arah yang baikPada hakikatnya, perubahan pada sesuatu akan mengarah pada keburukan, sesuatu hal yang tidak diinginkan. Mengapa ? Hal ini terjadi karena perubahan pasti akan bersinggungan dengan waktu, dan waktu akan membawa sesuatu pada penuaan, pada kemun-duran, pada kebinasaan. Perlu dicatat sebelumnya bahwa perubahan ini tidak berlaku bagi Sang Pencipta waktu. Perubahan ini hanya berlaku untuk makhluk-Nya, ciptaan-Nya.

Namun daripada itu,  perubahan ke arah yang lebih baik pastinya merupakan perubahan yang diingin-kan. Perubahan ke arah yang lebih baik akan dapat terlaksana ketika ada usaha yang mempengaruhinya. Hal ini berbeda dengan perubahan secara hakiki yang mengarahkan segalanya pada kemunduran, karena perubahan tersebut adalah perubahan yang dibiarkan atau didiamkan.

Perubahan sesuatu dari satu bentuk ke bentuk lainnya seperti yang telah dibahas pada bagian sebelum-nya, pastilah memiliki arah. Entah arah menuju kebaik-an maupun sebaliknya.

Sebagaimana Allah dalam Qur’an Surat Asy-Syams ayat 7-10 “Dan demi jiwa dan yang Menyem-purnakannya, lalu Tuhan memperkenalkan kepada setiap jiwa, keburukan dan kebaikannya. Sungguh beruntunglah orang yang dapat mensucikan jiwa itu, dan merugilah orang yang mengotorkannya. Hikmah yang dapat kita ambil dari ayat tersebut adalah bahwa Allah telah menyediakan dua jalan bagi manusia, jalan ke-fujur-an dan jalan ke-taqwa-an. Pada titik ini, manusia yang selanjutnya memilih satu diantara jalan tersebut. Sudah barang tentu, setiap jalan memiliki arah yang dituju. Jika memilih jalan ke-fujur-an maka akan mengarah pada kemalangan akhirat, dan jika yang kita pilih adalah jalan ke-taqwa-an maka ia akan mengarah pada kebahagiaan abadi, yakni surga-Nya yang kekal.

Next Articel Ancaman Status Quo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *