Kepemimpinan Profetik Nabi Yunus

“ maka mengapa tidak ada (penduduk) suatu negeri pun yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Ketika mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai waktu tertentu” (Al Qur’an, Surat Yunus, 10: 98)

Kisah kepemimpinan profetik kali ini akan membahas Nabi Yunus a.s., seorang Nabi yang melakukan kesalahan fatal, meninggalkan kaumnya-meninggalkan kewajiban untuk berdakwah, tetapi akhirnya sadar dan bertaubat kepada Allah, Allah pun mengembalikan Nabi Yunus kepada kaumnya yang juga telah bertaubat. Sungguh sebuah kisah yang penuh pelajaran hidup, bahwa sebagai seorang pemimpin pun kita pasti akan berbuat salah, tetapi yang menentukan adalah sikap dan tindakan kita selanjutnya. Seperti kisah Nabi Yunus dan kaumnya, yang akhirnya hidup bahagia bila dibandingkan dengan  sedikitnya kaum yang selamat dalam cerita Al Qur’an. Kisah ini secara lengkap terdapat dalam Al Qur’an Surat Ash-Shaffaat 37:139-148 seperti di bawah ini.

Nabi Yunus dan Kaumnya

QS 37:139, “Dan sungguh, Yunus benar-benar termasuk salah seorang Rasul”, Nabi Yunus mendapat perintah dari Allah untuk berdakwah di wilayah Ninawa (wilayah Mosul-Irak sekarang). Karena tak mendapat sambutan yang baik dari penduduk, Nabi Yunus memberi ultimatum pada kaumnya, jika dalam tempo 40 hari mereka tidak mau insyaf, tidak bertaubat kepada Allah, maka akan diturunkan siksa. Tetapi rupanya kaumnya tidak menggubris tenggang waktu itu. Mereka malah menantang dan berani menunggu datangnya siksa itu. Karena kesal, Nabi Yunus lalu pergi meninggalkan penduduk Ninawa menuju suatu tempat.

Sepeninggal Nabi Yunus, setelah 40 hari tiba-tiba muncullah awan gelap di pagi hari, semakin siang mereka melihat cahaya merah seperti api hendak turun dari langit. Mereka sangat ketakutan, berbondong-bondong mereka mencari Nabi Yunus, tapi tak ada seorang pun yang tau dimana keberadaannya. Mereka lalu bertobat dan berdoa dengan khusyu kepada Allah. Semua orang, baik laki-laki maupun perempuan, tak ketinggalan juga anak-anak saling menangis dan mengembalikan barang-barang rampasan kepada pemiliknya. Maka Allah SWT menerima taubat mereka, dan mencabut kembali azab-Nya (Al Qur’an, Surat Yunus 10: 98).

Pelarian dan Pertaubatan Nabi Yunus

QS 37:140-141, “(Ingatlah) ketika dia lari, ke kapal yang penuh muatan” (ayat 140); dan “Kemudian dia ikut diundi, ternyata dia termasuk orang-orang yang kalah (dalam undian)” (ayat 141). Setelah meninggalkan kaum Ninawa, Nabi Yunus tiba di suatu tempat di pinggir laut. Disana ia menjumpai sejumlah orang yang bergegas naik perahu. Nabi Yunus meminta izin pada mereka agar diperbolehkan ikut, dan mereka mengizinkannya. Namun ketika berada di tengah laut tiba-tiba badai menerjang. Sang Nahkoda meminta salah satu dari penumpang untuk turun agar yang lain terselamatkan. Setelah diundi berkali-kali, selalu nama Nabi Yunus yang keluar, sehingga ia pun pasrah. Ia menganggap bahwa itu sudah kehendak Allah SWT, dan ia pun terjun ke laut.

QS 37:142, “Maka dia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela”. Selagi Nabi Yunus berjuang melawan gelombang yang mengayun-ayunkannya, Allah mewahyukan kepada seekor ikan paus untuk menelannya bulat-bulat dan menyimpannya di dalam perut sebagai amanat Tuhan yang harus dikembalikannya utuh tidak cedera kelak bila saatnya tiba.

QS 37: 143-144, “Maka sekiranya dia tidak termasuk orang yang banyak berzikir (bertasbih kepada Allah” (ayat 143), “Niscaya dia akan tetap tinggal di perut (ikan itu) sampai hari berbangkit” (ayat 144). Nabi Yunus yang berada di dalam perut ikan paus yang membawanya memecah gelombang timbul dan tenggelam ke dasar laut, merasa sesak dada dan bersedih hati seraya memohon ampun kepada Allah atas dosa dan tindakan yang salah yang dilakukannya tergesa-gesa. Ia berseru didalam kegelapan perut ikan paus itu: “…Maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap: tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha suci Engkau dan sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.” (Al-Qur‘an Surat Al Anbiya‘ 21:87)

QS 37: 145-146, “Kemudian Kami lemparkan dia ke daratan yang tandus, sedang dia dalam keadaan sakit” (ayat 145) dan “Kemudian untuk dia Kami tumbuhkan sebatang pohon dari jenis labu” (ayat 146). Setelah selesai menjalani hukuman Allah, selama beberapa waktu yang telah ditentukan, ditumpahkanlah Nabi Yunus oleh ikan paus itu yang mengandungnya dan dilemparkannya ke darat. Ia terlempar dari mulut ikan ke pantai dalam keadaan kurus lemah dan sakit. Akan tetapi Allah dengan rahmat-Nya menumbuhkan di tempat ia terdampar sebuah pohon labu yang dapat menaungi Yunus dengan daun-daunnya dan menikmati buahnya.

QS 37: 147-148, “Dan Kami utus dia kepada seratus ribu (orang) atau lebih” (ayat 147), dan “Sehingga mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu tertentu” (ayat 148). Nabi Yunus setelah sembuh dan menjadi segar kembali diperintahkan oleh Allah agar pergi kembali mengunjungi Ninawa di mana seratus ribu lebih penduduknya mendamba-dambakan kedatangannya untuk memimpin mereka dan memberi tuntunan lebih lanjut untuk menyempurnakan iman dan aqidah mereka. Dan alangkah terkejutnya Nabi Yunus tatkala masuk Ninawa dan tidak melihat satu pun patung berhala berdiri. Sebaliknya ia menemui orang-orang yang dahulunya berkeras kepala menentangnya dan menolak ajarannya dan kini sudah menjadi orang-orang mukmin, soleh dan beribadah memuja-muji Allah SWT.

Pelajaran dari Kisah Nabi Yunus

Ada beberapa pelajaran penting yang dapat kita tambil dari kisah Nabi Yunus ini:

  1. Tugas kita yang utama adalah menjalankan proses dakwah dan perubahan dengan cara yang terbaik, menyelesaikan semua tahapannya, dan disertai kesabaran yang tiada batas. Nabi Yunus telah melakukan dakwahnya dengan cara yang terbaik, tetapi ketika tidak menyelesaikan semua tahapan dakwah dengan disertai kesabaran yang tiada batas, maka yang ada adalah perasaan marah dan kecewa. Ini yang harus kita camkan baik-baik dalam mengubah bangsa dan dunia ini, jangan pernah mengukur kesuksesan dakwah dan perubahan yang kita emban dengan umur dan usaha kita, tetapi wariskanlah usaha dan perubahan yang telah kita mulai kepada generasi penerus perjuangan. Dalam kisah Nabi Yunus, ternyata ketika telah datang tanda-tanda azab Allah sepeninggalnya, kaumnya pun bertaubat. Artinya proses dakwah dan perubahan yang telah dilakukan Nabi Yunus sebenarnya akan sampai pada hasil kesuksesan jika diteruskan sampai akhir.
  2. Walaupun dalam pelarian, Nabi Yunus tetap berperilaku layaknya seorang pemimpin besar. Ia rela berkorban untuk menyelamatkan para penumpang kapal yang lain. Inilah sesungguhnya sifat yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin, berkorban terus menerus dalam perjuangan dengan doa, airmata, dan darah. Bahkan nyawapun dikorbankan, tentunya setelah melakukan analisa dan diskusi yang mendalam, bukan dorongan emosi semata. Seorang pemimpin harus berkorban terlebih dahulu dibandingkan para pengikutnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Jangan sampai kita menjadi seorang pemimpin yang menyerukan hidup sederhana, mencintai produk dalam negeri, dan melarang korupsi sementara kita lah yang paling dulu melanggarnya.
  3. Ketika berada di dalam perut ikan paus yang gelap gulita, Nabi Yunus merasa kehidupannya benar-benar gelap gulita oleh gelapnya perut ikan paus, gelapnya lautan yang dalam, serta gelapnya malam yang kelam di tengah lautan. Tetapi Nabi Yunus mengakui dosa-dosanya, bahkan ia mengaku termasuk orang-orang yang zalim (orang yang memiliki sifat kejam, bengis, tidak berperikemanusiaan, suka melihat orang dalam penderitaan dan kesengsaraan, melakukan kemungkaran, penganiayaan, bertindak tidak adil dan banyak lagi pengertian yang dapat diambil dari sifat zalim tersebut, yang mana pada dasarnya sifat ini merupakan sifat yang keji dan hina, dan sangat bertentangan dengan akhlak dan fitrah manusia, yang seharusnya menggunakan akal untuk melakukan kebaikan). Jika seorang Nabi saja mau menyadari dan mengakui bahwa dirinya adalah orang yang zalim, apatah lagi kita, yang bukan seorang nabi, seharusnya lebih mengakui kesalahan dan kekhilafan yang kita lakukan. Seorang pemimpin dan pengarah perubahan yang baik akan selalu mengevaluasi dirinya, organisasinya, dan pemerintahannya, sesudah itu melakukan reformasi dan perubahan yang diperlukan untuk meraih visi dan misi kehidupan yang telah ditetapkan.
  4. Proses pendidikan terakhir dari Allah terhadap Nabi Yunus yang telah melakukan kesalahan adalah diuji dengan daratan yang tandus, dalam keadaan sakit, dan hanya dinaungi oleh tumbuhan labu yang kecil. Dalam Al Qur’an, pengertian syajarah (pohon) berkaitan erat dengan “perubahan” (change). Perubahan yang bermakna “gerak” (movement) menuju bumi untuk menerima dan menjalankan fungsinya sebagai khalifah (QS. Al Baqarah 2:35; Al A’raf 7:19, 22). Petunjuk Allah pun diibaratkan pula sebagai “pelita kaca yang bercahaya seperti mutiara” dan dinyalakan dengan bahan bakar min syajaratin mubarakah (QS. An Nur 24: 35). Juga merupakan gambaran keberhasilan yang dicapai oleh Nabi Musa, yang digambarkan dengan pohon yang tinggi dan tumbuh di tempat yang tinggi (QS. Al Qashas 28: 30). Nampaknya, untuk Nabi Yunus, pohon memberikan gambaran kegagalannya yang dilukiskan sebagai “pohon labu” yang rendah dan lemah (QS. 37: 146). Seorang pemimpin yang ingin membuat sejarah besar, harus selalu berkata-kata yang baik, yang berdasar pada kalimat tauhid, karena hanya dengan kalimat tauhidlah Ketika seseorang mengucapkannya maka dia seperti pohon yang kokoh perakarannya dan melimpah ranting-rantingnya dengan arah gerakan ke langit. Orang yang mengucapkan kalimat di atas adalah orang yang berpijak dengan pijakan kuat di bumi dengan tangan-tangan yang senantiasa menengadah ke langit, mengharapkan rahmat dan kasih sayangNya. Dalam makna yang lebih luas, perkataan yang baik adalah juga pohon yang kuat yang ranting-rantingnya senantiasa menghasilkan buah. Perkataan yang baik adalah menambah kesuburan induknya ketika kalimat itu disampaikan lagi kepada orang lain.
  5. Setelah lulus dalam pendidikan ulang oleh Allah maka Nabi Yunus pun siap berjuang dan berdakwah kembali. Nabi Yunus siap mengelola potensi ummat nya yang sedemikian banyak, seratus ribu orang atau lebih. Nabi Yunus telah mentransformasikan dirinya, dari seorang yang hanya mengatur diri sendiri dengan beberapa pengikut, menjadi seorang pemimpin dan manajer yang handal, yang mampu mengatur sebuah bangsa dan negara. Tidaklah mudah untuk mengatur dan mensinergiskan banyak orang dalam satu kesatuan yang bergerak teratur dan harmoni dalam mencapai tujuan, tetapi Nabi Yunus sanggup dan membuktikan bahwa ia dapat mengelola semua potensi rakyatnya di berbagai sektor kehidupan (public sector, private sector, dan third sector). Dengan itu, Allah memberikan kenikmatan hidup, kesuksesan dunia dan peradaban bagi mereka.

Penutup

Bagi kita bangsa Indonesia, marilah belajar dari sejarah umat-umat dahulu, terutama dalam melihat berbagai bencana yang terjadi sekarang ini. Tidakkah kita dapat merasakan bahwa persoalan yang sedang melanda bangsa ini adalah teguran dari Allah yang sangat sayang kepada kita? Malukah kita kalau bersikap terbuka (ikhlas dan jujur) untuk mengakui bahwa kita sekarang berhadapan dengan akibat dari kelalaian, keserakahan, dan kesombongan kita? Hanya ada satu solusi untuk mengatasi kemelut yang sedang menantang bangsa kita, yaitu mengikuti jejak Nabi Yunus dan umatnya sebelum kita melakukan usaha-usaha yang lain.

Mari kita ajak bangsa ini untuk mengakui kesalahan kita di hadapan Allah karena kita semua, baik pemimpin maupun rakyat, adalah manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Mari kita contoh Nabi Yunus dan umatnya yang bangkit dari kesalahan dan berjihad dengan sungguh-sungguh untuk memajukan bangsa dan negara. Insya Allah kita akan menjadi bangsa lebih baik dan bermartabat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *