Kepemimpinan Profetik Nabi Yusuf  – Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir), sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.” Dan demikianlah Kami berikan kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju ke mana saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat kepada siapa yang Kami kehendaki. Dan Kami tidak menyia-nyiapakn ganjaran bagi orang yang berbuat baik. (QS. Yusuf: 55-56)

Di bulan Oktober kemarin, kita memperingati hari Sumpah Pemuda dan di bulan November ini kita memperingati hari Pahlawan. Pada seri kepemimpinan profetik kali ini, kita akan membahas kisah Nabi Yusuf, kisah perjuangan seorang pemuda yang menjadi pahlawan. Kisah yang penuh lika-liku tantangan dan menyejarah, dimulai dengan sebuah mimpi, diikuti dengan perjuangan sejak dibuang oleh saudaranya dan dijual sebagai budak, cobaan godaan dari istri tuannya, kehidupan di dalam penjara, dan akhirnya menjadi pejabat yang terpercaya, profesional dan sukses membangun negerinya.

Kisah kepemimpinan profetik Nabi Yusuf menceritakan success story upaya melakukan perubahan sistem dengan masuk ke dalam struktur sistem itu. Secara personal, Nabi Yusuf berhasil membangun kredibilitas di depan penguasa dengan kapabilitas intelektual dan moralnya. Dari situlah posisi strategis dalam kekuasaan yang dimilikinya, digunakan oleh Nabi Yusuf untuk melakukan perubahan mendasar (reformasi) dari dalam sistem. Akan tetapi, dari paparan kisah panjang-lebar ini, ada beberapa prinsip penting yang melandasi keberhasilan upaya Nabi Yusuf.

Mimpi Nabi Yusuf dalam QS Yusuf, 12 ayat 5 mengisyaratkan adanya pandangan proyektif dari suatu keadaan yang akan dibangun pada masa depan. Artinya, setiap perubahan, khususnya perubahan dari dalam, membutuhkan sebuah perencanaan jangka panjang yang jelas, termasuk sasarannya dan unsur kekuatan perubah yang akan dikelola. Kejelasan sasaran itu sampai pada dikuasainya pengendalian atas sistem yang ada, sehingga bisa digerakkan ke arah visi pembangunan yang diperjuangkan.

Dari paparan Al-Qur’an pada Surah Yusuf ini, ada sejumlah pelajaran penting yang menjadi rincian prinsip perubahan dari dalam:

  1. Upaya perubahan dari dalam, sangat mungkin membutuhkan waktu yang panjang dan menuntut keterkaitan antar generasi. Nabi Ya’qub memahami betul gambaran proyektif yang ada dalam mimpi anaknya, Nabi Yusuf. Ini bermakna dua hal: (a) Nabi Ya’qub, generasi tua, memahami rencana strategis ini dan (b) Nabi Yusuf, generasi muda, menjadi unsur kekuatan perubah yang diproyeksikan untuk melakukan penguasaan dari sebuah rencana induk (master-plan) yang diletakkan oleh generasi di atasnya.
  2. Sebuah master-plan perubahan dari dalam berikut grand strategy-nya, menuntut nilai kerahasiaan yang mesti dijaga. Karena akan selalu ada unsur-unsur dari dalam maupun luar sistem yang tidak menghendaki terealisirnya rencana tersebut, dan akan melakukan berbagai tipu-daya untuk menggagalkan atau mengambil alih misi tersebut.
  3. Sosok tokoh yang direkayasa untuk tampil sebagai agent of change dan nantinya sebagai the leader of new system adalah orang yang memenuhi kualifikasi kepemimpinan profetik, yaitu: (a) pilihan dari yang terbaik, (b) memiliki kredibilitas moral, (c) kapasitas intelektual, (d) visioner dan (e) memiliki ikatan mata-rantai sejarah perjuangan. Ini tersirat dalam QS Yusuf, 12 ayat 6-7 Kualifikasi kepemimpinan profetik ini menggambarkan dibutuhkannya sosok yang betul-betul tangguh untuk melakukan perubahan dari dalam. Dalam konteks ini pula, rencana perubahan suatu sistem, termasuk strategi perubahan dari dalam, mesti berpijak pada nilai-nilai kebenaran dan sejalan dengan bimbingan manhaj Allah SWT. Sehingga orisinalitas gerakan akan tetap terjaga ketika para pengemban misi itu masuk ke dalam sistem yang akan diperbaiki.
  4. Agent of change adalah sosok yang senantiasa disikapi secara kontroversial. Mereka sering dipersepsi sebagai ancaman bagi pihak-pihak lain, tetapi juga diperhitungkan kekuatannya sehingga tidak mudah untuk begitu saja disingkirkan seperti tercatat dalam QS Yusuf, 12 ayat 9-10. Ayat ini juga menggambarkan tentang situasi kompetitif yang bisa bersifat negatif antar berbagai unsur yang ingin mendapatkan pengakuan publik sebagai kekuatan reformis. Sehingga sebuah perubahan politik akan menggambarkan: (a) berhadap-hadapannya unsur perubah dengan penguasa dan juga (b) saling berhadapannya antar unsur kekuatan perubah itu sendiri.
  5. Figur yang akan dikokohkan sebagai agent of change akan melalui proses penempaan berupa pergulatan dengan berbagai kenyataan sosial dan politik yang berat, kompleks, kompetitif dan penuh konflik. Kematangan visi dan strategi serta ketahanan moral dan sikap perjuangan akan dihasilkan dari interaksi dengan berbagai realitas ini. Latar-belakang pergumulan sosial politik akan menjadi aset historis yang bernilai politis bagi upaya penapakan langkah-langkah strategis berikutnya.
  6. Pengungkapan berbagai fakta sejarah yang dialami tokoh-tokoh perjuangan harus menjadi bagian dari strategi pembangunan opini publik (public opinion building) untuk sasaran: (a) pendudukan realitas sejarah secara benar, (b) peraihan dukungan publik, (c) pelemahan kekuatan lawan dan (d) langkah eskalatif untuk reposisi politik. Hal yang menarik adalah, tekanan-tekanan yang dilakukan pihak lawan terhadap agent of change  tanpa disadari justru akan menjadi investasi perjuangan bagi kekuatan perubah itu. Bumerang politik dan ganjaran politik, dalam realitas sejarah, seringkali datang dari berbagai tekanan.
  7. Telah menjadi realitas dalam pergumulan politik, bahwa kekuatan muda seringkali menjadi komoditas politik yang menarik seperti terdapat dalam QS Yusuf, 12 ayat 20-21. Penguasa secara serius senantiasa memperhitungkan kekuatan muda dengan nilai tinggi. Akomodasi terhadap unsur-unsur kekuatan perubah, khususnya kaum muda, diarahkan untuk mendukung kepentingan penguasa. Kemudian, hubungan yang baik akan memberikan jalan eskalatif dan juga akseleratif kepada unsur kekuatan perubah yang diakomodir untuk berkembang menjadi kekuatan oligarki kekuasaan. Yusuf berhasil menjadi unsur elit politik penting, karena kebaikan dan kedekatan hubungan yang dipeliharanya.
  8. Namun yang penting untuk dicatat, proses eskalasi tadi akan melalui tribulasi panjang sebagai hasil tarik-menarik kepentingan di dalam kekuasaan. Tidak ada “musuh abadi” atau “kawan abadi” dalam proses pergumulan ini. Peluang untuk melakukan perubahan akan diambil secara optimal dari manapun datangnya. Yusuf awalnya dekat dengan kekuasaan, lalu disingkirkan dan berupaya kembali secara manhaji untuk dekat dengan kekuasaan. Ini tabiat perubahan dari dalam. Dinamika pergumulan inilah yang akan mematangkan pemahaman, sikap dan kemampuan politik seorang calon pemimpin. “Dan tatkala dia cukup dewasa, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”   (QS. 12: 22)
  9. Ujian terbesar bagi kaum reformis adalah rangsangan kenikmatan duniawi berupa harta, wanita dan tahta seperti ujian bagi Nabi Yusuf dalam QS Yusuf, 12 ayat 23-32. Kegagalan upaya perubahan dari dalam sering pada masalah ini. Untuk itu, setiap agen perubahan mesti memahami betul hal-hal berikut : Dasar keyakinan untuk menghadapi ujian duniawi adalah: (a) rasa takut kepada Allah, (b) sikap amanah dan pertanggungjawaban publik dan (c) kesadaran akan resiko politik. Hal lainnya adalah kekuasaan seringkali mengabaikan obyektifitas dan kebenaran demi mempertahankan dan menjaga citra kekuasaannya. Di sinilah, orang-orang baik harus menerima resiko “dikorbankan demi politik”, yaitu penjara.
  10. Nabi Yusuf ternyata mampu memelihara konsistensi sikap dan misi perjuangannya. Bahkan sikap dan misi itu tetap dipertahankan ketika ia berhadapan dengan resiko politik yang berat, yaitu dipenjara seperti tersurat dalam QS Surat Yusuf, 12 ayat 33-41. Penjara tidak membuat beliau surut, frustrasi dan mengedepankan politik dendam. Di sinilah, resiko politik harus dikalkulasi sebagai bagian integral dari sebuah master-plan dan bahkan grand-strategy. Apa yang dilakukan Nabi Yusuf di dalam penjara, menjelaskan kepada kita akan tiga hal: (a) penjara tetap menjadi lahan da’wah untuk menyampaikan nilai-nilai kebenaran, (b) Nabi Yusuf mengelola orang-orang yang ada di dalam penjara untuk menjadi aset mobilitas bagi dirinya dan (c) penjara bukanlah akhir dari perjalanan perjuangan, tetapi sangat mungkin menjadi milestone (batu loncatan) bagi eskalasi gerakan dan tujuan perjuangannya.
  11. Kemudian pada QS Yusuf, 12 ayat 50-52 memberikan pegangan penting bagi setiap agen perubah bahwa kebenaran menjadi satu-satunya bargaining point dengan kekuasaan. Tujuan untuk masuk ke dalam sistem dan mengendalikannya tidak berarti ‘menjual’ kebenaran di hadapan penguasa. Meningkatnya posisi tawar (bargaining position) Nabi Yusuf di hadapan penguasa Mesir, dimanfaatkan untuk meningkatkan bargaining point-nya berupa pengungkapan skandal fitnah yang telah menggiringnya ke penjara. Pengakuan raja akan kesalahan dan tipu daya istrinya yang menggoda Nabi Yusuf menunjukkan obyektifitas posisi Nabi Yusuf di dalam sistem dan obyektifitas penguasa dalam mengakomodasi Nabi Yusuf. Namun begitu, hal ini didisain tanpa harus mempermalukan martabat keluarga penguasa, khususnya istri sang raja. Kondisi ini membantu mengokohkan akseptabilitas dan kredibilitas Nabi Yusuf di kalangan elit istana tanpa terjadinya kecemburuan politik.
  12. Terakhir, dalam QS Yusuf, 12 ayat 54 terdapat pelajaran yang sangat menarik. Proses perjuangan panjang yang dimulai dari proyeksi Ketuhanan dan dijalani dengan usaha manusiawi yang sesuai dengan nilai-nilai Ilahi, berakhir dengan gilang gemilang, bahwa sosok mu’min yang reformer itu meraih kedudukan politik yang membuatnya mampu memperbaiki dan mengendalikan sistem yang sebelumnya jahiliyah. Sejarah kemudian membuktikan, Nabi Yusuf mampu membawa rakyat Mesir kepada kesejahteraan, keamanan dan keadilan sebagaimana tugas dan harapan para penguasa.

Akhirnya, kisah perubahan dari dalam pemerintahan, yang dilakukan oleh seorang pemuda, Nabi Yusuf berakhir dalam QS Yusuf, 12 ayat 100-101, “…Wahai ayahku! Inilah takwil mimpiku yang dahulu itu. Dan sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya kenyataan…” Bermimpilah, buatlah VISI BESAR PERUBAHAN wahai saudaraku keluarga besar PPSDMS, dan bekerjalah dengan sekuat tenaga dan secerdas pikiran karena mimpi hari ini adalah kenyataan esok hari. Insya Allah, Kitalah yang akan mengulangi sejarah ini, kitalah “Nabi Yusuf-Nabi Yusuf” baru, yang membawa ruh dan semangat bari di zaman kiwari ini. Carpe Diem – Seize the day…!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *