Banyak pendapat yang mengemukakan kapan sesung-guhnya peradaban Islam dimulai. Ada yang menyebutkan dimulai sejak kelahiran Nabi Adam as., ada pula yang mengatakan dimulai sejak kelahiran Nabi Muhammad Saw., demikian juga ada yang menyebutkan dimulai sejak hijrahnya Nabi Muhammad Saw. ke Madinah al-munawwarah.

Idealnya Peradaban IslamPendapat yang mengemukakan bahwa peradaban Islam dimulai sejak kelahiran Nabi Adam as –manusia per-tama dimuka bumi– menandakan bahwa sejatinya peradaban Islam itu adalah peradaban dunia itu sendiri. Kemudian ada pula yang menyebutkan bahwa permulaan peradaban Islam adalah ketika hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah yang pada momentum tersebut juga ditetapkan sebagai permulaan penanggalan Hijriah.

Akan tetapi dari semua itu yang lebih penting untuk dikaji lebih mendalam adalah terkait apa dan bagaimana peradaban Islam itu. Untuk memahami lebih mendalam apa dan bagaimana peradaban Islam itu, kita berangkat dari bagaimana Islam memandang Dunia (worldview).

Seperti halnya peradaban-peradaban lain yang diba-ngun, peradaban Islam memiliki sebuah pandangan dunia (worldview) yang kemudian membentuk ideologi dan pada akhirnya membentuk Peradaban. Akan sulit untuk melacak arah peradaban jika sebelumnya tidak memahami akar peradaban yakni Pandangan Dunia (worldview) itu sendiri.

Lantas, apa itu worldview? menurut Merriam-Webster Dictionary, Worldview adalah bagaimana seseorang melihat atau berpikir tentang dunia. Worldview dalam bahasa Jerman berarti Weltanschauung yang berarti sebuah konsep yang kom-prehensif atau pengartian terhadap dunia dari suatu titik pijak.

Beberapa ahli turut mendefinisikan apa itu worldview. Ninian Smart mengartikan worldview sebagai kepercayaan, perasaan dan apa-apa yang terdapat dalam pikiran orang yang berfungsi sebagai motor bagi keberlangsungan dari perubahan sosial dan moral. Thomas F. Well mengemukakan bahwa Worldview adalah sistem kepercayaan asas yang integral tentang hakikat diri kita, realitas, dan tentang makna eksis-tensi. Pada hakikatnya worldview itu sendiri adalah sesuatu yang netral. Hingga sampai pada penyematan sifat yang membuat worldview memiliki arah dan tujuan. Seperti Islamic Worldview misalnya.

Pengertian Islamic Worldview oleh beberapa ‘ulama abad ke-20 diartikan menjadi banyak istilah atau  terma, diantaranya adalah :

  1. Maulana Al-Mawdudi mengistilahkan Islamic world-view dengan Islami Nazaariat (Islamic Vision)
  2. Sayyid Qutb mengistilahkan Islamic worldview de-ngan At-Tasawwur al-Islamy (Islamic Vision)
  3. Mohammad Ashif Al-Zayn mengistilahkan Islamic worldview dengan Al-Mabda’ al-Islamy (Islamic Prin-ciple)
  4. Syed Naquib al-Attas mengistilahkan Islamic world-view dengan Ru’yatul Islam lil wujud (Islamic Worldview)

Dari kesemua terma yang ada, para ulama sependapat bahwa Islam memiliki cara pandangnya sendiri terhadap segala sesuatu di dunia ini. Oleh karenanya, ketika sifat Islam disematkan pada kata worldview maka muatan worldview yang sebelumnya netral, kemudian secara etimologis dan terminologis menjadi berubah.

Seperti halnya yang dikemukakan oleh Sayyid Qutb dalam mengartikan Islamic Worldview dengan terma At-Tasawwur al-Islamy yakni sebagai akumulasi dari keyakinan asasi yang terbentuk dalam pikiran dan hati setiap Muslim, yang memberikan gambaran khusus tentang wujud dan apa-apa yang tersembunyi di balik itu.

Selanjutnya Islamic worldview membentuk pijakan bagi setiap Muslim dalam berpikir dan berkehendak (ideologi). Tentu pijakan dalam berkehidupan yang disandarkan pada dalil-dalil yang ada (Qur’an maupun hadist). Pijakan yang benar dan kuat akan menghasilkan pemahaman dan peng-hayatan akan ideologi yang kuat pula.

Seperti halnya ideologi-ideologi yang ada di dunia ini, Ideologi hadir untuk di dukung. Setiap manusia pastinya akan tertarik pada ideologi tertentu. Bahkan seorang yang tidak memilih ideologi pun, tanpa sadar Ia sudah memilih ideologi untuk tidak berideologi.

Para pendukung ideologi yang ada kemudian ber-kumpul bergerak atas konstruksi orientasi ideologinya mem-bentuk suatu peradaban. Singkatnya, setiap peradaban ter-bangun dari berkumpul dan berserikatnya para pendukung ideologi dalam jumlah yang besar dan bergerak menuju apa yang dicita-citakan dengan metodologi tertentu.

Ketika berbicara tentang peradaban Islam, lantas apa sesungguhnya misi yang dibawa oleh peradaban Islam ? Ini merupakan pertanyaan menarik untuk didalami. Kita perlu terlebih dahulu mengetahui, seperti apa Allah telah meng-gariskan di dalam Al-Qur’an perihal tugas dan misi manusia.

Allah Berfiman :
“Dan (ingatlah) tatkala Tuhan engkau berkata kepada Malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan di bumi seorang khalifah. Berkata mereka: Apakah Engkau hendak menjadikan pada-nya orang yang merusak di dalam nya dan menumpahkan darah, padahal kami bertasbih dengan memuji Engkau dan memuliakan Engkau? Dia berkata: Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Dari Ayat ke-30 pada Surat Al-Baqarah diatas Allah menggariskan bahwa, tujuan diturunkannya manusia di muka bumi adalah untuk menjadi khalifah. Hal ini berimplikasi pada tujuan atau misi dari peradaban Islam itu sendiri yang memiliki misi khalifatu fil ardhl pula, yakni menjaga bumi ini dari kerusakan. Adalah misi peradaban Islam pada akhirnya untuk membawa keteraturan bagi bumi dan seisinya.

Kemudian muncul pertanyaan selanjutnya. Dengan cara apa peradaban Islam mampu untuk membuat keteraturan di muka bumi? Allah menjawab pada ayat ke 157 pada surat Al-A’raf yang berarti :

“(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerja-kan yang ma‘ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan meng-haramkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka.”

Allah telah menggariskan kembali bahwa metodologi yang digunakan untuk menjaga keteraturan di muka bumi adalah dengan mengajak manusia untuk berbuat ma’ruf dan meninggalkan kemungkaran serta menghalalkan yang baik dan mengharamkan yang buruk. Dengan begitu, Allah telah memberikan panduan bagi umat Islam di dalam naungan peradaban Islam untuk memikul amanah yang begitu luar biasa.

Dengan demikian, jika bertanya tentang seperti apa idealnya peradaban Islam? Maka dapat kita jawab dengan ketika keteraturan di dunia ini terjadi. Dalam redaksional Qur’an, Allah membahasakan dengan Baldaatun thoyyibah wa Rabbun ghafuur. Dalam terma saat ini, dapat didefinisikan sebagai Clean Government, Good Governance.

Save

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *