suci al-Qur’an (surat al-Anbiyaa, ayat 78-79) yang menegaskan perlunya pemahaman yang jelas terhadap suatu masalah (deep understanding) dilengkapi kedalaman analisis (judgment) dan keluasan pengetahuan (knowledge).

Transformasi Kepemimpinan

Transformasi kepemimpinan Bani Israel di masa kritis berlangsung dari masa Thalut kepada Daud, dan akhirnya era Sulaiman. Transformasi itu digenapi dengan tampilnya Sulaiman yang tak cuma menguasai teknologi peleburan besi dan tembaga, melainkan juga mengelola energi angin yang diubah menjadi transportasi udara. Fakta kecanggihan peradaban kuno ini terasa aneh di telinga, tapi kitab suci menceritakannya dengan terang benderang: ”Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya pada waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya pada waktu petang sama dengan perjalanan sebulan …” (surat Saba, ayat 12). Boleh jadi pada waktu itu ada spesies burung yang sangat besar dan dapat dijinakkan, lalu difungsikan sebagai transportasi udara, sehingga lebih cepat terbangnya ketimbang berjalan kaki atau naik unta.

Tidak hanya mengoptimalkan energi angin (natural resources), Sulaiman juga mengeksplorasi sumberdaya makhluk di sekitarnya, antara lain burung-burung (sarana komunikasi dan informasi), jin (energi untuk menggerakkan peralatan berat), dan manusia (kecerdasan dan kreativitas budaya). Sekali lagi, imaji kita tentang kemajuan peradaban Sulaiman masih sangat terbatas, tetapi kitab suci telah menegaskannya jauh hari sebelum ditemukan energi listrik (Thomas Alfa Edison dan Michael Farraday), mesin uap (James Watt), pesawat terbang (Wilbur Wright bersaudara), dan teknologi informasi: “Sulaiman telah mewarisi (keagungan kerajaan/peradaban) Daud, dan dia berkata: ‘Wahai manusia, kami telah diajari bahasa burung dan kami diberi segala sesuatu. Sungguh semua itu benar-benar karunia yang nyata. Dan, untuk Sulaiman dikumpulkan bala tentaranya dari golongan jin, manusia dan burung, lalu mereka berbaris dengan tertib.” (surat an-Naml, ayat 16-17).

Keagungan Sulaiman tidak membuahkan kesombongan, bahkan ia dikenal sangat peduli dengan pelestarian lingkungan, yang di masa modern merupakan fondasi pembangunan berkelanjutan. Suatu fakta sekaligus metafora tentang kepedulian Sulaiman terhadap pemeliharaan lingkungan terlihat dari kebijakannya untuk melindungi ’hak komunitas semut’, agar hidup aman dan nyaman di sarangnya. Seorang penguasa yang sanggup mengakomodasi aspirasi seekor semut tentu tidak akan pernah terpikir untuk melakukan pelanggaran HAM berat atau merusak lingkungan demi kepentingan pribadinya. Puncak keagungan Sulaiman ditandai dengan sikapnya untuk selalu bersyukur kepada Allah (high spirituality) dan berbuat kebajikan bagi semua makhluk (altruism):

“Ya Tuhanku, karuniakanlah aku inisiatif untuk selalu bersyukur kepada-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku, dan agar aku melakukan kebajikan yang Engkau ridlai. Masukkanlah aku, dengan rahmat-Mu, ke dalam golongan hamba-hambaMu yang shalih…” (surat an-Naml, ayat 19). Prinsip bersyukur dan memanfaatkan fasilitas hidup untuk beribadah telah menjadi norma keluarga besar Daud dan Sulaiman …”bekerjalah, wahai kelurga Daud, untuk bersyukur kepada Allah. Dan, sedikit sekali di antara hamba-hambaKu yang bersyukur” (surat Saba, ayat 13). Profesionalisme dan produktivitas tinggi diiringi dengan pemantapan spiritual akan menimbulkan ketenangan hidup (sakinah), sehingga dapat menghindarkan kita dari berbagai tekanan (stress), gejala kecemasan (anxiety) dan keterasingan (alienation) akibat persaingan dan perebutan posisi.

Dalam ungkapan Danah Zohar dan Ian Marshall (2004), ‘modal spiritual’ adalah sumber kekayaan (wealth) yang membuat kita bisa bertahan hidup, karena menyentuh aspek paling mendasar dalam hidup manusia. Tentu saja itu diimbangi dengan pemupukan modal material (bersumber dari kecerdasan rasional/IQ) dan modal sosial (kecerdasan emosional/EQ). Dengan IQ kita mampu berpikir (What I think), dengan EQ kita menjadi peka (What I feel), dengan SQ kita menyadari siapa diri kita dan akan ke mana kita kembali (Who I am).

Satu dasawarsa sudah lewat sejak reformasi digulirkan (1998), ternyata bangsa ini belum banyak berubah. Penyelewengan kekuasaan masih terjadi (terungkapnya skandal Bank Century dan gonjang-ganjing di tubuh Polri), kekerasan komunal terus berlangsung (tragedi makam Mbak Priok dan kerusuhan di Papua), sementara tekanan global tak kunjung surut (fluktuasi harga minyak dan komoditas pangan). Di tengah masyarakat kita dengar, ada seorang ibu yang stress, lalu menyiksa anaknya sendiri yang masih berusia 6 bulan (Feri). Ada pula, sekelompok pemuda yang menculik anak tetangganya (Jefri), lalu membunuhnya setelah tak diberi uang tebusan. Begitu murah nyawa manusia melayang, karena nasib kelompok miskin dan marjinal belum terangkat lewat proses pembangunan.

Hanya pemimpin yang cerdas, berani (mengambil resiko), dan peka (terhadap penderitaan rakyat) dapat menyelesaikan persoalan bangsa yang kompleks. Sementara itu, di tengah impitan beban, kita masih mendengar sejumlah harapan: siswa/mahasiswa yang menjuara kompetisi atau olimpiade sains, dan fenomena film ‘Laskar Pelangi’ unggul dalam festival film mancanegara, serta ‘Ayat-ayat Cinta’ yang bukunya terjual 450.000 kopi dan filmya ditonton nyaris empat juta orang. Potensi-potensi positif inilah yang harus terus dipompa, agar kecenderungan negatif-destruktif dapat dicegah. Karena itu, peran kepemimpinan menjadi relevan dan niscaya.

Tipologi Kepemimpinan

Dari telaah singkat, kita menyadari kriteria kepemimpinan harus disesuaikan dengan perkembangan zaman. Memang ada kriteria dasar yang relatif tetap (the essence of leadership), namun tuntutan zaman akan menentukan kriteria mana yang paling menonjol dan apa dosis yang pas. Proses Musda atau Munas yang berlangsung dalam organisasi sosial-politik adalah wahana tepat untuk menggodok dan menyeleksi figur yang relevan dengan kehendak zaman. Jangan sampai peserta Musda/Munas terpenjara dengan penilaian pribadi dan kelompok kecil (groupthink), sehingga melupakan persoalan bangsa dan dinamika global yang harus direspon. Kesalahan kita dalam memilih pemimpin akan meledakkan persoalan yang lebih besar, bukan menyelesaikannya.

Sosok Thalut, Daud dan Sulaiman menjelaskan tipologi kepemimpinan yang khas bertransformasi dari waktu ke waktu. Thalut adalah tipe pemimpin pembebas (mendobrak dan memutus belenggu penjajahan); Daud adalah pemimpin pemersatu (mengkonsolidasikan kerajaan dan wilayah yang terpecah-belah); dan Sulaiman tipe pemakmur (mengembangkan sumberdaya material dan spiritual). Masing-masing tipe kepemimpinan itu tampil sesuai tantangan zamannya melalui proses suksesi yang damai. Tugas kita di masa kini untuk mengenali potensi diri dan menyemai benih kepemimpinan di lingkungan masing-masing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *