Arah Gerak Perubahan – Kata-kata laayughoyiru maabiqaumin (tidak akan meng-ubah keadaan suatu kaum) menunjukkan tiga kandungan penting. Pertama, pada awalnya perubahan bergerak dari keadaan baik kepada keadaan buruk. Allah SWT menciptakan alam semesta dengan benar, baik dan seimbang. Tetapi sifat zalim dan bodoh (QS Al-Ahzab 33: 72) pada diri manusia telah menyebabkan kerusakan dalam sistem kehidupan manusia dan alam semesta (QS Ar-Rum 30: 41).

arah gerak perubahan

Kedua, kerusakan akan membawa bencana, ketika kerusakan itu sudah berskala kolektif. Dalam artian, ruang lingkup kerusakannya luas dan kerusakan dilakukan oleh kekuatan kolektif yang sistemik. Maka dalam keadaan ini, perbaikan tidak bisa dilakukan secara individu dan parsial, tetapi melalui pendekatan sistemik. Itulah sebabnya amar ma’ruf nahi munkar menjadi salah satu pokok ajaran Islam yang penting, temasuk amar ma’ruf nahi munkar terhadap penguasa. Ini dikenal dengan konsep Hisbah (sebagian kalangan meng-artikan kontrol publik) dalam Islam.

Ketiga, manusia –pada titik tertentu– bisa terjebak pada status quo. Yaitu merasa nyaman dengan suatu keadaan sehingga dinamika berubah menjadi jumud. Stagnasi (kebe-kuan) dalam arti matinya dorongan untuk terus menambah kebaikan secara berproses akan menggerogoti bangunan kebaikan yang ada. Akibatnya, proses pembusukan akan berlangsung dalam sebuah sistem yang ‘statik’ atau ‘jumud’. Pada tingkat ertentu, status quo sampai kepada  bentuk bahwa seseorang atau suatu masyarakat menikmati kondisi yang rusak atau tidak baik tersebut. Lihat QS Al-Baqarah: 72-74.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *