Alhamdulillah akhirnya pembahasan kita sampai pada Bab 2 dari buku “Seni Kepemimpinan Para Nabi“, pada bagian awal kita akan bahas tentang Keniscayaan Perubahan. Mari kita mulai pembahasan kita, Peradaban yang terus bergulir dan berkembang, senan-tiasa akan sejalan dengan skenario Allah. Peradaban juga senantiasa akan berhadapan dengan tantangan-tantang-an di setiap fase sejarah. Tantangan-tantangan tersebut yang ketika berbenturan sedianya akan mengubah arah peradaban atau bahkan mengubah peradaban itu sendiri.

Perubahan dalam suatu peradaban ada ketika setiap entitas peradaban menghendaki untuk berubah. Seperti halnya firman Allah di dalam Qur’an surat Ar-Ra’d ayat ke 11. Allah berfirman :

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia” (QS Ar-Ra’d : 11).

Jika kita mendalami sebab turunnya ayat diatas, kita akan mendapati bahwa Allah tidak akan merubah keadaan yang ada pada suatu kaum yang sebelumnya berada dalam afiyah (keselamatan) dan nikmat kepada musibah dan azab, sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

Menurut Az Zuhailiy, maksud firman Allah “Sesung-guhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri,” adalah bahwa Allah tidak merubah keadaan yang ada pada suatu kaum berupa kenikmatan dan keselamatan, lalu Dia hilangkan hal itu dari mereka dan menghukum mereka kecuali karena mereka merubah diri dengan melakukan kezaliman, kemak-siatan, kerusakan, mengerjakan keburukan dan dosa yang merobohkan bangunan masyarakat dan menghancurkan eksis-tensi ummat.

Selain itu, Sayyid Quthb dalam tafsir Fii Zhilal al-Qur’an menyatakan bahwa Allah SWT memberitahukan di ayat ini, bahwa Dia tidaklah merubah keadaan suatu kaum sampai mereka melakukan perubahan, baik dari kalangan mereka, pengawas mereka, atau dari salah seorang mereka karena suatu sebab, sebagaimana Allah merubah keadaan orang-orang yang kalah pada perang uhud karena sebab sikap berubah yang dilakukan para pemanah, dan contoh-contoh lainnya yang ada dalam syariat.

Dari kedua ulama’ yang menafsirkan ayat Qur’an di atas, dapat kita ambil pelajarannya bahwa perubahan itu sebuah keniscayaan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Setiap insan yang mengharapkan nikmat dan karunia Allah tidak bisa berpangku tangan saja. Ia harus melakukan sebuah perubahan yang ditandai dengan kegigihan usaha dan kerja keras mewujudkan kondisi yang lebih baik. Dari sanalah Allah pasti akan memberikan limpahan rahmatnya kepada manusia.

Jika kita kontekskan dalam entitas penyusun jagad semesta ini, peradaban yang senantiasa mengalami perubahan dari segi muatan dan arah, berada pada posisi pertengahan antara individu dan satuan kosmis alam semesta. Peradaban dapat jatuh ketika tidak ada ideologi yang menjadi salah satu muatan sekaligus pengikat sebuah peradaban. Peradaban juga dapat meluas (berekspansi) ketika terjadi suatu ekspansi ideologi ke teritori sekitarnya. Akan tetapi kesemuanya itu, tetap bergulir dengan ketentuan dan izin Allah.

Ketentuan dan kehendak Allah tidak akan luput barang sedetikpun dari apa-apa yang terjadi di dalam jagad semesta ini. Ketentuan dan kehendaknya ada pada setiap dedaunan yang jatuh, hingga pada perputaran kosmis benda-benda langit. Ketentuannya meliputi hal-hal mikroskopis sampai makroskopis. Sebagaimana Allah berfirman dalam Quran Surat Hud ayat 107 yang artinya “Sesungguhnya Tuhan-mu Maha Pelaksana terhadap apa yang dia kehendaki”.

Ketentuan Allah sejatinya membuat manusia sebagai pihak yang diamanahkan untuk mengelola bumi ini agar lebih bisa memaknai arti dari rasa syukur. Manusia tidak diperke-nankan menjadi makhluk yang angkuh, makhluk yang meng-gantungkan hidupnya hanya pada usaha yang dia lakukan serta menegasikan faktor-faktor ilahiyah yang menjadi penen-tu suatu persitiwa. Rasa syukur patut dimiliki oleh setiap manusia sebagai bentuk ketundukkan manusia kepada Tuhan yang menciptakannya. Rasa syukur merupakan ekspresi ketundukkan jiwa terhadap keterbatasan manusia.

Dari rasa syukur yang ada pada diri manusia, akan muncul kesadaran dalam diri-diri manusia. Sadar bahwa walau manusia penuh dengan keinginan-keinginan, manusia memiliki keterbatasan dalam hidupnya. Kesadaran dalam ketundukkan manusia kepada Tuhannya lah yang dapat mengarahkan manusia pada keteraturan dalam hidupnya.

Adalah sebuah keniscayaan, bahwa setiap skenario dan ketentuan Allah merupakan keteraturan-keteraturan yang sedemikian rupa tersusun secara harmonis. Tidak pernah kita dapati ketentuan Allah saling tumpang tindih atau berben-turan. Adalah manusia itu sendiri yang membuat ketentuan Allah yang telah ditetapkan menjadi berantakan.

Sebagai contoh sederhana, hadirnya manusia di bumi kerapkali menjadi penyebab ketidakseimbangan alam. Pene-bangan hutan sebagai bentuk kelakuan manusia dalam memenuhi kebutuhan materialnya kerapkali tidak memper-timbangkan dampak yang ditimbulkan kepada ekosistem pada hutan tersebut. Hewan-hewan liar yang berlarian mencari tempat berlindung karena habitatnya telah dirusak oleh manusia.

Telah jelas juga dalam Al-Qur’an, bahwa manusialah yang menjadi penyebab terjadinya kerusakan di muka bumi. Sebagaimana Allah telah berfirman pada Quran surat Ar-Ruum ayat 41 yang artinya “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).“ 

Setiap perubahan dalam jagad semesta ini, tentunya dibawah kehendak Allah. Perubahan-perubahan dalam skala mikro hingga perubahan dalam skala makro sudah seharus-nya berada dibawah pengawasan dan izin Allah. Adapun manusia sebagai makhluk ciptaan Allah memiliki potensi untuk membuat kerusakan dimuka bumi sehingga meng-akibatkan ketidakseimbangan di alam semesta ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *