Kenyataan Hari Ini – Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul Berkembangnya Peradaban Islam. Sungguh mulia memang jika peradaban Islam yang begitu Ideal dapat kembali tegak berdiri. Namun, kita tidak bisa menutup sebelah mata, bahwa kita hidup di hari ini. Hari ini adalah hari dimana jauh jarak dan waktu dari sumber kebenaran dan telah banyak distorsi-distorsi di tengah-tengah kehidupan ummat. Ummat Islam kini telah banyak teralihkan kepada penghambaan duniawi yang faktanya membuat ummat semakin berada dalam keterpurukan.

Disamping itu, persoalan selanjutnya yang terjadi pada hari ini adalah terhalangnya ukhuwwah Islamiyah atas perbedaan-perbedaan yang terjadi di tengah-tengah ummat. Padahal sesungguhnya perbedaan adalah sebuah keniscayaan yang patut untuk dikelola sedemikian rupa menjadi kekuatan yang luar menegarkan. Namun faktanya, perbedaan-perbe-daan itu meluluh-lantakkan kekuatan ummat walau per-bedaan yang terjadi hanyalah perbedaan-perbedaan yang bersifat furu’iyah.

Adalah karena penghambaan kepada nafsu yang begitu menggebu, mengakibatkan akal tertutup. Sehingga dari akal yang tertutup itu tidak mampu bertahan ketika melihat orang lain lebih hebat dan lebih baik atau bahkan lebih benar daripada dirinya. Sekiranya mungkin telah hilang rasa untuk menyadari bahwa setiap diri pasti memiliki kekurangan. Sehingga pada akhirnya, yang ada hanyalah perasaan ingin menang sendiri dan ingin benar sendiri.

Hal ini sungguhlah bertentangan dengan firman Allah pada surat Ali-Imran ayat 103 dimana Allah begitu tegasnya melarang ummat Islam untuk berpecah belah dalam setiap urusan:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”

Dari ayat diatas jelas terlihat bahwa hanya dengan berpegang-teguh terhadap tali agama Allah-lah, ummat Islam dapat selamat. Bahwa sesungguhnya ketika ummat bersatu padu, izzah Islam dapat ditegakkan.

Untuk menerangkan ayat tersebut, salah satu penafsiran dalam Tafsir Al Wajiz diterangkan bahwa Allah ber-firman kepada kaum Aus dan Khazraj, dua bangsa penyusun golongan sahabat Nabi yang merupakan penduduk pribumi kota Madinah yang dikenal sebagai kaum Anshar. Berpegang teguhlah kalian kepada dinullah dan janganlah kalian ber-pecah-belah sebagaimana keadaan kalian di zaman jahiliyah yang saling bunuh tanpa dasar agama Allah. Ingatlah nikmat Allah ke-pada kalian berupa dienul Islam.  Dimana di zaman jahiliyah kaum Aus berperang dengan kaum Khazraj sampai Allah SWT mempersatukan hati mereka dengan Islam sehing-ga hilang kedengkian dan mereka menjadi saudara yang saling menyayangi. Jadi pada zaman jahiliyah itu kalian ber-ada di tepi jurang neraka, maka Allah menyelamatkan kalian dengan Islam dan Rasulullah.

Selain persoalan yang terjadi di dalam tubuh umat Islam, ada hal lain yang menjadi hambatan terbangunnya peradaban Islam. Hal tersebut adalah kekuatan terorganisir dari mereka yang benci terhadap Islam. Mereka senantiasa berikhtiar untuk menghalangi cahaya Islam menerangi muka bumi ini.

Konspirasi terhadap Islam, sesungguhnya bukan barang baru yang terjadi akhir-akhir ini. Ia merupakan barang lama yang sudah menjadi tabiat bagi mereka yang benci terhadap Islam untuk berserikat, menjalankan skenario global nan apik untuk meredupkan cahaya Islam.

Namun, alasan ini sesungguhnya terlampau naif untuk dijadikan sebagai alasan mengapa cahaya Islam hari ini belum terang benderang. Adalah memang pekerjaan mereka yang benci terhadap Islam, untuk terus menerus melancarkan skenario-skenario untuk mendiskriditkan Islam. Baiknya ummat tidak menjadikan alasan ini sebagai pembelaan.

Menjadi lebih bijak, ketika kita mulai menyadari bahwa ada kelemahan dalam tubuh ummat Islam. Seperti halnya yang diajarkan oleh Rasulullah saat menghadapi peliknya perlawanan saat memulai ekspansi dakwahnya ke Thaif. Saat itu adalah saat dimana Rasulullah berada ditengah-tengah keras kepalanya penduduk Thaif, sampai dilemparinya Rasulullah dengan batu hingga kotoran.

Apa yang dilakukan oleh Rasulullah saat itu bukanlah mencemooh atau balas mengutuk penduduk Thaif yang telah menzalimi Rasulullah. Namun, saat itu Rasulullah berdoa dengan sepenuh hati, mengakui kelemahan diri dan kelemahan strategi yang dimiliki oleh Rasulullah.

Pada peristiwa tersebut, Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk senantiasa berserah. Manusia hanya bisa berencana dan berikhtiar atas rencana-rencana yang telah dibuat. Akan tetapi ketika berbicara hasil, ada hal lain yang mempengaruhi tercapainya tujuan, hal tersebut adalah keridha’an Allah. Sebaik-baik apapun rencana dan ikhtiar namun ketika Allah tidak meridha’inya maka tidak akan bermakna apa-apa.

Dari dua sudut pandang persoalan diatas, lebih bijak jika kita sebagai Ummat Islam mengedepankan sikap introspektif untuk memulai menyelesaikan masalah. Mulailah terlebih dahulu dari diri kita sendiri. Jangan terlampau banyak energi terhabiskan untuk menyalahkan musuh atau para pembenci. Akan tetapi gunakanlah banyak energi dan kesempatan untuk senantiasa terus berubah, untuk senantiasa memperbaiki diri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *