Belajar dari Ibrahim
Belajar taqwa kepada Allah
Belajar dari Ibrahim
Belajar untuk mencintai Allah

Malu pada Bapak para Anbiya
Patuh dan taat pada Allah semata
Tanpa pernah mengumbar kata-kata
Jalankan perintah tiada banyak bicara

(Snada, Belajar dari Ibrahim, Album Neo Shalawat)

Seperti syair nasyid di atas, banyak pelajaran yang kita dapatkan ketika mengkaji kehidupan Nabi Ibrahim, Bapak Tauhid se Dunia, yang namanya diabadikan menjadi surat ke 14 dalam Al Qur’an. Pelajaran dan hikmah Nabi Ibrahim akan selalu mencerahkan dan menjadikan kita seorang pemimpin transformatif yang selalu optimis dan berpikiran maju. Bagaimana tidak, Nabi Ibrahim telah menggoreskan keteladanan luar biasa dalam menegakkan idealisme Nya, semangat untuk mencari kebenaran, dan pengorbanan dalam perjuangan.

Seperti yang terdapat dalam Al Qur’an Surat Al Mumtahanah, 60 ayat 4:
Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dengan kamu kebencian dan permusuhan buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja...”

Pemimpin Pejuang Pencari dan Penegak Kebenaran

Di masa itu, hampir semua orang mengikuti ajaran agama politeisme dengan menyembah lebih dari satu Tuhan dan menganut paganisme. Dewa Bulan atau Sin merupakan salah satu berhala yang paling penting. Bintang, bulan dan matahari menjadi objek utama penyembahan dan karenanya, astronomi merupakan bidang yang sangat penting. Sewaktu kecil Nabi Ibrahim sering melihat ayahnya membuat patung-patung berhala tersebut yang banyak disembah oleh kaumnya. Akhirnya Nabi Ibrahim memutuskan untuk mencari kebenaran agama hakiki yang akan dianutnya.

Pencarian Nabi Ibrahim tentang kebenaran tauhid dalam hal agama di tuliskan dalam al-Qur’an Surat Al-An’am, 6 ayat 76-78:
Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang, (lalu) dia berkata, “Inikah Tuhanku?”. Tetapi tatkala bintang itu tenggelam, dia berkata, “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”. Kemudian tatakala dia melihat bulan terbit, dia berkata, “Inikah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata,”Sesungguhnya jika Tuhan-ku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”. Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata, “Inikah Tuhanku? Ini lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata, “Hai kaumku sesungguhnya aku berlepas diri apa yang kamu persekutukan”.

Inilah daya nalar dan pencarian keimanan Nabi Ibrahim dalam menolak agama penyembahan langit yang dipercayai kaumnya serta menerima Allah SWT sebagai Tuhan yang sebenarnya.

Pemimpin Pejuang yang Rela Berkorban

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang rela bekorban untuk kemajuan negara dan rakyatnya bahkan untuk generasi selanjutnya, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim. Tidak hanya Nabi Ibrahim saja bahkan Nabi-Nabi yang lainpun selalu berkorban bahkan sampai ke tingkat nyawa hanya untuk kepentingan rakyat dan agamanya. Nabi Ibrahim misalnya berkorban mempertaruhkan nyawanya ketika menghadapi para penyembah berhala dengan sebuah konsekwensi hidup atau mati. Konsekwensi ini disebabkan karena masyarakat yang dihadapinya adalah masyarakat yang tidak mau berpikir secara rasional. Selain itu, Nabi Ibrahim juga menjadi korban perasaan ketika harus berhadapan dengan orang tuanya sendiri yang notabenenya sebagai pembuat patung-patung berhala, Tuhan-Tuhan kaumnya.

Pengorbanan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim ini memiliki nilai yang sangat luar biasa, karena sanggup menghadapi hukuman yang berat seperti dibakar hidup-hidup dan diasingkan. Prinsip kepemimpinan Nabi Ibrahim yang rela berkorban ini bukan datang dengan sendirinya tanpa usaha. Akan tetapi munculnya sifat ini adalah sebagai dampak dari keberhasilannya dalam menghadapi ujian-ujian yang datang silih berganti dalam kehidupannya. Pemimpin yang rela berkorban ini pastilah seorang negarawan sejati yang lebih mementingkan rakyat daripada dirinya sendiri, dan karenanya filosofi yang selalu dipakai adalah “apa yang bermanfaat untuk rakyat banyak”. Beliau bukan seorang pemimpin atau calon pemimpin yang berkorban secara mendadak dan temporer untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya saja.

Pemimpin Pejuang yang ber-Musyawarah

Nabi Ibrahim dengan anaknya, juga memiliki nilai sejarah tentang pendekatan kepemimpinan yang luar biasa. Yaitu tatkala utusan Allah ini mendapatkan wahyu lewat mimpi agar menyembelih anak kesayangannya, Isma’il. Tetapi perintah ini tidak segera dijalankan oleh Nabi Ibrahim. Dia menyampaikan terlebih dahulu kepada anaknya, tentang adanya perintah tersebut dan bagaimana hal itu disikapi bersama.

Penyikapan Ibrahim ini adalah pelajaran yang amat mulia, jika dipedomani dalam kehidupan sehari-hari. Seorang ayah atau pemimpin dalam menjalankan sesuatu, selalu mengajak bermusyawarah terlebih dahulu, agar semua keputusan yang diambil bisa diterima dengan ikhlas. Hal ini akhirnya diabadikan oleh Allah menjadi hari raya kita, hari raya Idhul Adha.

Pemimpin Pejuang Idealisme yang Tak Kunjung Padam

Nabi Ibrahim memiliki idealisme sekaligus loyalitas dan totalitas yang tinggi kepada Allah semenjak masih muda sampai ia sudah tua. Inilah yang amat dibutuhkan dalam kehidupan di negeri kita, jangan sampai ada generasi yang pada masa mudanya menentang kezaliman, tapi ketika ia berkuasa pada usia yang lebih tua justru ia sendiri yang melakukan kezaliman yang dahulu ditentangnya itu. Jangan sampai ada generasi yang semasa muda menentang korupsi, tapi saat ia berkuasa di usianya yang sudah semakin tua justeru ia sendiri yang melakukan korupsi padahal dahulu sangat ditentangnya.

Dalam kehidupan sekarang, kita dapati banyak orang yang tidak mampu mempertahankan idealisme atau dengan kata lain tidak konsisten dan teguh pendirian, sehingga apa yang dahulu diucapkan dan diperjuangkan tidak tercermin dalam langkah dan kebijakan hidup yang ditempuhnya. Apalagi jika hal itu dilakukan karena terpengaruh oleh sikap dan prilaku orang lain, teman sejawat atau kelompoknya yang tidak baik.

Pemimpin Pejuang Seluruh Manusia

Dari sekian banyak pelajaran dan hikmah dari pribadi Nabi Ibrahim dan keluarganya adalah pelajaran tentang kepemimpinan. Di mana Allah telah memilih Nabi Ibrahim sebagai pemimpin bagi umat manusia atas berbagai prestasinya yang gemilang dalam banyak ujian yang telah dilaluinya. Dalam hal ini Allah menyebutkan dalam Al Qur’an surat Al Baqoroh, 2 ayat 124:

”Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu pemimpin bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya memohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman ”Janjiku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim”.

Di antara perintah dan ujian itu adalah Nabi Ibrahim perintah untuk berdakwah memurnikan ketauhidan ummat manusia yang telah terkontaminasi oleh perbuatan syirik (menyekutukan Allah), Beliau berjuang dengan segala upaya melakukan perdebatan siapakah sebenarnya Tuhan sampai akhirnya berjuang secara fisik menghancurkan berhala-berhala yang beresiko pada hukuman pembakaran diri Beliau dan menghadapi kezaliman Raja Namrud. Beliau pun diuji oleh Allah agar melakukan khitan pada usia dewasa dan terbilang senja. Ujian berikutnya adalah mendapat keturunan pada usia yang sangat tua, berpisah dengan anak isteri yang dicintainya dan membangun Ka’bah. Dan pada puncaknya diperintahkan oleh Allah agar menyembelih Ismail, putera yang selama ini dirindukan dan sangat Beliau sayangi.

Selanjutnya Allah mengangkat Nabi Ibrahim sebagai pemimpin bagi manusia. Pemimpin yang menjadi tauladan yang baik dan berlaku bijak dan adil terhadap rakyat yang dipimpinnya. Pemimpin manusia di bidang misi risalah yang diembannya dari Allah, di bidang kehidupan beragama, politik, hukum, ekonomi dan lain-lain. Pemimpin yang berjuang untuk mengangkat martabat rakyatnya agar menjadi bangsa yang punya kehormatan, harga diri, dan berwibawa di mata Allah dan di dalam percaturan dunia.

Nabi Ibrahim, sebagaimaa manusia biasa lainnya, berharap agar kepemimpinannya itu kelak akan diwariskan kepada anak cucunya, tetapi Allah memberikan ketentuan bahwa kepemimpinan ini tidak akan diberikan-Nya kepada orang-orang yang berbuat zalim; yaitu orang yang zalim terhadap dirinya dengan berbuat syirik (menyekutukan) kepada Allah, atau orang yang berbuat zalim kepada umat manusia dengan cara mengkhianati amanah dan tanggung jawab yang telah dipercayakan kepadanya.

Kepemimpinan ini salah satu buktinya adalah keberadaan Nabi Ibrahim yang diakui oleh seluruh pemeluk agama; Islam, Yahudi, Nashrani dan para penyembah berhala dan api. Seluruh agama samawi ini mengaku dan berbangga diri sebagai penerus agama Nabi Ibrahim.

Penutup

Karakter pemimpin yang akan kita bentuk dan kita harapkan adalah seorang yang bisa membawa masyarakat keluar dari kungkungan krisis multidimensi yang sedang menghimpit kehidupan berbangsa dan bernegara. Karakter-karakter itu, tiada lain hanya ada pada mereka yang bertakwa, dengan memenuhi tiga standar pemimpin orang yang bertakwa. Pertama, pemimpin yang memimpin dengan hikmah (keseimbangan di antara penguasaan ilmu dan prakteknya, yang mengantarkan diperolehnya kebenaran). Kedua, pemimpin yang memimpin dengan kemampuan mengendalikan diri dari kekuatan-kekuatan hawa nafsu, karena rakus dan tamak; baik tamak terhadap nafsu seksual, tamak terhadap kekuasaan maupun tamak terhadap harta kekayaan. Ketiga, pemimpin yang memimpin dengan keberanian dalam menjalankan kebenaran.

Mudah-mudahan dengan belajar dari Nabi Ibrahim, kita benar-benar akan menjadi pemimpin pejuang pencari dan penegak kebenaran, yang rela berkorban, bermusyawarah, dan memiliki idealisme yang tak kunjung padam, sampai maut menjemput kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *