Keniscayaan Perubahan – Peradaban yang terus bergulir dan berkembang, senantiasa akan sejalan dengan skenario Allah. Peradaban juga senantiasa akan berhadapan dengan tantangan-tantangan di setiap fase sejarah. Tantangan-tantangan tersebut yang ketika berbenturan sedianya akan mengubah arah peradaban atau bahkan mengubah peradaban itu sendiri. Perubahan dalam suatu peradaban ada ketika setiap entitas peradaban menghendaki untuk berubah.

Dalam ilmu kimia, ketika suatu zat akan berubah wujud dari satu wujud ke yang lain atau saat zat hendak bereaksi dengan zat lain, zat tersebut akan membutuhkan energi aktivasi sebelum zat tersebut mulai berubah. Jika dibuat grafik kebutuhan energi pada zat tersebut maka kita akan mendapatkan bahwa kebutuhan energi pada saat zat akan berubah akan menunjukkan kebutuhan pada angka yang tinggi dibanding dengan proses setelahnya.

Keniscayaan Perubahan

Mengapa energi yang dibutuhkan pada awal proses reaksi lebih besar dibandingkan dengan kebutuhan energi pada proses lainnya? Hal ini dikarenakan zat yang akan bereaksi membutuhkan energi yang lebih untuk mengaktifkan zat tersebut dari masa dormansinya (masa ketika zat tidak melakukan aktivitas). Hal yang sama terjadi pada manusia. Manusia akan membutuhkan energi paling besar saat manusia tersebut akan memulai suatu aktivitas atau perubahan.

Dari sini, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa energi aktivasi bagi manusia, dapat kita umpamakan sebagai niat. Niat yang kuat akan menghasilkan azzam atau kemauan untuk menapakkan langkah pertama dalam suatu aktivitas atau perubahan. Baru ketika niat dan azzam telah terbangun maka selanjutnya akan mudah saja bagi manusia untuk melanjutkan langkah demi langkah selanjutnya.

Perubahan adalah suatu keniscayaan. Bahkan ia menjadi tanda dan sifat dari sesuatu yang “hidup”. Ketika Allah menganugerahkan manusia perangkat indera, perangkat gerak, akal dan hati (QS As-Sajdah 32: 9), ini pertanda bahwa manusia disiapkan untuk mengelola perubahan, dan bukan menyerah. Islam adalah metode kehidupan (minhaj al-hayah) yang Allah turunkan bagi manusia. Islam menjelaskan tanda-tanda perubahan dan arahan atau jalan bagi manusia untuk memimpin dan mengelola perubahan dengan benar dan tepat. Indera, anggota tubuh, akal dan hati merupakan anugerah Allah yang dapat digunakan untuk mengelola perubahan. Sedangkan agama menjadi petunjuk Ilahiyah bagi manusia di dalam mengelola perubahan itu secara benar, selaras dengan hukum syar’i dan sunnah kauniyah (hukum-hukum yang berlaku dalam alam). Keduanya harus berpadu dan tak bisa dipisahkan satu sama lainnya.

Kata-kata laayughoyiru maabiqaumin (tidak akan meng-ubah keadaan suatu kaum) menunjukkan tiga kandungan penting. Pertama, pada awalnya perubahan bergerak dari keadaan baik kepada keadaan buruk. Allah SWT menciptakan alam semesta dengan benar, baik dan seimbang. Tetapi sifat zalim dan bodoh (QS Al-Ahzab 33: 72) pada diri manusia telah menyebabkan kerusakan dalam sistem kehidupan manusia dan alam semesta (QS Ar-Rum 30: 41).

Kedua, kerusakan akan membawa bencana, ketika kerusakan itu sudah berskala kolektif. Dalam artian, ruang lingkup kerusakannya luas dan kerusakan dilakukan oleh kekuatan kolektif yang sistemik. Maka dalam keadaan ini, perbaikan tidak bisa dilakukan secara individu dan parsial, tetapi melalui pendekatan sistemik. Itulah sebabnya amar ma’ruf nahi munkar menjadi salah satu pokok ajaran Islam yang penting, temasuk amar ma’ruf nahi munkar terhadap penguasa. Ini dikenal dengan konsep Hisbah (sebagian kalangan meng-artikan kontrol publik) dalam Islam.

Ketiga, manusia –pada titik tertentu– bisa terjebak pada status quo. Yaitu merasa nyaman dengan suatu keadaan sehingga dinamika berubah menjadi jumud. Stagnasi (kebekuan) dalam arti matinya dorongan untuk terus menambah kebaikan secara berproses akan menggerogoti bangunan kebaikan yang ada. Akibatnya, proses pembusukan akan berlangsung dalam sebuah sistem yang ‘statik’ atau ‘jumud’.

Pada tingkat ertentu, status quo sampai kepada bentuk bahwa seseorang atau suatu masyarakat menikmati kondisi yang rusak atau tidak baik tersebut. Lihat QS Al-Baqarah: 72-74.

Kata-kata “hatta yughoyiru maa bianfusihim” (hingga mere-ka mengubah keadaan dirinya sendiri) menunjukkan kaidah mabda’ dan minhaj. Titik-tolak (mabda’) perubahan harus dimulai dari pembangunan kembali diri manusia (self-reconstruction) yang dilandasi kesadaran diri (self-awareness) dan ditopang oleh kemampuan diri (self-capability) yang memadai. Ini menuntut rekonstruksi nilai, sikap, pengetahuan dan orientasi atas realitas yang dihadapi. Titik tolak ini menuntun pada metode (manhaj) untuk mengedepankan pemberdayaan dan pendayagunaan potensi-potensi internal manusia dalam proses perubahan menuju perbaikan.

Kata-kata wa idza aradallahu bi qaumin suu an (dan apabila Allah menghendaki keburukan kepada suatu kaum) menunjukkan penegasan Allah agar manusia mempertemukan keinginannya dengan keinginan Allah. Artinya setiap cita-cita dan upaya perubahan hendaknya mengacu kepada hukum perubahan dan jalan kehidupan yang digariskan oleh Allah. Selain itu, maka upaya perubahan tidak akan menghasilkan apapun, kecuali kerusakan demi kerusakan.

Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran surat An-Nur ayat 24-55. Ungkapan di akhir surat Ar-Ra’d ayat: 11 (Dan apabila Allah meng-hendaki keburukan kepada suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya) menegaskan bahwa bangsa-bangsa yang mengelola perubahan tidak dengan minhaj at-taghyir ar-Rabbani (metode perubahan yang bersifat ke-Tuhanan), maka mereka akan mengalami kehancuran dahsyat yang sulit untuk bangkit kembali.

Jenderal veteran Amerika Serikat, Hamilton Howze (1992), dalam bukunya “The Tragic Descent America in 2020” yang berisi pengamatannya terhadap kondisi politik, ekonomi, dan sosial masyarakat AS yang kian porak poranda, meramalkan secara ilmiah bahwa peradaban Amerika akan mengalami kehancuran hebat pada tahun 2020 karena mereka telah melesat dari moralitas yang bisa menjaganya. Mudah-mudahan kita termasuk dalam barisan perubahan yang akan membangkitkan Indonesia, menuju terwujudnya Indonesia yang lebih baik dan bermatabat serta penyebar rahmat bagi alam semesta.

Bersambung ke Prinsip dan Arah Gerak Perubahan

Save

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *