Ancaman Status Quo Seringkali kita melihat dan mendengar slogan “Change or Die” bertebaran di luar sana. Apa maknanya? Berubah atau mati. Berubah atau binasa. Sekilas nampak mengerikan. Yang tergambar mungkin sebuah kejam-nya persaingan di dunia. Jika tidak segera bergerak maka tunggulah saat-saat kematian. Seperti halnya seekor gazelle yang pada hari-harinya dituntut untuk terus berlari agar cheetah tidak mampu untuk menang-kapnya, sehingga selamatlah gazelle tersebut. Begitu seterusnya, terulang dari hari ke hari. Apakah benar sekejam itu?

Dunia ini memang persaingan, namun apakah benar seluruhnya merupakan persaingan ? Tidak adakah tempat untuk bisa bergerak atau berjalan bersama-sama bergandengan tangan? Jawabnya ada pada persepsi kita masing-masing dalam mengartikan suatu persaingan. Persaingan dapat bermakna positif jika penyikapan kita dalam konteks yang wajar. Islam mengajarkan agar senantiasa fastabiqul khairaat. Seorang mukmin diajarkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Untuk mencapai kebaikan yang dituju dapat pula dilakukan dengan sendirian dapat pula dengan bergandeng tangan. Tergantung bagaimana kita meng-hendakinya.

Slogan “change or die” menurut perspektif Islam dapat memiliki nilai kebenaran ketika seorang mukmin memaknai perubahan sebagai salah satu cara untuk keluar dari status quo. Islam sendiri mengajarkan untuk berhijrah. Hijrah dalam arti fisik dan dalam arti non fisik.

Status quo merupakan ancaman dari perubahan itu sendiri, bahayanya ketika terus berada pada safe zone orang akan semakin malas untuk berubah, karena perubahan itu membuat dirinya menghadapi berbagai ketidakmungkinan dan resiko. Secara fitrahwi manusia berusaha mencari rasa aman, dan keluar dari safe zone di satu sisi membuat manusia kehilangan rasa aman tersebut.

Keluar dari safe zone juga menghadapkan diri kita pada sebuah ketidakpastian. Keberanian atau kerelaan menghadapi ketidakpastian ini berbeda. Sebab itu gagasan perubahan seringkali mendapat perlawanan baik itu ketakutan yang muncul dari dalam diri kita atau dari orang-orang sekitar.

Menghadapi status quo berupa safe zone ini kita harus mengandalkan kejelasan visi. Yang dimkasud dengan visi disini adalah gambaran tentang masa depan yang lebih baik, lebih berhasil, aktraktif, namun realistik. Visi akan menunjukkan arah ke mana kita mesti melaju. Visi yang baik akan menumbuhkan inspirasi, menguatkan motivasi, menggugah dan menciptakan makna dan ketentraman bagi diri dan lingkungan.

Modal kedua yang harus ada adalah keberanian. Banyak orang punya visi, namun sedikit yang berani bertindak. Kita harus melihat program perubahan yang kita canangkan sebagai tantangan pribadi sekaligus pembuktian atas komitmen hidup kita. Agar menjadi realistik, rasa keberanian ini mutlak diwujudkan dalam sebuah perencanaan sistematik untuk mencapai keberhasilan jangka pendek. Seperti kata pepatah, semua hal besar dimulai dari satu langkah kecil. Maka, berhijrahlah! []

Next Article Membangun Kembali Manusia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *