Bab Rekonstruksi Kepemimpinan ProfetikJatuh bangunnya segala sesuatu, bergantung pada pemimpin”. Demikianlah pernyataan John C. Maxwell, seorang pakar kepemimpinan dunia. Pernya-taan ini mengandung arti bahwa sebuah organisasi dalam berbagai skala dan bentuk–mulai dari keluarga, sekolah, komunitas tertentu, hingga bangsa dan negara–sangat bergantung pada pemimpin. Jika pemimpinnya baik, maka dapat dipastikan bahwa organisasi yang dipimpinnya akan berjalan dengan baik. Sebaliknya, jika pemimpinnya buruk, maka organisasi yang dipimpin-nya akan mengalami kemunduran; dan bukan tidak mungkin akan mengalami kejatuhan. Jelaslah, bahwa jatuh bangunnya segala sesuatu, bergantung pada pemimpin.

Kalau kita mau jujur, kondisi bangsa hari ini dengan setumpuk permasalahannya, sedikit banyaknya dipengaruhi oleh kondisi pemimpin bangsa. Merosot-nya keadaan bangsa, merupakan dampak langsung dari merosotnya kualitas para pemimpin. Dalam rumus matematikanya, bisa dikatakan bahwa kondisi sebuah bangsa akan berbanding lurus dengan kondisi para pemimpin bangsanya. Seperti diungkapkan sebelum-nya, jika pemimpinnya baik, maka bangsanya akan ber-hasil. Sebaliknya, jika pemimpinnya buruk, maka bang-sanya akan mengalami kemerosotan atau kejatuhan.

Rumus tersebut dibuktikan oleh kondisi bangsa dan kondisi pemimpin kita saat ini. Bagaimana tidak, pemimpin yang diharapkan dapat mewujudkan aspirasi rakyat, malah sibuk memperkaya diri. Korupsi pejabat negara, mulai dari Bupati hingga anggota DPR, sudah menjadi rahasia umum di negara ini. Dengan dalih studi banding, pemimpin bangsa menghamburkan uang negara untuk berwisata ke luar negeri. Integritas pemimpin menjadi barang langka, terbukti dengan terungkapnya sejumlah kasus amoral pemimpin seperti perkelahian di ruang sidang, bolosnya anggota dewan dalam sidang paripurna yang mengakibatkan ditunda-nya sidang, dan skandal saham dan berbagai skandal pelanggaran moral lainnya di antara anggota dewan. Hal ini semakin menimbulkan rasa antipati rakyat terhadap pemimpin.

Kondisi pemimpin bangsa tersebut merupakan sebuah kenyataan. Pemimpin yang seharusnya meng-abdi pada rakyat, malah mengabdikan dirinya pada uang dan kekuasaan. Pemimpin yang seharusnya melayani rakyat, malah melayani diri sendiri dengan menggunakan uang rakyat seenaknya. Pemimpin yang seharusnya berkarya dan mendatangkan kebaikan bagi rakyat, malah berdiam diri, sampai terkuaknya masalah-masalah baru, yang menuntut mereka–mau tidak mau–untuk angkat tangan. Pemimpin yang seharusnya men-jadi suri teladan bagi rakyat, malah menjadi bahan tawa dan omongan skeptis rakyat.

Kondisi pemimpin Indonesia yang demikian ruwet tersebut, perlu dibenahi segera, agar tidak menjadi benang kusut yang tak terselesaikan. Bagai-mana caranya? Caranya adalah dengan melihat pada inti masalah (core problem) yang menjadi penyebab bu-ruknya kondisi pemimpin Indonesia; untuk kemudian ditelaah dan diberikan solusi. Jika ditinjau lebih lanjut lagi, maka akar permasalahan dari buruknya kondisi kepemimpinan para negarawan kita hari ini adalah kurangnya (jika tidak mau disebut “tidak ada”) pemahaman atau penghayatan terhadap “makna” pemimpin itu sendiri. Ringkasnya, “Apakah pemimpin itu”?

Melihat kondisi pemimpin saat ini, mungkin saja pemimpin kita “tidak benar-benar menyadari” arti penting seorang pemimpin. Mungkin, pemimpin kita saat ini “tidak paham betul” mengenai hak dan kewajib-an mereka sebagai pemimpin. Bisa saja pemimpin kita tidak “sungguh-sungguh menghayati” panggilan mulia mereka sebagai pengemban amanat rakyat. Sepertinya, pemaknaan tentang menjadi pemimpin, sudah mulai memudar di kalangan elit bangsa.

Jika pemimpin sungguh-sungguh menyadari arti penting seorang pemimpin, maka seharusnya perilaku amoral yang menimbulkan cibiran rakyat, tidak akan terjadi. Jika pemimpin betul-betul memahami hak dan kewajiban mereka, maka tindakan-tindakan mem-perkaya diri dan melalaikan tanggung jawab, tidak akan mungkin terjadi. Jika pemimpin menghayati dengan sungguh panggilan mulia mereka sebagai pengemban amanat rakyat, maka tindakan-tindakan yang menyu-dutkan posisi rakyat, tidak akan mungkin terjadi.

Next Article Pentingnya Rekonstruksi Konsep Kepemimpinan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *