“dan Sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. Kemudian mereka dilanda banjir besar, sedangkan mereka adalah orang-orang yang zalim” (Al Qur’an, Surat Al Ankabut, 29 ayat 14)

Kepemimpinan Profetik Nabi Nuh AS

Di Bulan Syawal setelah Bulan Ramadhan 1431H yang telah me-recharge ruhiyah dan spiritual kita semua, kepemimpinan profetik kali ini akan membahas kepemimpinan profetik Nabi Nuh a.s., seorang Rasul Ulul ‘Azmi yang memiliki semangat yang membaja, tekad yang kuat, dan kesabaran tiada batas dalam berdakwah. Nabi Nuh tanpa kenal menyerah terus menyampaikan risalahnya kepada keluarga dan kaumnya untuk kembali menyembah dan mentaati Allah dan Rasul sepeninggal Nabi Idris. Terbukti, siang dan malam selama 950 tahun, tanpa kenal lelah Beliau berdakwah dengan jumlah pengikut yang sedikit bahkan istri dan anaknya yang bernama Kan’an pun termasuk barisan yang menentangnya.

Sungguh sebuah kisah yang penuh inspiratif, perjuangan dalam kurun yang lama (ratusan tahun, nyaris satu milennium) dengan hasil pengikut yang sedikit, tidak menyurutkan langkah Nabi Nuh sedetikpun. Bahkan Nabi Nuh dan kaumnya, akhirnya menjadi pemenang dan pembentuk peradaban baru manusia pasca bencana air bah yang menenggelamkan kaum yang menentang dan mendurhakainya. Kisahnya secara lengkap terdapat dalam banyak surat Al Qur’an terutama Surat Nuh, 71 ayat 1-28 seperti di bawah ini.

Dakwah Nabi Nuh

Dalam ayat-ayat awal Al Qur’an Surat Nuh, 71 ayat 5-9 dikisahkan tentang proses dan perjuangan dakwah Nabi Nuh, yaitu: “(5) Dia (Nuh) berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam”; (6) Tetapi seruanku itu tidak menambah (iman) mereka, justru mereka lari (dari kebenaran); (7) Dan sesungguhnya aku setiap kali menyeru mereka (untuk beriman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jarinya ke telinganya dan menutupkan bajunya (ke wajahnya) dan mereka tetap (mengingkari) dan sangat menyombongkan diri; (8) Lalu  sesungguhnya aku menyeru mereka dengan cara terang-terangan; (9) Kemudian aku menyeru mereka secara terbuka dan dengan diam-diam.”

Nabi Nuh tanpa lelah pada waktu siang dan malam terus berdakwah dengan berbagai metode baik dengan metode dakwah sirriyyah (dakwah sembunyi-sembunyi), metode dakwah jahriyyah (dakwah secara terang-terangan) maupun dengan melaksanakan secara bersamaan kedua cara tersebut, namun tetap saja tidak membuahkan hasil yang menggembirakan dimana mayoritas kaum Nabi Nuh tidak mengikuti dakwahnya.  Artinya, walaupun Nabi Nuh telah mengerahkan berbagai daya upaya, program-program yang sangat kreatif inovatif, dan dilaksanakan secara persisten tetapi karena kaumnya memang sudah berniat untuk menolak risalahnya (dengan menulikan telinganya dan tidak mau melihat apa yang dilakukan Nabi Nuh dan pengikutnya) maka tiada satu pun upayanya yang berhasil.

Padahal yang didakwahkan oleh Nabi Nuh adalah risalah dari Allah tentang ketauhidan seperti yang telah didakwahkan oleh Nabi sebelumnya (Nabi Adam dan Nabi Idris) dan juga Nabi-Nabi sesudahnya sebagaimana terdapat dalam Al Qur’an Surat Nuh, 71 ayat 3: “(yaitu) sembahlah Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku.” Hal ini juga terdapat di dalam Al Qur’an Surat Al A’raf, 7 ayat 59: “Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia berkata, Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada Tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya aku takut kamu kamu akan ditimpa azab pada hari yang dahsyat (kiamat)” serta Al Qur’an Surat Al Mu’minun, 23 ayat 23: “Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah, (karena) tidak ada tuhan (yang berhak disembah) bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?”

Pembangkangan kaum Nabi Nuh

Al Qur’an mencatat bahwa jawaban kaum Nabi Nuh terhadap dakwahnya hanyalah pembangkangan serta pelecehan dengan menganggap Nabi Nuh hanya seorang manusia biasa yang hina dina, berdusta, ambisius dan gila. Jawaban-jawaban ini dimuat dalam Al Qur’an Surat Hud, 11 ayat 27: “Maka berkatalah para pemuka yang kafir dari kaumnya, “kami tidak melihat engkau, melainkan hanyalah seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang yang mengikuti engkau, melainkan orang yang hina dina diantara kami yang lekas percaya. Kami tidak melihat kamu memiliki suatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami menganggap kamu adalah orang yang mendusta” dan juga termaktub dalam Al Qur’an Surat Al Mu’minun, 23 ayat 24-25: (24) Maka berkatalah para pemuka orang kafir dari kaumnya. “Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang ingin menjadi orang yang lebih mulia daripada kamu. Dan seandainya Allah menghendaki, tentu Dia mengutus malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada (masa) nenek moyang kami dahulu. (25) Dia hanyalah seorang laki-laki yang gila, maka tunggulah (sabarlah) terhadapnya sampai waktu yang ditentukan.”

Selain itu, pembangkangan mereka pun terus dilakukan dengan tetap menyembah kepada berhala-berhala yang terbesar yaitu Wadd, Suwa’, Yagus, Ya’uq, dan Nasr, yang semula adalah nama-nama orang shaleh pengikut Nabi Idris. Bahkan mereka menantang untuk didatangkan azab seperti yang disampaikan Nabi Nuh jika mereka tidak beriman.  Hal di atas di jelaskan dalam Al Qur’an Surat Nuh, 71 ayat 23: “Dan mereka berkata, “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan  (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa’, Yagus, Ya’uq, dan Nasr” dan Al Qur’an Surat Hud, 11 ayat 32: “Mereka berkata, “Wahai Nuh! Sungguh, engkau telah berbantah dengan kami, dan engkau telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang engkau ancamkan, jika kamu termasuk orang yang benar.”

Akhirnya Allah memenuhi permintaan mereka dengan mendatangkan air bah dan banjir besar yang menenggelamkan mereka semua dan menyelematkan Nabi Nuh dan pengikutnya yang telah membuat bahtera besar seperti dalam Al Qur’an Surat Nuh, 71 ayat 25: disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong selain Allah dan Al Qur’an Surat Al ‘Ankabut, 29 ayat 15: Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang berada di kapal itu, dan Kami jadikan (peristiwa) itu sebagai pelajaran bagi semua manusia.

Pelajaran dari Kisah Nabi Nuh

Sesuai dengan Al Qur’an Surat Al ‘Ankabut, 29 ayat 15 di atas, ada beberapa pelajaran penting yang dapat kita ambil dari kisah Nabi Nuh ini

Kesabaran dan Keikhlasan dalam Berjuang

Nabi Nuh termasuk salah satu Nabii yang tergolong Ulul ‘Azmi yaitu para nabi dan rasul yang memiliki ‘azam (keteguhan hati) dan kesabaran dalam berda’wah. Keteguhan hati dan kesabaran dalam berjuang dalam kurun waktu yang sangat lama inilah yang harus kita teladani. Terlebih lagi menghadapi  hasil perjuangan yang kurang menggembirakan bahkan cacian dan makian yang didapat tidak akan menyurutkan perjuangan ini, sebagaimana firman Allah dalam  Al Qur’an Surat Al Ahzab, 33 ayat 7: Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari para nabi dan dari engkau (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh. Yang dimaksud dengan “perjanjian yang teguh” adalah kesanggupan mneyampaikan agama kepada umatnya masing-masing dengan kesungguhan dan kesabaran.

Demikianlah mestinya seorang pejuang dan da’i di dalam perjuangan dan dakwahnya, semata-mata menyampaikan kebenaran dengan ikhlas, bukan karena mengejar target jumlah pengikut. Seandainya keberhasilan dakwah diukur dari banyaknya jumlah orang yang mengikuti, maka Nabi Nuh  termasuk nabi yang gagal dalam dakwahnya dan tidak akan termasuk nabi Ulul ‘Azmi. Namun dalam keadaan sedikitnya jumlah pengikutnya walaupun telah 950 tahun berdakwah, Allah menyebut Nabi Nuh sebagai hamba yang bersyukur seperti dalam Al Qur’an Surat Al Isra’, 17 ayat 3: (Wahai) keturunan orang yang Kami bawa bersama Nuh. Sesungguhnya dia (Nuh) adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.

Kepemimpinan dalam Membuat Bahtera

Bayangkan pula bagaimana susahnya membuat kapal yang besar dalam suasana tertekan dan penuh permusuhan dari kaum yang membangkang dan mendurhakainya, tetapi Nabi Nuh tetap yakin akan visi penyelamatan peradaban ini dan tetap memimpin pengikutnya untuk menyelesaikan tugas besar tersebut. Tanpa mengenal lelah, saling memotivasi dan tetap percaya diri dari kaum pembangkang yang selalu mengejeknya, Nabi Nuh dan pengikutnya dapat menyelesaikan perahu penyelamat tersebut. Setelah itu, Nabi Nuh dan para pengikutnya memasukkan banyak jenis hewan-hewan sepasang-sepasang ke dalam perhau tersebut. Akhirnya, Kapal Nabi Nuh berlayar dengan selamat diatas gelombang yang dahsyat.

Hal ini dijelaskan dalam Al Qur’an Surat Al Hud, 11 ayat 37-40: (37) Dan buatlah kapal itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah engkau bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim. Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. (38) Dan mulailah dia (Nuh) membuat kapal. Setiap kali pemimpin kaumnya berjalan melewatinya, mereka mengejeknya. Dia (Nuh) berkata, “Jika kamu mengejek kami, maka kami (pun) akan mengejek kamu sebagaimana kamu mengejek (kami). (39) Maka kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakan dan (siapa) yang akan ditimpa azab yang kekal. (40) Hingga apabila perintah Kami datang dan tanur (dapur) telah memancarkan air, Kami berfirman, “Muatkanlah kedalamnya (kapal itu) dari masing-masing (hewan) sepasang (jantan dan betina), dan (juga) keluargamu kecuali orang yang telah terkena ketetapan terdahulu dan (muatkan pula) orang yang beriman.” Ternyata orang-orang berimana yang bersama dengan Nuh hanya sedikit.”

Kekuatan Doa

Banyak orang di zaman kiwari ini yang mudah stress jika ditimpa masalah, tantangan, dan hambatan yang menimpanya dalam kehidupan sehari-hari. Ternyata mereka adalah orang-orang yang tidak mengkomunikasikan permasalahan yang dihadapinya kepada orang lain hingga masalah itu menumpuk dalam diri mereka masing-masing. Nabi Nuh mencontohkan kepada kita bahwa untuk terbebas dari tekanan masalah, jepitan manusia lain dan perasaaan kalah, maka Beliau tidak mengadu kepada manusia tetapi langsung mengadu kepada Allah, Raja nya manusia. Dia takut dan tidak bersedih dalam menghadapi rintangan dan hambatan, tetapi dia berdoa, mengadu, dan menyeru kepada Allah sehingga akhirnya Allah memenangkan perjuangannya.

Ini termaktub dalam Al Qur’an Surat Al Mu’minun, 23 ayat 26: “Dia (Nuh) berdoa, “Ya Tuhanku, tolonglah aku, karena mereka mendustakan aku” dan juga dalam Al Qur’an Surat As Saffat, 37 ayat 75: “Dan sungguh, Nuh telah berdoa kepada Kami, maka sungguh, Kamilah sebaik-baik yang memperkenankan doa” serta dalam dalam Al Qur’an Surat Al Qamar, 54 ayat 10:  “Maka dia (Nuh) mengadu kepada Tuhannya, “Sesungguhnya aku telah dikalahkan, maka tolonglah aku”.

Penutup

Sesungguhnya kejayaan yang hakiki dan kemenangan yang besar adalah saat mendapatkan keyakinan akan kebenaran yang diperjuangkan, bukan dengan banyaknya pejuang dan para pengikut kebenaran, namun terletak pada visi dan ideologi yang diyakini. Karena itu, bukanlah jumlah pengikut yang sedikit atau banyak, tetapi hanya pejuang-pejuang yang mampu memahami makna tauhid yang sebenarnya dan merealisasikan arti beribadah kepada Allah, yang dapat menghancurkan semua musuhnya dan menciptakan bangsa yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Mari kita contoh Nabi Nuh dan ummatnya yang berhasil selamat dari bencana banjir yang sangat dahsyat untuk membentuk peradaban baru demi memajukan bangsa dan negara. Insya Allah, dengan kesabaran dan kesungguhan tekad serta perjuangan yang tidak kenal menyerah, bersama-sama kita akan mewujudkan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat serta kebaikan bagi seluruh alam semesta.

Save

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *