“…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-Ra’d 13: 11)

Hukum Pergiliran PeradabanPerubahan adalah suatu keniscayaan. Bahkan ia men-jadi tanda dan sifat dari sesuatu yang “hidup”. Ketika Allah menganugerahkan manusia perangkat indera, perangkat gerak, akal dan hati (QS As-Sajdah 32: 9), ini pertanda bahwa manusia disiapkan untuk mengelola perubahan, dan bukan menyerah. Islam adalah metode kehidupan (minhaj al-hayah) yang Allah turunkan bagi manusia. Islam menjelaskan tanda-tanda perubahan dan arahan atau jalan bagi manusia untuk memimpin dan mengelola perubahan dengan benar dan tepat. Indera, anggota tubuh, akal dan hati merupakan anugerah Allah yang dapat digunakan untuk mengelola perubahan. Sedangkan agama menjadi petunjuk Ilahiyah bagi manusia di dalam mengelola perubahan itu secara benar, selaras dengan hukum syar’i dan sunnah kauniyah (hukum-hukum yang berlaku dalam alam). Keduanya harus berpadu dan tak bisa dipisahkan satu sama lainnya.

Allah menjelaskan tandatanda dan arahan perubahan melalui serangkaian catatan historis tentang  peradaban bangsabangsa. Lebih dari setengah isi Al- Qur’an adalah kisah-kisah berbagai umat. “Sesungguhnya  ada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS Yusuf 12:111). Adanya  anda-tanda dan arahan Ilahiyah ini pertanda bahwa ada kaidah atau hukum yang berjalan secara konstan dalam  setiap proses perubahan. Ini karena sejarah ke-hidupan manusia, sebagai akumulasi fenomena perubahan, berjalan  ecara siklus. Artinya, Islam memandang bahwa sejarah kehidupan  dan peradaban umat manusia mengarungi sebuah garis lingkar (orbit), dimana nilai kemajuan menjadi sangat relatif. Nilai sebuah peradaban justru diukur dari nilai-nilai kebenaran yang diyakini dan dijalankan suatu peradaban bangsa atau umat.

Ini yang membedakan Islam dengan pandangan “positivism” misalnya, yang melihat sejarah peradaban sebagai suatu gerak linear yang akan membawa manusia sampai pada titik kesempurnaan. Dengan pandangan siklus sejarah, maka memahami dan mengambil pelajaran dari sejarah umat terdahulu menjadi relevan dan penting. Dari sanalah ditemu-kan pola ulangan (recurrent pattern) dari setiap gerakan kehi-dupan. “…Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami mempergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)…” (QS Ali ‘Imran 3: 140).

Bagi seorang Muslim, dengan demikian, yang dibutuh-kan adalah pemahaman terhadap prinsip-prinsip perubahan agar tidak terombang-ambing dalam dinamika perubahan yang cepat, luas dan terus-menerus. Sesungguhnya yang berubah dan terus berkembang adalah gejala atau fenomena, karena ia dampak dari proses interaksi dan kreasi antar manusia yang melibatkan aspek material, teknis dan organi-satoris. Adapun substansi dari dinamika itu adalah tetap, yaitu refleksi dari keadaan akal dan jiwa manusia, yang tidak pernah berubah dari satu orang ke orang lainnya, dimanapun dan kapanpun.

Dalam konteks ini, pemahaman realitas tidak sebatas memahami kecenderungan-kecenderungan fenomena yang terjadi, tetapi lebih jauh memahami substansi dinamika “kejiwaan manusia” yang terlibat di dalamnya. Disanalah berlaku kaidah atau hukum-hukum perubahan yang bersifat konstan. Al Quran Surat Ar-Ra’d, ayat 11 pada pembukaan di atas, memberikan gambaran awal dan besar bagi kita untuk memahami dan melaksanakan perubahan ini, membangkitkan kejayaan umat, bangsa, dan negara kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *