garis lingkar kehidupanSeorang bijak cendekia pernah berujar bahwa sejarah itu pasti berulang. Peristiwa-peristiwa di dunia ini tanpa kita sadari akan terjadi perulangan. Entah peristiwa buruk atau baik, kesemuanya akan berulang mengikuti pola ulangan. Kenapa bisa terjadi demikian?

Sebelum lebih jauh kita membahas, Allah telah lebih dahulu berfirman dalam Quran Surat Ali ‘Imran ayat 140 yang artinya “Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejadian dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.”

Dalam ayat tersebut tersampaikan bahwa Allah sejati-nya telah menurunkan keadilan kepada setiap manusia. Bahwa mereka yang beriman dan membangkang mendapat porsi yang sama pada ketentuan Allah yang telah ditetapkan. Bedanya, orang-orang yang beriman ketika mendapatkan musibah, maka mereka akan menjadikan musibah atau kejadi-an yang merugikan tersebut sebagai bahan untuk introspeksi atau muhasabah atas apa yang telah dilakukannya.

Jika kita pernah mempalajari ilmu sejarah, maka kita akan mendapati bahwa suatu peristiwa sejarah tidak akan berdiri sendiri. Suatu peristiwa sejarah akan dipicu oleh peristiwa-peristiwa lain yang terjadi sebelumnya, dan kese-muanya saling berhubungan. Dengan begitu kita mampu mengamati peristiwa-peristiwa yang melatar-belakangi peris-tiwa penting dalam sejarah.

Seperti halnya masa kejayaan atau keruntuhan suatu peradaban menjadi peristiwa penting dalam sejarah. Peris-tiwa-peristiwa yang melatar-belakangi masa kejayaan dan masa keruntuhan sebuah peradaan yang dapat kita amati sebagi sebuah pola yang unik. Kita dapat mengamati sebab akibat yang terjadi dari sana.

Kejayaan suatu peradaban disebabkan karena peris-tiwa-peristiwa yang melatari sebelumnya. Begitu pula halnya dengan keruntuhan suatu peradaban akan dapat diketahui faktor penyebab yang melatari sebelumnya. Dengan begitu kita dapat belajar dari sejarah dan berusaha agar kesalahan-kesalahan penyebab runtuhnya suatu peradaban tidak terjadi di masa mendatang.

Mari kita ambil contoh, kejayaan peradaban Romawi mengalami puncaknya pada tahun 117 masehi. Ketika itu Romawi dipimpin oleh seorang kaisar bernama Trayanus. Pada masa kepemimpinan Trayanus, imperium Romawi memiliki luas teritori terluas dibandingkan dengan masa kepe-mimpinan kaisar yang lainnya. Pada masa itu, dikenal juga dengan masa Pax Romana dimana seluruh teritori imperium Romawi berada dalam kedamaian di bawah pemerintahan Romawi yang kuat. Warisan dari leluhur mereka mencakup nilai kekuatan, ketekunan, kesetiaan dan keuletan yang terus lestari hingga masa-masa itu menghantarkan mereka pada masa kejayaan mereka.

Sesuai dengan apa yang telah digariskan Allah, keja-yaan peradaban Romawi pun dipergilirkan, digulirkanlah kepada mereka masa keruntuhan. Lalu apa yang menyebab-kan mereka runtuh? Tercatat banyak terjadi perang saudara diantara mereka yang mengakibatkan kekuatan dan kedigda-yaan Romawi sebagai sebuah peradaban melemah. Komitmen mereka dalam memegang nilai-nilai leluhur mereka mulai mengendur. Hingga pada akhirnya peradaban Romawi pun runtuh dengan hanya menyisakan artefak peninggalan sejarah saja hingga hari ini.

Selain itu, peradaban Aztec di Amerika Selatan men-jadi satu objek bahasan yang menarik untuk disimak. Kerun-tuhan peradaban Aztec di Amerika Selatan disebabkan karena ketidakmampuan mereka menanggapi perubahan, yakni kedatangan bangsa Spanyol yang datang ke Meksiko untuk menancapkan imperialismenya di kawasan itu. Bangsa Aztec melakukan perlawanan dan terjadilah pertempuran diantara keduanya dan dimenangkan oleh Spanyol. Sejak saat itu, jutaan orang Spanyol berdatangan ke Meksiko dan tinggal di sana, sementara bangsa Aztec tersingkir dan akhirnya punah.

Dari contoh-contoh yang telah disebutkan, setidaknya ada dua faktor penentu pola perulangan dalam peristiwa sejarah. Faktor tersebut diantaranya adalah :

Pertama, faktor sunnatullah (takdir qauniyah/kausalitas material). Peristiwa sejarah yang berulang disebabkan adanya peristiwa-peristiwa yang melatari sebelumnya. Bahkan peris-tiwa yang melatari akan juga terjadi karena ada peristiwa lain yang mendahuluinya. Tidak ada satu peristiwa yang berdiri sendiri.

Sebagaimana seringkali seorang bijak cendekia menga-takan bahwa masa depan dirimu adalah apa yang tengah kau persiapkan di hari ini. Bahwa ada kaitan masa lalu dengan masa depan. Seperti halnya sebuah analogi sebuah tempat yang hendak kita tuju ketika kita berada di tengah-tengah perjalanan tidak akan pernah kita capai ketika tidak ada langkah-langkah awal sebelumnya.

Bahkan, Allah ta’ala telah jelas menggambarkan dengan jelas di dalam Q.S. Al-Hashr ayat ke-18 bahwa “wal tandzur nafsun ma qaddamat lighad”, yakni hendaklah setiap jiwa mempersiapkan apa yang akan terjadi di hari kemudian. Tersirat sebuah pesan dari penggalan ayat diatas yakni persiapkan hari-hari kita saat ini untuk hal yang akan terjadi di masa depan. Dapat pula kita tafsirkan bahwa, masa depan kita begitu dipengaruhi oleh apa yang kita persiapkan di hari ini.

Semua terjadi dengan aturan Allah yang bernama sebab akibat. Setiap peristiwa memilki sebab dan akan meng-akibatkan peristiwa yang lain dalam kehidupan. Perlulah kita kemudian belajar mencermati sejarah-sejarah yang berulang itu. Bagaimana kisah kejayaan suatu peradaban. Kita ambil pelajarannya sebagai modal untuk membangun peradaban. Bagaimana kisah kemunduran suatu peradaban juga memilki pelajaran berharga untuk kita ambil. Dengannya kita belajar untuk menghindari dan menjauhkan diri kita dari sebab-sebab kemunduran suatu Bangsa.

Kedua, faktor Ilahiah (takdir ghaibiyah/kausalitas tran-sendental). Suatu peristiwa yang terjadi walau dapat kita prediksi kejadiannya, namun tetap memilki faktor penentu yang disana usaha manusia tidak mampu menyentuhnya. Izin Allah lah yang kemudian menjadi penentu suatu peristiwa itu jadi atau tidak dalam perputaran sejarah.

Seorang mukmin harus meyakini bahwa mudah saja Allah berkehendak untuk mengizinkan suatu peristiwa. Begitu juga sebaliknya, mudah saja bagi Allah untuk menggagalkan peristiwa. “kun fayakun”, kata Allah. Jadilah, maka jadilah. Tiada daya apalagi upaya yang mampu menandingi kehen-dak-Nya.

Disinilah pentingnya senjata seorang mukmin yang bernama tawakal. Seperti halnya yang Allah katakan dalam Qur’an Surat Ali-Imran ayat 159 dimana “Faidza ‘Azamta Fatawakkal ‘Alallaah. Jika kamu telah bertekad kuat, maka bertawakallah kepada Allah. Tekad sudah kuat, usaha sudah maksimal, Allah menentukan sisanya.

Ada kalanya manusia berusaha dengan jerih payah maksimal untuk mencapai suatu prestasi atau capaian. Ada kalanya seseorang dengan merencanakan dengan perencanaan yang matang untuk bisa membuat nyata suatu peristiwa. Akan tetapi, disanalah iradah-Nya bermain.

Oleh karenanya, penting bagi seroang mukmin untuk menyempurnakan ikhtiar atau usaha dengan tawakal. Supaya apa ?. Tawakal atau berserah diri memiliki fungsi agar arah ikhtiar atau usaha yang kita lakukan disejajarkan dengan kehendak Allah. Selain itu, dengan kesejajaran tadi, peluang aktivitas kita bernilai ibadah di sisi Allah amat sangat terbuka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *