bagaimana cara merekonstruksi makna pemimpinBagaimana cara merekonstruksi makna pemim-pin, sehingga kita dapat memiliki pemahaman dan penghayatan yang utuh akan makna pemimpin?

Setidaknya, ada satu hal penting yang dapat dilakukan seorang pemimpin agar dapat memiliki pemaknaan yang utuh tentang “Apa itu Pemimpin?”. Yang harus dilakukan adalah dengan mengubah pola pikir. Pola pikir kita tentang “pemimpin”, harus berubah. Ini menjadi semacam refleksi kritis bagi kita. Pemimpin bukanlah penguasa bertangan besi yang menindas dan menyengsarakan rakyat. Pemimpin bukan sekadar pembuat peraturan. Menjadi pemimpin bukan sebagai ajang untuk memperkaya diri dan berfoya-foya. Pemikiran ini harus dirombak dan diubah. Perombakan pola pikir diperlukan karena ia akan menjadi dasar dari setiap perilaku kita.

Menjadi pemimpin yang benar, tidaklah mudah, apalagi di zaman sekarang yang sudah tercemar oleh isme-isme tertentu yang sangat berbahaya, seperti indi-vidualisme, materialisme, hedonisme, dan sebagainya.

Lantas, konsep kepemimpinan seperti apa yang harus kita bangun kembali? Sebagaimana telah dinyatakan sendiri oleh Allah SWT dalam Al Quran surat Al Ahzab: 22, “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu”, maka re-konstruksi makna kepemimpinan kami ambil dari sosok pemimpin paling sukses yang pernah ada di dunia, yakni Rasulullah Muhammad Saw. Kami menyebutnya dengan konsep kepemimpinan profetik. Kepemimpinan ala utusan Allah. Kepemimpinan ala Nabi-Nabi Allah. Kesuksesan mencontoh kepemimpinan mereka kami yakin akan mendatangkan kemakmuran, kemajuan, dan keadilan bagi bangsa ini sebagaimana Islam dahulu sukses membangun peradaban dunia.

Istilah profetik merupakan derivasi dari kata prophet. Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia, profetik artinya bersifat kenabian (2006: 789). Istilah profetik ini pertama kali dipopulerkan oleh Kuntowijoyo. Dengan sangat jujur, Kuntowijoyo (2006: 87) menyatakan bahwa ide tentang istilah tersebut terilhami oleh Muhammad Iqbal. Iqbal mendeskripsikan bahwa setelah nabi Muhammad Saw. mi’raj, beliau tetap kembali ke bumi menemui masyarakat dan memberdayakannya. Nabi saw. tidak hanya menikmati kebahagiannya berjumpa dengan Allah SWT, dan kemudian melupakan masya-rakatnya.

Kepemimpinan profetik dapat disebut sebagai konsep kepemimpinan terbaik. Di samping karena menggunakan landasan tauhid, kepemimpinan profetik memiliki cakupan dan instrumen yang lebih luas dan komprehensif dibanding konsep-konsep kepemimpinan lainnya. Karakteristik utama seorang pemimpin profetik adalah mampu menjaga harmonisasi hubungan antara Allah, manusia, dan alam.

Dengan demikian, pengertian kepemimpinan profetik di sini adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain dalam mencapai tujuan, dengan pola yang dilaksanakan nabi (prophet). Kekuatan kepemimpinan profetik ini, menurut Sanerya Hendra-wan (2009: 158), terletak pada kondisi spiritualitas pemimpin. Artinya, seorang pemimpin profetik adalah seorang yang telah selesai memimpin dirinya. Sehingga, upaya mempengaruhi orang lain, meminjam istilah Hsu, merupakan proses leading by example atau memimpin dengan keteladanan (Sus Budiharto dan Fathul Himam, 2005: 142).

Membahas tentang kepemimpinan profetik, hen-daknya kita harus mengetahui secara seksama mengenai istilah profetik di sisi Allah. Al-Quran memberikan pandangan tersendiri melalui QS Ali-Imran 3: 110 sebagai berikut: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.

Menurut Kuntowijoyo, terdapat empat hal yang tersirat dalam ayat tersebut, yaitu konsep umat terbaik, aktivisme sejarah, pentingnya kesadaran dan etika profetik. Pertama, umat manusia akan menjadi umat terbaik, tatkala mampu melaksanakan “pengabdian kemanusiaan” bagi umat manusia (civil society); Kedua, mengemban misi kemanusiaan, berarti berbuat untuk manusia dalam bentuk aktivisme sosial dan membentuk sejarah; Ketiga, kesadaran ilahiah yakni suatu bentuk “keterpanggilan etis” untuk kemanusiaan yang dilan-dasi oleh spirit teologis; Keempat, etika profetik ini berlaku umum, yaitu menyeru kebaikan, mencegah kemungkaran dan beriman kepada Allah (transendensi).

Di sisi lain, Rasulullah Saw. menjelaskan dalam hadist yakni; “Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas-lamah dari Malik dari Abdullah bin Dinar dan dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda, ketahuliah bahwa kalian semua adalah pemimpin dan kalian semua bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya (rakyatnya, maka sebagai Amir (pemimpin) yang memimpin kaum (umat) adalah sebagai pemimpin yang bertanggung jawab atas kepemimpinannya (rakyatnya) dan seorang suami adalah pemimpin di rumah tangganya dan ia bertanggung jawab atas kepemimpinannya tersebut dan seorang istri adalah sebagai pemimpin di rumah, suaminya serta anak-anaknya yang bertanggung jawab terhadap mereka, dan seorang hamba (budak) adalah sebagai pemimpin dalam menjaga harta tuannya. Ketahuilah, kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu sekalian bertanggung jawab terhadap apa yang kamu pimpin.

Hadist di atas sangatlah jelas menerangkan ten-tang kepemimpinan setiap Muslim dalam berbagai tingkatannya. Mulai dari tingkat pemimpin rakyat sam-pai tingkatan penggembala, bahkan tersirat sampai tingkatan memimpin diri sendiri. Seorang yang melak-sanakan sistem kepemimpinan secara efektif, berarti ia memiliki bakat kepemimpinan yang kualitasnya baik dan kuantitasnya besar.

Adapun dalam implementasinya aspek profetik pada saat ini mendasarkan diri pada dua konsep besar, yakni sebagai pembangun peradaban dan pembebas peradaban. Hal ini didasarkan pada kenyataan situasi kontemporer, dimana hampir semua kehidupan masya-rakat tradisional telah berubah menjadi industrial, dengan demikian merubah pula pola-pola industrial-isme. Orientasi profit yang dijalankan melalui cara produksi, membentuk pola pikir manusia konsumtif, bahkan membentuk masyarakat konsumsi; yang kemu-dian berujung pada kapitalisasi ekonomi, gaya hidup berlebihan, eksploitasi manusia demi memaksimalkan profit, dst. Maka seorang pemimpin profetik akan berusaha membebaskan masyarakatnya dari segala belenggu penindasan ekonomi, ketidakadilan hukum, ketimpangan sosial, pengrusakan alam, liberalisasi budaya, dan kejumudan agama menuju masyarakat yang setiap sektornya dibangun berdasarkan hukum-hukum keseimbangan yang telah diatur Allah SWT layaknya yang dilakukan oleh para Nabi-Nabi ter-dahulu.

Dalam konsep kedua yakni sebagai pembangun peradaban masa kini, kepemimpinan profetik dibangun dalam kerangka bagaimana kita meneladani semua upaya Rasul pada zamannya dalam membangun sebuah peradaban baru di bawah Islam yang mampu mem-bangun ketinggian moral dan sosial.

Next Article Peran Sebagai Pembebas Peradaban

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *