Kepemimpinan Profetik Nabi Daud – “Tidakkah kamu perhatikan para pemuka Bani Israil setelah Musa wafat, ketika mereka berkata kepada seorang nabi mereka, “Angkatlah seorang raja untuk kami, niscaya kami berperang di jalan Allah”. Nabi mereka menjawab, “jangan-jangan jika diwajibkan atasmu berperang, kamu tidak akan berperang juga?” Mereka menjawab, “ Mengapa kami tidak akan berperang di jalan Allah, sedangkan kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dan (dipisahkan dari) anak-anak kami?” Tetapi ketika perang itu diwajibkan atas mereka, mereka berpaling, kecuali sebagian kecil dari mereka…”

(QS Al Baqarah, 2: 246)

Pertentangan adalah salah satu sunnah (hukum) kehidupan. Ada baik dan buruk, ada yang menguntungkan dan yang merugikan, ada al-haq dan al-bathil dan sebagainya. Antar keduanya bukan semata berbeda, tetapi saling berlawanan secara hakiki. Seringkali pertentangan ini menajam sampai pada upaya saling menghancurkan. Itulah sebabnya Allah SWT menegaskan dalam suatu ayat “Telah datang al-haq dan hancurlah al-bathil, karena sesungguhnya kebathilan itu pasti akan lenyap”. Inilah dasar pemikiran bagi revolusi sebagai salah satu metode perubahan di dalam Islam.

Ada pelajaran berharga dari cuplikan kisah Bani Israil sepeninggal nabi Musa ketika mereka melakukan sebuah revolusi untuk menumbangkan kekuasaan tiranik Raja Fir’aun yang sekian lama menzhalimi mereka. Kisah ini secara panjang-lebar diungkap dalam surah Al-Baqarah ayat 246 – 251. Ada beberapa pelajaran penting dari QS Al Baqarah ayat ke 246 ini, yaitu:

  1. Setiap upaya perubahan umumnya berangkat dari gagasan yang diinisiasikan oleh sekelompok kecil orang (elit) yang ada di masyarakat. Ini menunjukkan pentingnya peran elit sosial atau elit politik yang memiliki tiga hal, yaitu (a). wawasan intelektual, (b). kesadaran politik dan (c). basis dukungan sosial.
  2. Sebuah upaya perubahan secara sistematis, khususnya revolusi, membutuhkan kehadiran seorang pemimpin besar. Kepemimpinan dibutuhkan sebagai kekuatan untuk mengintegrasikan seluruh unsur kekuatan sosial dan mentransformasikannya menjadi sebuah kekuatan politik yang besar.
  3. Upaya perubahan yang revolusioner membutuhkan legitimasi nilai untuk mengkristalkan faktor-faktor perlawanan dan mensakralkan tujuan perjuangan. Agama (fi sabilillah) adalah faktor legitimasi dan sakralisasi yang paling kuat dan efektif.
  4. Semangat perlawanan revolusioner seringkali berangkat dari letupan-letupan emosi-massa yang perlu diuji konsistensi dan kontinuitasnya. Sebuah gerakan revolusi tanpa pendalaman dan pengujian terhadap hal ini hanya akan menghasilkan absurditas dan kematian dini (prematur).
  5. Ternyata, motif perlawanan yang seringkali muncul pada diri manusia adalah dari faktor-faktor material. Kesejahteraan, keamanan dan kekuasaan sangat dominan mempengaruhi gerak-perilaku manusia. Itulah sebabnya Karl Marx misalnya, menjadikan materi sebagai motif dasar perilaku manusia. Oleh karena itu, sebuah gagasan revolusi harus mampu membedah motif dasar yang dimiliki oleh kaum revolusioner, di luar kemasan yang bisa beraneka-ragam.
  6. Arus besar revolusi akan senantiasa menghimpun dua unsur kekuatan; pertama sekelompok kecil kaum revolusioner yang memiliki kepentingan ideologis dan komitmen kuat dalam perjuangan. Kedua, bagian besar kaum marjinal yang masuk dalam pusaran dengan kepentingan pragmatis dan tidak teruji komitmen perjuangannya. Ketika motif material suatu revolusi sangat dominan, biasanya bagian terbesar dari unsur revolusi ini akan mudah dan cepat surut ke belakang dan meninggalkan sekelompok kecil kaum revolusioner saja.

Pada ayat selanjutnya, yaitu QS Al Baqarah ayat ke 247, kita temukan beberapa kaidah mendasar, yaitu:

  1. Kepemimpinan dalam sebuah revolusi dimunculkan dengan dua kaidah dasar, yaitu: pertama, pemimpin revolusi adalah orang yang tumbuh dari masyarakat itu sendiri, sehingga ia paham dan mampu merasakan denyut nadi penderitaan masyarakat serta memiliki basis sosial yang kokoh. Kedua, pemimpin revolusi adalah orang yang harus setidaknya memenuhi dua kualifikasi; (a). berwawasan luas dan (b). kemampuan fisik yang handal.
  2. Ternyata, conflict of interest senantiasa muncul dalam pergumulan revolusi. Itulah sebabnya ada yang menyatakan bahwa “revolusi adalah perjuangan orang-orang yang tidak mendapatkan kekuasaan”. Di sini, kalangan elit Bani Israil menolak kepemimpinan Thalut karena mereka merasa lebih berhak atas klaim kepemimpinan dan kekuasaan. Dan seringkali dasar klaim mereka terletak pada penguasaan aset-aset material.

Selanjutnya pada QS Al Baqarah ayat ke 248, kita dapati kunci kemenangan, yaitu:

  1. Inilah doktrin dasar perjuangan yang harus dipegang oleh setiap muslim. Bahwa benar akan muncul sekian banyak kekuatan perlawanan unuk menumbangkan kezhaliman, dan mereka akan menggunakan beraneka macam bendera. Tetapi kekuatan yang dijanjikan kemenangan oleh Allah SWT adalah kekuatan yang mewarisi risalah kenabian dan mereka tegak di atas nilai-nilai kebenaran.
  2. Kunci kemenangan bagi kekuatan pewaris risalah kenabian, bukan semata karena mereka dijanjikan pertolongan dari Allah SWT. Tetapi juga pada kondisi prasyarat yang mereka miliki, yaitu sakinah (ketentraman). Dalam suatu pertarungan, dibutuhkan 3 macam ketenangan, yaitu: (a). ketenangan ideologis, yaitu keyakinan dan keteguhan terhadap kebenaran yang diperjuangkan dan terhadap pertolongan Allah. (b). ketenangan psikologis, yaitu sikap jiwa di dalam menghadapi kekuatan lawan dan di dalam mengendalikan gejolak kejiwaannya. (c). ketenangan syari’at, yaitu konsistensi di dalam syari’at dan metode dalam berbagai dinamika situasi-kondisi yang dihadapi. Semua bentuk ketenangan ini hanya muncul dari sikap berpegang teguh kepada Kitab Allah.

Kemudian pada QS Al Baqarah ayat ke 249, kita mengetahui tantangan dan godaan dalam proses perjuangan, yaitu:

  1. Peperangan tidak bisa dilepaskan dari keterlibatan unsur materi. Kezhaliman atas hak-hak materi suatu kelompok masyarakat menjadi salah satu faktor yang mengkristalkan semangat perlawanan. Itulah sebabnya, hukum perang di dalam Islam mengenalkan konsep fa’i (perampasan aset material untuk melemahkan musuh) dan ghanimah (penguasaan aset material musuh yang berhasil dikalahkan). Tetapi, karena sifat sensitifitasnya yang bisa memicu konflik – ingat kasus perebutan ghanimah paska Perang Badar – maka pengaturan kedua hal ini mengacu kepada syari’at dan dikelola oleh pemimpin kaum muslimin (QS Al Anfal, 8: 1).
  2. Yang penting untuk dipahami, suatu revolusi yang menggerakkan seluas-luasnya unsur-unsur masyarakat, tidak bisa menghindari diri dari munculnya segmen periferal (lapisan pinggir dari kekuatan perjuangan) yang bersikap dan berfikir serba pragmatis. Anarkisme perjuangan sering muncul dari segmen ini, karena nafsu material dan kebodohan syari’at. Itulah sebabnya dalam kasus Thalut, sebagian besar pengikutnya yang tergolong periferal ini terjebak ke dalam godaan ujian air sungai (…tetapi mereka meminumnya kecuali sebagian kecil di antara mereka…).
  3. Bobot dan konsistensi kekuatan perjuangan sangat dipengaruhi oleh seberapa besar keberadaan segmen periferal ini. Karena revolusi adalah pertarungan empat babak, yaitu penghancuran, peletakan pondasi baru, pembangunan sistem dan pemeliharaan. Segmen periferal cukup berguna untuk babak pertama, tetapi tak bisa cukup diandalkan untuk menghadapi babak-babak berikutnya. Ini diungkapkan oleh Allah SWT dalam lanjutan ayat berikut: (…Ketika dia (Talut) dan orang-orang yang beriman bersamanya menyeberangi sungai itu, mereka berkata, “Kami tidak kuat lagi pada hari ini melawan Jalut dan bala tentaranya…”).
  4. Kondisi ini menghasilkan satu pelajaran lain yang sangat penting dalam perjuangan, yaitu: (…Mereka yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, “Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.” dan Allah beserta orang-orang yang sabar). Yaitu dibutuhkan adanya kekuatan inti yang tertata dan memiliki kesiapan pilar-pilar perjuangan, yaitu pilar asasi dan pilar operasi. Pilar asasi meliputi: (a). kekokohan iman, (b). konsistensi metode perjuangan, (c). komitmen persatuan, (d). kesiapan sikap dan kemampuan dan (e). keberanian aksi (lihat QS Al Kahfi, 18: 13-14). Adapun pilar operasi adalah: (a). sikap teguh berhadap dengan musuh, (b). sifat sabar dalam menghadapi penderitaan, (c). lebur dalam dzikrullah, (d). keutuhan keta’atan kepada syari’at dan komando pimpinan, (e). menghindari konflik internal, (e). kesabaran menghadapi hasil apapun dari perjuangan dan (f). menjauhi sikap takabur (lihat QS Al Anfal, 8: 45-46). Revolusi hanya akan terus berlangsung, manakala unsur kekuatan inti semacam ini ada dan dipersiapkan sebelumnya.

Kemudian pada QS Al Baqarah ayat ke 250, kita mengetahui landasan paradigmatik dalam proses perjuangan, yaitu:

  1. Aksioma dasarnya adalah apapun yang terjadi dalam kehidupan, khususnya ketika ada dua pihak yang berlawanan saling berhadap-hadapan, maka semua itu tidak pernah lepas dari keberadaan dan keterlibatan Allah SWT. Allah yang menggerakkan dua kekuatan itu untuk bertemu, Allah yang mengawasi proses pertemuan itu dan Allah memastikan dirinya untuk memberikan jalan keluar, kemudahan dan kemenangan kepada golongan mu’min. Paradigma dasar ini harus dimiliki setiap pejuang muslim, sehingga ketika berhadapan dengan musuh sebesar apapun sementara kekuatan mereka hanya kecil, sikap mereka hanya satu, “(yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang ketika ada orang-orang yang mengatakan kepadanya: “Orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung” (QS Ali Imran, 3: 173).
  2. Sebaliknya, sikap kalah akan menghantui kaum muslimin bila meninggalkan paradigma ini. Apa yang terjadi pada Bani Israil pada masa nabi Musa cukup menjadi pelajaran. Ketika dalam proses eksodus dari Mesir, mereka terjebak pada situasi dilematis, di belakang ribuan pasukan Fir’aun mengejar sementara di depan lautan luas. Yang muncul adalah sikap-mental orang kalah:  “Maka ketika kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: “Kita benar-benar akan tersusul.” Tetapi nabi Musa yang memegang teguh paradigma perjuangan, justru bersikap sebaliknya: “Dia (Musa) menjawab: “Sekali-kali tidak akan (tersusul); Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS Asy Syu’ara, 26: 61-62).
  3. Paradigma ini akhirnya memunculkan keyakinan pada setiap pejuang muslim, bahwa dalam setiap pertempuran “tangan-tangan Allah” akan selalu terlibat: “Maka (sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, melainkan Allah yang membunuh mereka, dan bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mu’min…” (QS Al Anfal, 8: 17). Juga keyakinan bahwa Allah menurunkan pasukan cadangannya, berupa Malaikat dan tentara-tentara lain, dalam jumlah besar untuk ikut menghancurkan musuh: “…Sungguh, Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (QS Al Anfal, 8: 9).

Pada ayat terakhir dari kisah revolusioner ini, pada QS Al Baqarah ayat ke 251, kita mendapat pelajaran bagaimana mengisi hasil perjuangan, yaitu:

  1. Ketika prinsip-prinsip dasar perjuangan ini dipegang teguh, maka Allah akan menghadiahkan kehancuran musuh dengan segala sistem dan kekuatannya. Adalah mudah bagi Allah untuk meneguhkan atau menghancurkan sesuatu. Ingatlah firman Allah SWT: “Katakanlah (Muhammad): “Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkau lah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Ali Imran, 3: 26).
  2. Ada yang menarik dari kisah perjuangan ini. Ternyata yang berhasil membunuh Jalut adalah seorang pemuda yang bernama Daud. Ini pertanda bahwa pemuda adalah unsur kekuatan yang sangat penting, dan bahkan seringkali menjadi garda depan setiap perjuangan. Bahkan sejarah revolusi berbagai bangsa dan zaman, senantiasa memunculkan unsur pemuda sebagai kekuatan pendobrak yang dahsyat. Al-Qur’an sendiri, mencatat sejarah gemilang parade perjuangan kaum muda beriman: Ashabul Kahfi, Ashabul-Ukhdud, nabi Yusuf dan perlawanan nabi Ibrahim semasa muda.
  3. Pelajaran akhir dari “kasus revolusi” ini adalah bahwa pembangunan sistem baru yang kokoh membutuhkan waktu antar generasi. Talut disebutkan sebagai Pemimpin Revolusi, tetapi kepemimpinan Islam yang maju dan kuat justru baru terjadi pada masa nabi Daud sebagai wakil generasi berikutnya. Artinya: (a). penataan sistem baru paska revolusi bisa membutuhkan waktu yang panjang, (b). diperlukan investasi SDM dari kaum muda intelektual yang memiliki kapasitas kepemimpinan dan (c). sistem baru yang maju dan kuat hanya lahir dari metode yang bersumber dari ajaran Allah. Seorang pemimpin yang berpegang teguh pada manhaj Allah akan mendapatkan pengajaran langsung dari Allah, “…kemudian Allah memberinya (Daud) kerajaan, dan hikmah, dan mengajarinya apa yang Dia kehendaki...”

Sejarah telah mencatat, nabi Daud berhasil membangun kerajaannya yang maju, megah, kokoh, adil dan sejahtera dalam naungan Allah SWT. Sejarah adalah sesuatu yang senantiasa berulang! Siapkan diri kita untuk berjuang merebut dan menciptakan masa depan yang gilang gemilang, man jadda wa jada – ganbatte kudasai!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *